Mbak Dwina Bintang Air memberikan komentar dengan menggunakan kata gombyor pada postingan saya sebelumnya. Beliau begitu nyaman jika menggunakan pakaian yang gombyor, walopun cuaca sangat panas.
Dulu saya pernah 'ditegur' seorang sahabat ketika sholat jamaah di masjid karena saya pake celana 'biasa'. "Pak, sebaiknya kalo sholat, kita pakai pakaian yang menutup bentuk [maaf] pantat kita. Pakai baju yang atas yang gombyor, ato paling tidak minimal pakai sarung. Itulah pakaian yang pantas untuk menghadap Sang Khalik". Itulah kurang lebih yang disampaikan ke saya tahun 90-an akhir. Saat itu, saya berpikir, halah soal pakaian saja kok sampe njlimet seperti itu, lha wong yang saya kenakan saja sudah pantas, bersih dan menutup aurat. Kok mikirnya sampai sejauh itu.
Dengan bertambahnya waktu dan terbukanya pemikiran, saya mulai mengiyakan apa yang disampaikannya. Ternyata, sholat dengan minimal menggunakan sarung, bahkan lebih bagus lagi jika dipadu dengan pakaian atas berupa gamis, semua memberikan kenyamanan selama menjalankan shalat. Duduk, sujud dan berdiri begitu gampang dan leluasa.
Memakai pakaian gamis ditempat saya sudah bukan hal yang eksklusif lagi, berapa jamaah sudah terbiasa menggunakannya. Berpakaian seperti ini, saya memandangnya dari segi kenyamanan dan lebih pantas. Apalagi jika kita gunakan sesuai dengan waktu dan kemanfaatannya. Ini untuk menepis anggapan, berpakaian seperti itu ingin diliat lebih alim ato istilah sejenisnya. Bahwa pakaian yang dikenakan seseorang tidak menggambarkan keimanan seseorang. Bahkan bisa jadi, dengan berpakaian seperti itu tujuannya bukan untuk kepantasan dan kenyamanan saja, tapi untuk riya', ini yang dikhawatirkan jika kita tidak siap menggunakan pakaian seperti itu. Kita tahu bahwa riya' termasuk kesombongan dan perbuatan syiri'. Naudzubillah.
Istri saya juga terbiasa menggunakan pakaian yang gombyor, termasuk jilbabnya. Memakainya juga nggak ribet, dan kalo keluar rumah juga nyaman walopun cuaca panas. Kekurang nyamanan para pengguna jilbab, kalo saya perhatikan karena mereka menggunakan jilbab yang ketat, jilbab yang sesuai dengan bentuk kepala atao yang sejenisnya. Memang dari segi modis sih sangat bagus, tapi dari segi kenyamanan apa yang bisa memberikan kelegaan rasa. Apalagi jika jilbab funky dan dipadu dengan pakaian dan celana yang ketat, apa yang memberikan rasa nyaman dalam beraktivitas. Lagian kalo berjilbab, tapi masih memamerkan bentuk tubuhnya, apa ya ini sudah benar menurut syar'i?.
Saya jadi ingat lontong. Makanan ini dibungkus dengan daun pisang dan padet. Kalo bungkusnya kita buka, maka bentuk dalamnya akan sama persis dengan yang kita lihat dari luar. Apakah akan seperti itu jika kita berpakaian ketat. Selain tidak nyaman, pakaian seperti lontong akan tetap membentuk tubuh yang bisa 'dilihat orang lain. Apakah sampean merasa nyaman jika orang lain memperhatikan tubuh kita ?. Jawabannya tentu akan kembali ke pribadi masing-masing. Apa tujuan utama dalam berpakaian. Ingin menutup aurat dengan baik dan benar, ato ingin mengikuti perkembangan mode, ato ingin berpenampilan untuk orang lain. entahlah setiap pribadi punya jawabannya sendiri-sendiri.
Kalo saya, pada waktu dan tempat tertentu juga menyukai pakaian gobyor, terutama pemakaian sarung. Ini mungkin karena kebiasaan saya sejak kecil yang terlahir dikampung yang orang-orangnya tidak bisa lepas dari penggunaan sarung. Dan tidak heran, saya punya 3 sarung yang digunakan untuk kepentingan berbeda. Satu khusus untuk sholat, walo kadang dipadu dengan baju gamis. Satu untuk santai, terutama sehabis mandi sore, jika tidak keluar rumah kebiasaan saya adalah menggunakan sarung.
dan sarung satunya, khusus untuk tidur.
Tahu kenapa ?
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
