Sabtu, 09 Oktober 2010

Manajemen Waktu Ibadah Harian Jamaah Haji di Tanah Suci

Bismillahirrohmanirrohiim.
Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh sodaraku semua,


Salah seorang teman menceritakan bagaimana beliau menyesal ketika menjalankan ibadah haji tidak maksimal, sehingga ketika pulang ke tanah air kesan yang dirasakan seperti sebuah perjalanan biasa. Ada banyak penyesalan, yang membulatkan tekadnya untuk berangkat lagi pada tahun 1427 H. Alhasil, ada banyak perbedaan antara perjalanan pertama dengan yang kedua. 

Pada perjalanan kedua, beliau bertekad menjalankan shalat 5 waktu secara berjamaah terus-menerus. Kebiasaan shaleh di tanah air benar-benar diterapkan di tanah suci. Perbuatan sia-sia dihindarkan jauh-jauh agar tidak timbul penyesalan kedua.



Waktu sangat Mahal
Waktu, merupakan sesuatu yang sangat berharga yang dianugerahkan Allah swt. Begerak maju, dan tidak akan pernah mundur sedetikpun. Waktu juga tidak akan bisa diulang dan akan meninggalkan seseorang yang melalaikannya. Olehkarenanya, ia bisa membawa seseorang menuju ruang kesuksesan dan juga bisa menjerumuskannya pada jurang penyesalan.

Ibadah haji reguler dengan rentang waktu kurang dari 40 hari, merupakan waktu yang sangat istimewa, karena tidak semua orang memperoleh kesempatan menjalankan panggilan Istimewa ini. Ibarat waktu adalah pedang, maka sangat perlu melakukan pengaturan waktu selama di Tanah Suci, agar kita bisa memanfaatkan waktu yang sangat singkat ini dengan mendulang banyak keshalihan.

Langkah awal adalah menetapkan niat yang ikhlas semata mencari ridha Allah . Ketika melakukan niat ihram di miqat, meneguhkan niat untuk menanggalkan semua pakaian duniawi, dengan mengganti pakaian ketaatan. Menanggalkan semua urusan dunia dan ikatan selain Allah.

Amirul Umar bin Al-khaththab berkata: Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda : "Bahwasanya semua amal perbuatan itu dengan disertai niat-niatnya dan bahwasanya bagi setiap orang itu apa yang telah menjadi niatnya. " (Muttafaq 'alaih - Bukhari dan Muslim).

Dengan niat yang suci semata mencari ridha Allah, maka calon jamaah haji akan menggunakan waktu semaksimal mungkin menjalankan semua rukun dan kewajiban haji dengan meningkatkan semua amalan-amalan keshalehan sebagaimana yang dicontohkan Baginda Rasulullah saw.


Mengatur Jadwal Harian
Pada awal kedatangan di tanah suci, tentunya memerlukan penyesuaian, karena perbedaan waktu, iklim, sosial budaya dan kondisi. Sangat perlu menyusun jadwal dengan baik yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan jamaah.

Beberapa hal yang bisa dipertimbangkan, untuk mendulang pahala di Masjidil Haram Mekah selama menjalankan ibadah harian:
  • Mengikuti shalat jamaah 5 waktu tanpa putus
  • Menjalankan macam-macam shalat sunnah sebagaimana yang dicontohkan Baginda Rasulullah saw
  • Tilawah Al Quran, mentadaburi
  • Mengikuti kajian-kajian di dalam Masjidil Haram, biasanya dilaksanakan di lantai 2
  • Melakukan thawaf sunnah setiap hari
  • Memperbanyak membaca buku-buku islami yang dibagikan secara gratis
  • Puasa sunnah
  • Memanjatkan doa ditempat-tempat mustajabah
Beberapa kebiasaan yang perlu dihindari agar waktu tidak terbang percuma;
  • Hari-hari lebih banyak berada di maktab (pemondokan), jarang berangkat ke Masjidil Haram
  • Terlalu banyak ngobrol yang kurang berguna
  • Banyak berbelanja, keluar masuk toko dan mall
  • Sibuk mencari makanan dan oleh-oleh, padahal barang di sana banyak kita temukan di tanah air
  • Ketika di dalam Masjidil Haram sibuk dengan HP, entah SMS, telepon atau entahlah sejenisnya
Gambaran jadwal Harian di Mekkah
Tentunya jadwal ini hanyalah sebuah gambaran, yang bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan setiap individu
  • Bangun tidur jam 01.00 SAR (Waktu Mekkah) pagi, mandi, makanan mie atau minum sereal, untuk kebutuhan energi
  • Selanjutnya berangkat menuju Masjidil Haram dengan jalan kaki atau naik angkutan umum 1 Riyal.
  • Sampai Masjidil Haram langung melakukan thawaf sebagai ganti Tahayitul Masjid. Thawaf rata-rata 30 menit, jika jamaah padat, bisa mencapai satu jam.
  • Istirahat sebentar kemudian melaksanakan Qiyamulail Shalat Tahajjud dan Witir. yang dilanjutkan tilawah Qur’an.
  • adzan pertama sekitar pukul 04.45 SAR, berarti sekitar 1 jam berikutnya shalat subuh dilaksanakan.
  • Pukul 05.45 adzan kedua, kemudian melaksanakan shalat rowatib 2 rokaat. dilanjutkan Shalat subuh sekitar 30 menit, karena panjangnya bacaan surah . Padahal di tanah air, shalat berjamaah paling lama 10 menit.
  • Selesai shalat subuh bisa istirahat di dalam lantai dasar Masjidil Haram, Disana banyak jamaah yang tidur untuk menunggu waktu dhuha sekitar jam 8 pagi. Jika kondisi badan sehat bisa melanjutkan tilawah. Setelah melaksanakan shalat Dluha, pulang ke pemondokan.
  • Pulang ke pemondokan sambil mencari lauk pauk, atau bisa membeli sarapan sebelah kanan pintu Marwah. Sebungkus nasi Indonesia 1 riyal sudah cukup untuk mengganjal perut.
  • Sampai di pemondokan dilanjutkan masak, makan dan mencuci pakaian, kemudian tidur, usahakan tidak melakukan aktivitas kurang bermanfaat seperti ngobrol. Insya Allah dengan tidur jauh lebih bermanfaat.
  • Pukul 11.00 persiapan shalat dhuhur, bisa dilakukan di masjid sekitar pemondokan ataupun lebih baik pergi ke Masjidil Haram untuk berjamaah. Apabila di Masjid sekitar maktab, selanjutnya makan siang kemudian istirahat lagi.
  • Pukul 14.00 persiapan berangkat menuju Masjidil Haram, untuk melakukan rangkaian ibadah sampai Isya.
  • Tiba di Masjidil Haram persiapan shalat Asar. jika kondisi badan sehat bisa melakukan Thawaf sunnah, atau bisa melakukan Tilawah Qur’an.
  • Sekitar pukul 17.56 Adzan maghrib. Selesai shalat maghrib dilanjutkan Tilawah Quran, atau dzikir. Sampai tiba waktu shalat Isya
  • Selesai shalat 2 rokaat rowatib setelah shalat isya, persiapan pulang menuju pemondokan. Sampai pemondokan sekitar pukul 21.00 SAR
  • di pemondokan makan malam, selanjutnya lebih baik langsung istirahat tidur untuk mengembalikan kondisi tubuh agar tetap fit.
  • Bangun pukul 01.00 SAR untuk mengulangi rutinitas di atas.
  • Apabila hendak melakukan umroh sunnah dari miqot Tan’im, biasanya rombongan berangkat pukul 00.00 SAR. Sedangkan umroh sunnah dari miqot Ji’ronah dan hudaibiah, biasanya rombongan berangkat setelah shalat subuh.
Mengatur Waktu Selama di Madinah
Selama di Madinah, lebih banyak waktu jika dibandingkan dengan selama di Mekkah, karena: 
  1. Selama di Madinah, kebutuhan makan jamaah sudah ditanggung dan disediakan pihak hotel, sehingga kesempatan untuk mendulang pahala di dalam Masjid lebih banyak.
  2. Oleh karena Masjid Nabawi di buka sampai pukul 22.00 SAR dan dibuka kembali pukul 02.00 SAR, maka jamaah memiliki waktu untuk istirahat cukup banyak di hotel.
  3. Kebanyakan jamaah di Masjid Nabawi selalu mengikuti jamaah shalat 5 waktu karena mengejar 40 waktu yang dikenal dengan arbain.
Dengan menjalankan kegiatan-kegiatan di atas secara sungguh-sungguh dan istiqamah, justru Insya Allah kita akan merasa kekurangan waktu di Tanah suci. Dengan demikian tidak ada waktu untuk santai, ngobrol, jalan-jalan, sibuk dengan HP dan sejenisnya.



Jamaah yang memperoleh keberuntungan atau kerugiaan sesungguhnya dapat dinilai dari bagaimana dirinya memanfaatkan waktu yang begitu singkat ini. Orang yang bisa memanfaatkan waktu yang amat singkat dengan memperbanyak kebaikan, memenuhi misi hidupnya yang sangat mulia, mengerti posisi dirinya sebagai abdi Tuhan, dia akan menjadi orang yang beruntung. 


Pada Akhirnya, pulang ke tanah air dengan membawa kemabruran, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut:
Abu Hurairah r.a. berkata, "Nabi ditanya, 'Amal apakah yang lebih utama?' Beliau bersabda, 'Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Berjuang di jalan Allah.' Ditanyakan, 'Kemudian apa?' Beliau bersabda, 'Haji yang mabrur.'"

Aisyah Ummul Mukminin r.a. berkata, "Wahai Rasulullah, kami melihat bahwa jihad (berperang) itu seutama-utama amal, apakah kami tidak perlu berjihad?" Nabi saw. bersabda, 'Tidak, bagi kalian jihad yang paling utama adalah haji mabrur."

Abu Hurairah r.a. berkata, "Saya mendengar Nabi bersabda, 'Barangsiapa yang haji (ke Baitullah karena Allah, ia tidak berkata porno dan tidak fasik (melanggar batas-batas syara'), maka ia pulang seperti hari ketika dilahirkan oleh ibunya.'"

***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab,
semoga bermanfaat
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

24 comments:

  1. Info bagus...jadi inget bokap dulu pas pergi Haji sekitar tahun 2006...di sela 2 itu, di tanah Arab bokap susah di cari, ternyata ngeloyor ke toko2 buat cari baju buat oleh2 di rumah katanya...hehehe..(padahal aku mikir, dia sibuk mikir buat ngisi tokonya,...belanjanya ngebut...)....ya pada intinya, ibadah di utamakan, perihal mau shoping atau apa setelah urusan resmi untuk Allah selesai.....salam Habib..

    BalasHapus
  2. Sugeng ndalu pak,..Pripun kabare? info yg bermanfaat pak,dan ini memang perlu di terapkan bagi para jemaah haji..

    BalasHapus
  3. Info yang menarik lagi pak... jadi keingat cerita waktu abah n emak balik haji tahun 2004 dahulu....

    hmmm.. wah, sekarang disuguhi music juga... jadi tambah betah lama-lama di sini sambil nunggu teh hangatnya keluar..hehehe

    BalasHapus
  4. Kang Adit Belantara Indonesia:
    - Bokap berangkat 2006 berarti pas kasus kelaparan di Arafah ya Kang.
    - ngeborong barang n oleh-oleh untuk ingi toko, bisa carter pesawat sendiri wkwkwk,

    Tip Trik Blogger:
    Makasih kunjungan malamnya, ane sudah meluncur ke Purwodadi tadi.

    Kang WONG SIKAMPUH:
    sugeng dalu juga, kabar sae. tetep semangat ya di negeri jiran

    Ning Nyayu Amibae:
    -ingat kampung halaman di Palembang?
    - musik untuk semangat amie, ayo pasang aja di rumahnya

    BalasHapus
  5. kebayang deh kacaunya kalo ga ada manajemen waktu...:)
    met pagi mas...:)

    BalasHapus
  6. semoga aku menjalankan suatu saat nanti Abah.
    Postingan apa yang hilang abah.
    ada kok postingannya.

    BalasHapus
  7. pengaLamannya bisa dijadikan sebagai referensi nanti kaLau suatu saat sudah dipanggiL menuju kesana, trims.

    BalasHapus
  8. Pelajaran yang berharga mas. Ga hanya diterapkan pada saat di tanah suci melainkan berlanjut saat pulang ke tanah air. Bahkan diaplikasikan juga ke dalam aktivitas sehari-hari ( baik yang sudah ataupun belum ke tanah suci ). Jangan sampai kita menyesal dengan waktu yang telah kita sia-siakan :)

    BalasHapus
  9. wahh lengkap banget
    memang kudu dipersiapkan jdwal dengan baik
    supaya niat beribadah kita disana terlaksana
    dan waktu tidak terbuang sia2

    BalasHapus
  10. Memanfaatkan waktu memang harus kita lakukan...terlebih lagi diwaktu yang tepat seperti beribadah haji....jangan sampai waktu untuk beribadah lebih sedikit dibandingkan waktu untuk shoping atau ngobrol ngaler ngidul...

    BalasHapus
  11. Mbak windflowers:
    Semua serba semrawut dan target banyak yang hilang.

    Cak Tomo:
    - Amiin Insya Allah bisa Cak
    - jangan panggil gitu ah kayak wong sepuh aja

    Om rame:
    Wah lama Um ndak kemari, trims kunjungannya

    Ning Nilla - AkuInginPulangDiKalaSenja :
    Penyesalan hanya menambah masalah, tul khan?

    Ning chikarei:
    bener agar menjadi lebih bermakna

    Kang ChugyGogog:
    bener Kang, semakin ngaler ngidul, semakin menjauhkan kita dari kekhusyukan

    BalasHapus
  12. matur nuwun da diingatkan.
    Setiap niat harus dibarengi ilmu nggeh Bah biar tidak sia-sia.

    Semoga keluarga, saudara, sahabat kita yang lagi berhaji tak menyia-nyiakan kesempatan indah ini karena kita tak pernah tau apa Allah kasih kita kesempatan berkunjung lg.
    Mohon do'anya agar saya bisa sampai ke Baitullah dan singgah di rumah sdr muzdalifah hehe...

    BalasHapus
  13. @Ning Muza Elbanaf:
    Insya Allah tentang muzdalifa menyusul

    BalasHapus
  14. makasih banyak, sangat detail penjabarannya.
    ijin save ya...

    BalasHapus
  15. Sugeng dalu Abah...
    Oh ya saya dan kang Tomo memang sering cerita dan kagum sama Panjenengan. Itu makanya saya dan mungkin akhirnya Kang Tomo ikutan panggil Abah bukan berarti dituakan karena "usia" namun lebih kepada kelebihan "ilmu Agama".

    Mohon maaf saya lebih sreg dengan sebutan Abah, sepertinya sudah ndak bisa dirubah. Mboten menopo to Bah...?

    BalasHapus
  16. @Ning Narti:
    silahkan di save, semoga bermanfaat

    Ning Muza Elbanaf:
    itu sangat berlebihan, kita sedang dalam taraf belajar, ilmu kita sangat ... sangat dangkalll
    yang terpenting kita bisa menjalin silaturrahim

    BalasHapus
  17. asswrwb...amin..ats smua doánya pd sy...trms ya Pak.., hmm, ak pgn bgt bs dpt panggilan haji brgkt bareng misua saat usia kami msh muda n fit,...amin..,huaahh senengnya..itu slh satu cita2 sy.mg2 bs terwujud..amin.bnr skl waktu ibarat ibarat pedang..meaningful.

    BalasHapus
  18. pengetahuan yang sangat berharga, terimakasih Pak. mungkin suatu waktu saya memerlukannya..

    BalasHapus
  19. smoga bisa pergi haji ...dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar tidak sia sia

    BalasHapus
  20. Met pagi kang>> wah maaf aku baru bisa berkunjung hhe.....

    tanggapan: aku setuju Kang.. waktu emank gak boleh disia2kan apa lagi untuk waktu Pergi Haji... bener katamu kang jgn sampe disana hanya tidur dan ngobrol dan pulang ke Indonesia hanya dengan penambahan embel2 Haji atau Hajjah tapi dihati gak ada kepuasan dan tetep sama aja

    suwun tipsnya Kang.... aku arep moco seng sebelum'e dsik hhe...

    Semangat n happy blogging,.,,

    BalasHapus
  21. huaaaaa ini salah satu mimpi aku, heheee makasih ya sharenya ☺

    BalasHapus
  22. Met pagi kang>> wah maaf aku baru bisa berkunjung hhe.....

    tanggapan: aku setuju Kang.. waktu emank gak boleh disia2kan apa lagi untuk waktu Pergi Haji... bener katamu kang jgn sampe disana hanya tidur dan ngobrol dan pulang ke Indonesia hanya dengan penambahan embel2 Haji atau Hajjah tapi dihati gak ada kepuasan dan tetep sama aja

    suwun tipsnya Kang.... aku arep moco seng sebelum'e dsik hhe...

    Semangat n happy blogging,.,,

    BalasHapus
  23. Info yang menarik lagi pak... jadi keingat cerita waktu abah n emak balik haji tahun 2004 dahulu....

    hmmm.. wah, sekarang disuguhi music juga... jadi tambah betah lama-lama di sini sambil nunggu teh hangatnya keluar..hehehe

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan