Jumat, 14 Januari 2011

Ketika Seorang Ibu Sangat Marah

Kamis sore kemarin, dua anak  perempuan kelas IV SD terpaksa harus saya "ceramahi" panjang kali lebar, karena telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan anak seusianya, yaitu mengutil
  
Tas kedua anak ini dengan diam-diam telah diisi aneka barang, mulai dari keperluan sekolah dan mainan. Keduanya tidak menyadari kalau saya memperhatikan dari ruang lain melalui monitor CCTV. Saya tidak menjelaskan bagaimana dua bocah ini melakukan proses pengutilan yang boleh dibilang rapi dan tidak kentara, dan bagaimana saya menangkap keduanya. Bagaimana cara menangkap pengutil sudah pernah saya posting.


Setelah melakukan pendekatan dengan cara yang "diterima" keduanya, saya akhirnya mengantarkan keduanya pulang ke rumah masing-masing. Tujuan saya semata bukan untuk menghakimi keluarganya, tetapi memberikan penjelasan kepada kedua orang tuanya apa yang dilakukan keduanya di luar rumah. dan yang terpenting adalah agar ada sebuah hasil perubahan ke arah yang lebih baik, karena perjalanan kedua bocah ini masih jauh. Saya tidak ingin kedua bocah ini terjerumus pada kebiasaan seperti ini. karena bagaimanapun akan membentuk kepribadiannya di ketika dewasa.


Awalnya, saya dibawa ke alamat yang justru menjauh dari rumahnya, maklum keduanya nampak ketakutan. Muter-muter ndak tentu arah, akhirnya kendaraan saya hentikan dan saya pura mengambil hp dan ngomong akan menelpon polisi jika tidak terus terang. Tangis keduanya pun pecah, kaki saya dirangkulnya minta ampun. Padahal saya hanya menggertak karena mulai jengkel. Merasa agak di atas angin, saya ngomong lagi


          "Nah kalo sampean manut (nurut), saya tidak akan lapor polisi. Kamu berani dibawa ke kantor polisi?, bagaimana kalo kamu di penjara, sekolahmu pasti berantakan"

          "Jangan Om, saya takut Polisi" rengek si A           "saya takut digebuki ibu" timpal si B menyahut.

        "Oke, kalo gitu, tunjukkan rumahmu, nanti Om akan ngomong sama orang tuamu agar tidak disakiti" saya menyakinkan dan kedua anak inipun menganggukkan kepala. Dan benar, ternyata rumahnya justru ke arah lain sehingga kamipun kembali ke arah semula.


Ketika mendekati sebuah rumah yang menurut saya cukup besar, di halamannya pun terparkir mobil Pick Up menandakan anak ini berasal dari golongan yang mampu. nah loh. Ketika saya hendak memarkir, ada seorang ibu di beranda rumah serius mengamati kedatangan saya dan nampak wajah gusar melihat kedua bocah itu turun dari kendaraan.

          "Ada apa nduk .... ada apa nduk .. kena apa kowe ..." bergegas si Ibu itu mendekati kami dengan mencecar pertanyaan pada anaknya dengan penuh khawatir. Sementara si anak langsung menggellyut dtipangkuan ibunya sambil menangis, tanpa menjawab pertanyaa orang tuanya.
           "Assalamu'alaikum Bu" dengan senyum aku menyapa
           "Wa'alaikum salam Pak, kenapa anak saya pak..." 
           "Boleh saya masuk ke rumah, bu?"
           "Monggo, silahkan" terburu-buru si ibu

 Saya sulit untuk memulai kata,
           "Begini bu, kedua anak ini tadi menginginkan barang di rumah saya dan dimasukkan ke dalam tasnya tanpa memberitahukan pada kasir" aku jelaskan sambil menunjukkan barang-barang yang diambilnya.
dan,...

tanpa ba bi bu ... si Ibu naik pitam, anak yang dipangku itu langsung mendapatkan gampar, tempeleng, di cethol bertubi-tubi (cubitan dengan keras), sambil mengeluarkan aneka bentuk kata-kata kemarahan. 

           "kurang apa kamu to ndukkkk, semua Ibu penuhi dengan baik, kok seperti ini balasanmu pada orang tua ... bla ... bla .... bla ....Si anak semakin keras tangisnya. 


Secara refleks saya memegang tangan si Ibu dan mencegahnya agar tidak menyakiti si anak secara fisik.

           "sudah bu, tidak usah dipukul anaknya, kejadian ini sudah membuatnya kapok. tidak usah ditambahi beban si anak" aku berusaha meredam kemarahannya. sampai pada akhirnya, si anak saya ambil dan saya suruh masuk ke belakang.


Mendengar keributan, beberapa tetangga berdatangan. Akhirnya saya menjelaskan tujuan saya mengantarkan kedua anak ini, bahwa semua ini saya tidak bertujuan untuk mempermalukan keluarga ini. Tujuan saya adalah agar ke depannya anak bisa di awasi kegiatannya ketika di luar rumah. Saya jelaskan, semua belum terlambat dan masih ada banyak kesempatan kedua anak ini untuk menjadi lebih baik


Ketika keadaan sudah kondusif, keluarga meminta maaf atas kejadian ini dan menyampaikan terima kasih karena tidak membawa anaknya ke kantor Polisi. dan akhirnya saya pulang


Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa membesarkan anak membutuhkan pengawasan dengan kasih sayang. Karena anak sangat membutuhkan sebuah kehangatan kasih sayang orang tua. Pengawasan, kehangatan kasih sayang dan terpenting lagi adalah do'a orang tua, Insya Allah adalah bahan baku dalam membangun karakter anak menuju masa depan anak sesuai yang diharapakn bersama.


Harta tidak menjamin pemenuhan kebutuhan anak. dan terpenting, menyelesaikan masalah tidak usah dengan emosi, karena emosi dan kemarahan seringkali justru menyeret psikologi anak ke arah negatif, apalagi jika itu adalah kemarahan seorang Ibu. 
"Semoga kita selalu dimudahkan dalam segala urusan dunia maupun akherat  
Wallahu a`lam bish-shawab,
 semoga bermanfaat 
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

29 comments:

  1. Pak Is, saya sendiri selama ini mencoba medisiplinkan (bukan menghukum)anak adalah perjuangan panjang. Ibu mesti konsisten, tegas, dan tidak ada tawar menawar. Tidak menyakiti secara fisik, tapi anak sampai harus mampu mengatakan minta maaf.

    Sangat setuju dengan didiklah anak dengan kasih sayang...

    BalasHapus
  2. Kurangnya pengawasan terhadap anak seringkali membuat orang tua tidak tahu banyak perkembangan anak diluar rumah, dan seringkali pula emosi akan timbul saat mengetahui perilaku sang anak sangat berbeda antara saat berada dirumah dengan saat berada diluar rumah...

    BalasHapus
  3. Asswrwb...huhu..tambah 1 lagi nih PRku, mendidik anak pnh pengawasan tp tetep dg sentuhan kasih sayang..hehhee. Alhamdulillah putri2ku lucu2, pinter2, meski agk bandel..hehe, tp msh batas wajarlah..gak beda jauh sm ibunya dl..hihi..sugeng enjing Kang..permisi mau anter si kcl sklh dl..monggo..

    BalasHapus
  4. @Ami:
    bener sekali bahwa proses mendidik membutuhkan waktu yang tidak singkat, pendekatan kasih sayang dan kedisiplinan yang sewajarnya sehingga terjadi keseimbangan yang bisa diterima anak.

    bahwa dengan semakin matangnya orang tua yang dibarengi dengan keimanan, maka Insya Allah mendampingi anak penuh dengan ketentraman

    @ Noor's blog (inside of me ):
    itulah yang seringkali membutuhkan kesabaran tersendiri, ketika perilaku anak di rumah sesuai dengan harapan orang tua, tetapi ketika sudah berada di luar ternyta berbeda

    @Ning Tiwi:
    'alaikumussalam wr wb, hhh PR yang harus dikerjakan dengan telaten, sebab kalo dikerjakan tergesa-gesa entar ndak selesai.
    Semoga keluarga Njenengan selalu dalam kemudahan, sakinan mawaddah warrahmah

    @richarie :
    pengalaman menyehatkan hhhh

    BalasHapus
  5. ingatlah bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, jangan pernah membuatnya marah :(

    BalasHapus
  6. @Majalah Masjid Kita:
    setuju, surga di bawah telapak kaki ibu, maka jangan sekali-kali berkata hush apalagi menyakiti hatinya. Namun demikian, sebagai ibu juga harus bisa menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya terutama bagaimana bersikap dan menghadapi setiap masalah dengan lapang dada

    BalasHapus
  7. Assalamualaikum pakies...

    Wah.. pengalaman hidup lagi ini...

    Dulu, waktu masih pendampingan di desa aku juga dekat dengan anak2, awalnya ya gitu.. mereka bandel dan aseli nakal2 banget... dengan ortu melawan, tidak tau bagaimana sholat dan sebagainya.

    Setelah agak lama aku dekati, ternyata kesalahan memang tidak sepenuhnya ada pada anak, terkadang mereka seperti kata pakies, kurang adanya perhatian dari ortu...

    mau salahin sepenuhnya ortu jg tidak bisa, karena mereka disibukkan untuk urusan perekonomian keluarga,

    hmm... dilema... yang menjadi PR kita bersama...

    BalasHapus
  8. Assalamu alaikum kangmas, paling nggreges kata 'nduk' , berarti cewe, ckckck duh gusti moga tak ada lagi hal spt ini. amiin.
    wuits.. Ada angin leysus, kepareng rumiyin, -turun dari pohon- kabuur

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum Abah....
    Hadir lagi disini.., maap telat hehe..

    Memang pengawasan di luar rumah terutama ortu mesti tau siapa kawan anak-2 mereka, karena kebanyakan justru terjerumus ke hal-hal negatif itu bukan dari orang jauh tapi dari kawan sendiri.

    Dulu saat kecil saya juga sempat protes kenapa ortu selalu tanya siapa teman/karib saya dan terkadang tidak boleh bergaul karena alasan tertentu. Gak terima juga tapi lama-lama mengerti akibat ke depannya, akhirnya manut saja.

    BalasHapus
  10. @Nyayu Amibae:
    waalaikumussalam,
    perkembangan anak memang menjadi tanggungjawab orang tua termasuk juga orang-orang terdekatnya. karena lingkungan akan mempengarui\hi pembentukan pribadi anak.
    Bersyukurlah Ami bisa berinteraksi dengan orang-orang curup dan membangkitkan semangat dengan menebar kebaikan

    BalasHapus
  11. @Kang Jiox:
    iya Kang rasanya saru mendengar kata cewek melakukan perbuatan yang tidak seharusnya. semoga yang bersangkutan diberikan kebaikan ke depannya

    BalasHapus
  12. pelajaran yg berharga..

    salam sy

    kbr melegakan tlh dirilis http://pedulisausan.blogspot.com/ tetap mhon do'anya

    BalasHapus
  13. Kadangkala org tua mendidik anak tidak cermat dan tidak tepat sehingga bikin anak trauma...
    mendidik dgn menakuti bukan meneladani dengan hati akhirnya buat anak malah smakin menjadi2...

    Semoga kisahnya kang menjadi inspirasi kita semua...terutama calon bapak kayak saya...hehehe

    BalasHapus
  14. Assalamualaikum wr wb.... memang mendidik anak itu sangatlah berat sekali dalam kehidupan sehari-hari, namun semua itu bila didasari oleh keuletan, kesabaran dari awal anak itu lahir dan juga dengan diiringi doa, Insya Allah kita akan diberikan tuntunan dan bimbingan oleh Allah SWT.... bukan begitu ya Pak Is.

    Ibadah seorang Ibu adalah modal bagi lahirnya anak-anak yang shaleh yang akan menjadi benteng bagi Bapak Ibunya kelak di akhirat.

    banyak anak yang berkelakuan tidak baik yang sebenarnya adalah korban dari ketidakbijaksanaan orang tuanya dalam mendidik anak2nya sendiri

    trims atas ceritanya, smg sukses selalu n tetap semangat

    BalasHapus
  15. @Ning iffa hoet :
    Waalaikumussalam,
    Insya Allah harapan setiap orang tua adalah hal yang terbaik untuk anak-anaknya, walaupun terkadang kurang dipahami dengan baik oleh anak dan akan terasa kalo kita sudah dewasa

    BalasHapus
  16. @Mbak mey:
    setiap kejadian selalu ada hikmah

    @Kang Adi Akmal :
    setuju Kang, mendidik dengan memberikan teladan yang baik Insya Allah akan dimudahkan

    @Pak Harto :
    Wa'alaikumussalam wr wb Pak, saya setju dengan penjelasan panjengan karena semua berupa kesimpulan bagaimana mendidik adanak dengan sabar, keteladanan dan do'a. dan sebenarnya antara orang tua dan anak ada semacam lingkaran yang saling mempengaruhi, benar bahwa mendidik anak sebenarnya dimulai dari kandungan ibu

    BalasHapus
  17. Kenapa ya mereka harus ngutil segala? Apalagi mereka berasal dari keluarga yg cukup mampu?
    Semoga saja mereka tak lagi mengulangi perbuatan spt itu lagi.

    BalasHapus
  18. emosi dan kemarahan seringkali justru menyeret psikologi anak ke arah negatif, apalagi jika itu adalah kemarahan seorang Ibu ---> aku bener2 merinding membacanya, mas. Ngeri membayangkan kesalahan2 yg tak sengaja aku lakukan pada anakku. Semoga saja Allah selalu membimbingku. Amin.

    BalasHapus
  19. Anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang lebih cenderung akan terlibat kenalan remaja ....
    kasih sayang dan dukungan moril sangat mereka butuhkan ....

    BalasHapus
  20. kalo saya ga cuma ibuk, saya paling ga bisa liat semua orang marah..apalagi karena saya..:(

    BalasHapus
  21. assalamualaikum.... kunjungan pertama
    anak-anak memang masih harus di arahkan, sehingga jauh dari masalah kelak...

    BalasHapus
  22. sebuah renungan, tuk para orang tua agar lebih memberikan kasih sayang ketimbang harta.

    BalasHapus
  23. kayaknya jiwa gurunya masih ada nih pak Ies, semoga anak itu melakukan hal tersebut yang pertama dan terakhir

    BalasHapus
  24. sebelum terlambat perlu perhatian khusus buat anak itu.., orang tuanya sibuk di kantor anak2nhya gak dapat perhatian..yg perhatian malahan pembantunya....jiaaaah jadi anak pembantu donkk..!

    sesibuk apapun orang tua tetap harus ada waktu untuk berkumpul dlm kebersamaan.

    BalasHapus
  25. Saya menggarisi satu permasalahan di atas yaitu emosi. Di sadar atau tidak emosi kadang mencecangkram erat dalam diri kita. Selebihnya orang tua dalm cerita mas, mungkin sang anak hanya pelampiasan dari emosi yang mungkin diam-diam ada di dalam diri orang tua tersebut.

    Saya rasa jika emosi bisa di management dengan tepat maka orang dewasa kan bisa menyelesaikan masalah selayaknya orang dewasa.

    Itu menurut saya. seeep makasih mas sharenya yap! salam kenal dan damai selalu

    BalasHapus
  26. OOT Habib: artikel ku tadi saat ku buka ulang di weblog lamaku, menyentuh, kala itu aku jauh dari Allah Ta'alla rasanya...Terima aksih habib, semoga doa2 selama ini Allah Swt yang mendengar dengan upah pahalaNya..

    BalasHapus
  27. pengutilan yang rapi?
    kayaknya emang anak sekarang cerdas2 :D

    BalasHapus
  28. sebelum terlambat perlu perhatian khusus buat anak itu.., orang tuanya sibuk di kantor anak2nhya gak dapat perhatian..yg perhatian malahan pembantunya....jiaaaah jadi anak pembantu donkk..!

    sesibuk apapun orang tua tetap harus ada waktu untuk berkumpul dlm kebersamaan.

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan