Minggu, 09 Januari 2011

Mencari Peluang

Kemarin malam, saya membesuk salah satu sodara yang di rawat di Rumah Sakit Trenggalek. Karena ngantuk berat, saya mencari warung kopi di depan rumah sakit,.Pesanan kopi mengepul sudah terhidang, sementara di meja ada camilan tahu petis goreng kesukaan. Gerimis hujan sejak sore menambah kenikmatan menyantap hidangan di warung trotoar depan rumah sakit. Hanya saja, yang ada yang kurang. Cabai. di meja sama sekali tidak ada. padahal, biasanya kalo tahu hangat ketemu petis, pasti musuhnya lebih dari satu cabe masuk ke dalam sistem pencernaan.

gambar dari Iptek.net.id
Gonjang-ganjing kenaikan Cabai merambah banyak sektor, mulai uleg-uleg di dapaur sampai Pengambil Kebijakan negeri ini. Media elektronik, cetak termasuk sahabat-sahabat blogger menuliskan postingan tentang Cabai [tentunya saya salah satunya]. Bahkan melangitnya harga cabai berdampak pula terhadap tindak kriminal. Pencurian cabai di lahan sawah menjadi hal yang patut diwaspadai para petani. Pemilik lahan harus menjadi lebih ekstra dari orang-orang yang pandai memanfaatkan situasi.

Belum 6 bulan, tepatnya juli 2010 saat itu harga cabai juga menembus angka penjualan di atas Rp 50.000. Kenapa saya tahu ? karena waktu itu saya juga membuat postingan tentang kenaikan cabai, Bakso tanpa sss. Lagi-lagi yang menjadi biang keladi kenaikan cabai adalah faktor cuaca yang menyebabkan banyak petani gagal panen. Tentu saja, walaupun harga cabai melangit, keuntungan tetap saja tidak memihak petani. Mau untung gimana, lha wong panennya gagal. Hanya petani yang  bisa survive yang bisa merasakan dampak ini.

Berita yang saya dengar dari TV, dengan kondisi semacam ini banyak petani yang mulai ramai-ramai menanam cabai. tentu saja dengan harapan bisa mendapatkan moment yang sangat baik ketika harga melonjak. 

Trus bagaimana kalo beberapa bulan ke depan semua petani cabai berhasil mendapatkan panenan melimpah?. Hukum pasar akan berbicara, jika pasokan melimpah jauh melebihi kebutuhan pasar, tentu saja harga cabai menjadi anjlok. Apa ndak bikin puyeng para petani. Bisa dibayangkan berapa ongkos yang telah dikeluarkan untuk pengerjaan, dan pemeliharaan sampai panen dihasilkan.

Terpikir dalam benak saya, ketika harga cabai turun dan stok cabai melimpah adalah, membuat cabai kering giling yang dikemas menjadi semacam home industri. Bahkan kalo perlu diolah menjadi semacam abon yang bisa dicampur dengan bumbu-bumbu tradisional, dan siap dikosumsi secara langsung  ataupun dibuat olahan campuran dengan masakan lainnya. Tentu saja awalnya dibuat secara manual dalam jumlah sedikit. siapa tahu kelak menjadi jalan kita menuju sukses.

Bagaimana cara membuat cabai giling, di bawah ini saya sertakan artikel dari Sentra Informasi IPTEK.

Silahkan dibaca :

 

CABE GILING DALAM KEMASAN

  1. PENDAHULUAN Cabe giling adalah hasil penggilingan cabe segar, dengan atau tanpa bahan pengawet. Umumnya cabe giling diberi garam sampai konsentrasi 20 %, bahkan ada mencapai 30%. Selain garam, sering ditambahkan asam atau natrium benzoat sebagai pengawet.
    Saat ini umumnya cabe giling dipasarkan secara curah tanpa kemasan. Cabe giling dapat dikemas dengan cara sederhana. Cabe yang telah dikemas lebih higienis dan umur simpannya lebih panjang.
  2. BAHAN

    1. Buah cabe yang matang dan merah merata.
    2. Kalsium metabisulfit atau Natrium bisulfit. Bahan ini digunakan untuk menginaktivasi enzim yang dapat menyebabkan reaksi pencoklatan.
    3. Garam.
    4. Asam atau natrium benzoat. Bahan ini digunakan sebagai pengawet sehingga bahan tidak mudah dirusak oleh mikroba.
  3. PERALATAN
    1. Penggiling. Alat ini digunakan untuk menggiling cabe sampai halus. Alat penggiling yang biasanya digunakan adalah penggiling tipe cakram. Untuk usaha kecil, penggilingan cabe bisa dilakukan secara manual dengan menggunakan batu gilingan cabe yang biasa terdapat di rumahtangga.
    2. Panci. Alat ini digunakan untuk blanching (merendam cabe di dalam larutan bisulfit panas).
    3. Injektor pasta. Alat ini digunakan untuk memasukkan (menginjeksikan) pasta cabe giling ke dalam kantong plastik, atau botol kaca.
    4. Kantong plastik. Kantong plastik digunakan sebagai kemasan untuk mengemas cabe giling secara tidak aseptis.
    5. Penutup botol. Penutup botol digunakan untuk memasangkan tutup botol dari kaleng ke mulut botol secara rapat.
    6. Botol kaca bermulut lebar dengan penutup ulir. Botol kaca ini digunakan sebagai kemasan untuk mengemas cabe giling secara aseptis.
    7. Wadah pemasak cabe giling. Wadah ini harus terbuat dari bahan tahan karat, bagian dalamnya licin dan mudah dibersihkan.
    8. Kompor. Alat ini digunakan untuk memasak saos.
    9. Tungku. Tungku hemat energi dapat dijadikan alternatif, tetapi tungku ini banyak menghasilkan jelaga dan panasnya lebih sulit diatur.
    10. Timbangan. Alat ini digunakan untuk menakar berat bahan. Kapasitas timbangan disesuaikan dengan jumlah bahan yang diolah.
    11. Retort. Alat ini digunakan untuk sterilisasi cabe di dalam kemasan botol.
    12. Segel plastik. Segel plastik adalah kantong plastik yang kedua ujungnya terbuka yang dapat menempel secara rapat sekali pada mulut botol yang telah dipasang tutupnya. Plastik ini berfungsi sebagai segel.
  4. CARA PEMBUATAN
    1. Persiapan
      1. Pembuangan tangkai dan pencucian. Cabe dibuang tangkainya. Bagian yang rusak dan busuk dibuang. Setelah itu cabe dicuci sampai bersih dan ditiriskan.
      2. Blanching. Cabe di-blanching seperti blanching untuk pembuatan cabe kering.
    2. Pengolahan Cabe Giling Kemasan Plastik
      1. Penggilingan. Cabe digiling sampai halus. Pada saat penggilingan ditambahkan asam atau natrium benzoat 1 gram, garam 100 gram dan asam sitrat 5 gram untuk setiap 1 kg cabe.
      2. Pemanasan. Cabe yang telah digiling dipanaskan di dalam wajan sambil diaduk-aduk sampai suhu mendekati 100 0 C selama 15 menit. Selama pemanasan, api diatur tidak terlalu besar untuk mencegah gosongnya bagian cabe yang bersentuhan dengan permukaan wajan. Cabe yang telah dipanaskan didinginkan sampai suhunya mencapai 60 °C.
      3. Pengemasan
        • Dua buah kantong plastik polietilen tebal dijadikan satu sehingga berupa sebuah kantong rangkap dua. Label kemasan diselipkan di antara kedua rangkap kantong plastik tersebut.
        • Cabe giling yang masih hangat dimasukkan ke dalam kantong plastik tersebut dengan bantuan injektor pasta. Setelah itu, kantong plastik ditutup dengan mengikatnya kuat-kuat memakai gelang karet.
      4. Penyimpanan. Produk ini dapat disimpan selama 2 minggu pada suhu kamar dan lebih 1 bulan di dalam lemari pendingin.
    3. Pengolahan cabe giling berpengawet di dalam kemasan botol
      1. Penggilingan. Cabe yang telah di-blanching digiling sampai halus. Pada saat penggilingan ditambahkan asam atau natrium benzoat 1 gram, garam dapur 100 gram, dan asam sitrat 5 gram untuk setiap 1 kg cabe.
      2. Pemanasan. Cabe yang telah digiling dipanaskan di dalam wajan sambil diaduk-aduk sampai suhu mendekati 100° C selama 15 menit. Selama pemanasan, api diatur tidak terlalu besar untuk mencegah gosongnya bagian cabe yang bersentuhan dengan permukaan wajan. Setelah itu, api dikecilkan sekedar untuk menjaga cabe tetap panas.
      3. Pengemasan.
        • Botol kaca dicuci sampai bersih, kemudian direndam di dalam air yang mengandung kaporit 5~10 ppm (5 sampai 10 gram kaporit per 1 m 3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun di dalam air perendam tersebut didalam posisi terbalik. Setelah itu, wadah yang berisi rendaman botol direbus sampai mendidih. Setelah mendidih api dikecilkan sekedar untuk mempertahankan air perebus tetap panas. Kondisi ini dipertahankan selama pengemasan. Sementara itu, tutup botol direbus di dalam air mendidih lain. Selama pengemasan, tutup botol harus tetap berada pada air mendidih.
        • Sebuah botol dikeluarkan dari air mendidih dalam keadaan terbalik dengan menggunakan penjepit. Dengan bantuan injektor pasta, cabe giling segera dimasukkan ke dalam botol. Botol diisi hanya sampai 1 cm di bawah mulut botol. Botol yang telah diisi cabe giling panas dibiarkan tetap terbuka selama 2 menit. Setelah itu, sebuah tutup botol yang sedang direbus segera diangkat dan dipasangkan pada mulut botol secara rapat dan kuat. Pekerjaan ini harus dilakukan secara cepat dan cermat.
      4. Sterilisasi.
        • Botol yang sudah berisi cabe giling dan tertutup rapat direbus di dalam air mendidih selama 30 menit. Proses ini akan membunuh banyak
          mikroba pembusuk yang dapat merusak bahan.
        • Botol dikeluarkan dari air mendidih, dan disimpan dalam keadaan terbalik. Jika terjadi rembesan saus melalui tutup botol, tutup harus dibuka dan dilakukan kembali penutupan dengan tutup yang baru. Setelah itu, botol ini harus disterilkan kembali.
      5. Penyegelan. Segel plastik dipasangkan pada mulut botol. Mulut botol yang terpasang segel dicelupkan pada panas (90°C) beberapa detik sehingga segel mengkerut dan menempel dengan rapat pada mulut botol.
      6. Pemberian label
        Proses terakhir adalah penempelan label pada bagian luar botol.
    4. Pengolahan Cabe Giling Tanpa Pengawet di dalam Kemasan Botol
      1. Penggilingan. Cabe yang telah di-blanching digiling sampai halus tanpa penambahan garam, asam, maupun senyawa benzoat.
      2. Pemanasan. Cabe yang telah digiling dipanaskan di dalam wajan sambil diaduk-aduk sampai suhu mendekati 100°C selama 10 menit. Selama pemanasan, api diatur tidak terlalu besar untuk mencegah gosongnya bagian cabe yang bersentuhan dengan permukaan wajan. Setelah itu, api dikecilkan sekedar untuk menjaga cabe tetap panas.
      3. Pengemasan.
        • Botol yang bersih, direndam di dalam air yang mengandung kaporit 5~10 ppm (5 sampai 10 gram kaporit per 1 m 3 air) selama 30 menit di dalam wadah tahan karat. Botol disusun di dalam air perendam tersebut didalam posisi terbalik. Setelah itu, wadah yang berisi rendaman botol direbus sampai mendidih. Setelah mendidih api dikecilkan sekedar utnuk mempertahankan air perebus tetap panas. Kondisi ini dipertahankan selama pengemasan. Sementara itu, tutup botol direbus di dalam air mendidih lain. Selama pengemasn, tutup botol harus tetap berada pada air mendidih.
        • Sebuah botol dikeluarkan dari air mendidih dalam keadaan terbalik dengan menggunakan penjepit. Dengan bantuan injektor pasta, cabe giling panas segera dimasukkan ke dalam botol. Botol diisi hanya sampai 1 cm di bawah mulut botol. Botol yang telah diisi cabe giling panas dibiarkan tetap terbuka selama 2 menit. Setelah itu, sebuah tutup botol yang sedang direbus segera diangkat dan dipasangkan pada mulut botol secara kuat dan rapat pada mulut botol.
      4. Sterilisasi.
        • Botol yang sudah berisi cabe giling dan tertutup rapat direbus dipanaskan di dalam retort selama 20~30 menit pada suhu 121°C. Prosess ini akan membunuh banyak mikroba pembusuk yang dapat merusak bahan.
        • Setelah itu, botol dikeluarkan dari dalam retort, dan disimpan dalam keadaan terbalik. Jika terjadi rembesan saus melalui tutup botol, tutup harus dibuka dan dilakukan kembali penutupan dengan tutup yang baru. Setelah itu, botol ini harus disterilkan kembali.
      5. Penyegelan. Segel plastik dipasangkan pada mulut botol. Mulut botol yang terpasang segel dicelupkan pada panas (90°C) beberapa detik sehingga segel mengkerut dan menempel dengan rapat pada mulut botol.
      6. Pemberian label
        Proses terakhir adalah penempelan label pada bagian luar botol. 
        Sumber, dari sini
         

 Ada yang berminat?,
"Semoga kita selalu dimudahkan dalam segala urusan dunia maupun akherat "
Wallahu a`lam bish-shawab,
semoga bermanfaat
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

18 comments:

  1. um ... boleh juga tuh
    emang sih harga cabai mencapai 100 ribu di daerahku
    gila, orang jualan pada ga pake sambel minggu2 ini :(

    BalasHapus
  2. gorengan... bakso... tanpa cabe atau sambel aaaaah ndak nikmat >.<

    BalasHapus
  3. Makan tanpa sambel... Huh...
    Gak bakal sedap deh... :D

    Salam sayang dari BURUNG HANTU... Cuit... Cuit... Cuit...

    BalasHapus
  4. @TUKANG CoLoNG:
    silahkan dicoba

    @John Terro:
    mau ndak jadi Pengusaha abon Cabai

    @Non Inge dan Denuzz:
    kenikmatannya terletak pada lidah dan kucuran keringat, mak joss

    BalasHapus
  5. ikut jualan cabe yuk, mumpung harganya tinggi...hehe...
    untung disini ga ikutan naik :)

    BalasHapus
  6. setuju dengan pembuatan cabe giling.
    atau kalau tidak ya dikeringkan saja ketika panen melimpah, jadi tetap bisa dipakai ketika terjadi kelangkaan cabe.

    tapi kalau untuk lalapan ya tetep milih cabe fresh :)

    BalasHapus
  7. petani yang pandai membaca situasi sepertinya mampu memanfaatkan moment ini, tapi disisi lain kasihan masyarakat ya harga cabe sampai melambung gitu.
    semoga ini cepat berlalu. terimakasih sudah share Mas Pakies.

    BalasHapus
  8. i just can say : cabai... oh.. cabai...!!! wkwkwkwk.....

    BalasHapus
  9. asswrwb....asiik ada peluang bgs nih dr blog blitar..hehehhe, tp tentu sj semua hrs dg persiapan yg matang ya Kang, agr apa yg kt rencanakan menuai hsl spt yg kt canangkan..cieeehh hihihi. Btl bgt, sjk cabai harganya selangit di kulkas cm setok cabai dikittt, untunglah mmg ga terlalu pengaruh, krn kan di rmh hrs mengikuti menu si kcl, walhasil jarangg bgt bikin masakan pedas, cm pas beli gorengan jd aneh aja, lawong cabenya cm bbrp biji hihihi, slm u keluarga Kang, smg selalu dlm lindungannYA Amin..

    BalasHapus
  10. assalamu alaikum,
    gilingan cabenya keren tenan!
    saya malah nanem sendiri di kebon deket kandang kelinci kangmas, jadi kalo kepingin ya : tinggal metik sambil ngasih makan rumput ingon-ingon wkwkwk...
    btw tahu petis itu musuhnya cabe? musuhnya apa jodohnya to? ternyata musuh dan jodoh hampir sama artinya he he

    'lowo ireng ketiban kayu
    kulo kepareng matur tengkyu' :D

    BalasHapus
  11. Asswrwb.
    Di daerah sy saat Habibie jadi presiden, bwang merah naik berlipat lipat. para petani bawang merah mendadak banyak duit dan banyak mendaftar haji dg cash tanpa angsur. Tpi lain dg kasus kenaikan cabai yg justru membuat petani gak dapat panen yg cukup karna faktor cuaca.
    Ide cabai kering gilingnya briliant ustadz !... sy sgt stuju :)

    Dzadjakallah khairan katsira :)

    BalasHapus
  12. tapi sensasi "nyeplus" lombok utuh dengan cabe giling itu beda banget.. yang bikin mahal "nyeplus"nya itu. hehehe

    BalasHapus
  13. Ass. kang...

    wah aku pun sedikit tersiksa kang .. soal'e beberapa hari ini klo makan mau gorengan kek, mau nasi kek.. tetep aja gak dikasih Cabe atau sambel... alasannya satu Cabe mahal ...

    Hem... dan klo nanti panen melimpah bisa dipastikan pendapatmu bener kang pasti anjlok laghi harganya... aku setuju saya idemu kang... lebih baik dibikin cabe giling .... cuma masalahnya gimana cara kita menyampaikan niat itu Kang???

    BalasHapus
  14. katanya sekarang lagi dikembangin cabe tahan ujan katanya.
    isi payung kali. :D

    BalasHapus
  15. Ass. kang...

    wah aku pun sedikit tersiksa kang .. soal'e beberapa hari ini klo makan mau gorengan kek, mau nasi kek.. tetep aja gak dikasih Cabe atau sambel... alasannya satu Cabe mahal ...

    Hem... dan klo nanti panen melimpah bisa dipastikan pendapatmu bener kang pasti anjlok laghi harganya... aku setuju saya idemu kang... lebih baik dibikin cabe giling .... cuma masalahnya gimana cara kita menyampaikan niat itu Kang???

    BalasHapus
  16. Asswrwb.
    Di daerah sy saat Habibie jadi presiden, bwang merah naik berlipat lipat. para petani bawang merah mendadak banyak duit dan banyak mendaftar haji dg cash tanpa angsur. Tpi lain dg kasus kenaikan cabai yg justru membuat petani gak dapat panen yg cukup karna faktor cuaca.
    Ide cabai kering gilingnya briliant ustadz !... sy sgt stuju :)

    Dzadjakallah khairan katsira :)

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan