Kamis, 21 April 2011

Rapatkan Barisan Lurusankan Shaf, sudahkan?

Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh Sodaraku semua, 

Sawwu shufuu fakum fa inna taswiyatash shufuufi min tamamishsholat. Kalimat ini seringkali disampaikan Imam shalat ketika iqomah selesai dikumandangkan. Sebuah seruan dari Imam agar makmum yang berjamaah di belakangnya merapatkan dan meluruskan shaf. Bahkan Imam sholat terkadang langsung menggunakan bahasa Indonesia,
"Rapatkan barisan, luruskan shaf". Trus bagaimana reaksi makmum di belakangnya, apakah mereka langsung menempatkan diri seperti yang minta Imam?. 

Tipe-tipe Imam Sholat Jamaah
Beda imam, beda juga cara menyampaikan pesan tersebut. Terkadang saya temukan imam yang benar-benar mengharapkan. Sebelum lurus dan rapat, sholat belum dimulai. Imam dengan rela menghadap dan mengatur secara langsung bagaimana keadaan shaf dan barisan. Jika shaf pertama masih kosong, maka yang berada di bagian belakang pasti disuruh maju. Jika masih ada jarak antar jamaah, langsung diminta merapat.

Terkadang saya temukan Imam yang menyampaikan kalimat di atas hanya sebatas penyampaian. Beberapa saat kemudian, Imam langsung takbiratul ihram. Jamaah yang sadar akan himbauan imam akan mengatur sendiri posisinya di shaf. Yang seperti ini seringkali masih menyebabkan posisi shaf masih belum rapat dan lurus.

Adalagi Imam shalat jamaah yang sama sekali tidak pernah memperdulikan kesiapan jamaah di belakangnya. Asalkan iqomah selesai, Imam langsung memulai shalat dan takbiratul ihram. Padahal jamaah banyak yang belum siap, bahkan sampai banyak yang terpaksa kehilangan rakaat pertama.

Respon Jamaah
Ternyata tidak semua jamaah bisa menjalankan dengan baik apa yang disampaikan Imam sebelum shalat dimulai. Pada beberapa Masjid bisa ditemukan posisi shaf sangat bagus dan jamaah sangat menyadari akan hal ini.

Namun masih sering saya temukan jamaah tidak memahami apa yang disampaikan Imam akan pentingnya mengatur shaf yang benar dan baik. Masih banyak ditemukan antar jamaah yang masih renggang ada jarak. 

Pengalaman saya di suatu masjid
Suatu ketika saya shalat jamaah mengambil posisi paling kanan, sementara jamaah yang tepat di sebelah kiri saya seorang Bapak kira-kira berumur 55 tahunan. Kebetulan Beliau meletakkan kunci entah motor ato mobil saya kurang perhatian, yang jelas kunci itu berada dekat dengan posisi saya.

Biasanya kalo belum kenal dengan orang yang di sebelah kiri,  saya hanya menempelkan ujung jari kaki kiri dengan ujung jaring kaki kanan yang bersangkutan. Posisinya tidak menekan, hanya menempel saja, sebagai isyarat untuk merapatkan barisan. 
Apa yang terjadi?

Sebelum Takbiratul ihram dimulai, Bapak itu langsung bergeser menjauhi saya dan sayapun pelan-pelan bergeser mengikuti ke arah kiri untuk merapatkan barisan dan tentu saja posisi kunci kendaraannya tepat di bawah kaki saya. Dan sayapun takbiratul ihram, termasuk Bapak tadi. Sekitar 10 detik berikutnya saya tidak menyangka Bapak itu membatalkan shalatnya, mengambil kunci kendaraan dan berpindah ke shaf paling belakang. Sejenak kekhusyukan saya akan terganggu kejadian ini, namun Alhamdulillah saya bisa mengatasi kembali dan shaf yang kosong tadi dengan segera ada yang mengisi dari belakang.

Selesai shalat, berbegas saya menemui Bapak yang bersangkutan. Ini kayaknya mirip dengan masalah pada postingan sebelumnya. Yang jelas dengan proses pendekatan yang sama, Alhamdulillah Bapak itu mengerti tentang maksud saya merapatkan diri pada Beliau sewaktu shalat tadi. Dan Alhamdulillah Beliau menyampaikan terima kasih karena memberikan penjelasan yang belum diketahuinya.

Mengapa begitu penting masalah shaf 
"Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk dari menyempurnakan shalat.” (H.R Muslim)

Dari Nu’man bin Basyir, ia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah Shollallahu’alayhi wa Sallam bersabda : “Hendaklah kamu benar-benar meluruskan shafmu, atau (kalau tidak maka) Allah akan jadikan perselisihan di antaramu.” (Muttafaq ‘alayhi, Bukhari No. 717 dan Muslim No.436)

Diriwayatkan pula Dari Ibnu Umar bahwasanya Rasulullah Shollallahu  ’alayhi wa Sallam telah bersabda:
“Luruskanlah shaf-shafmu! Sejajarkan antara bahumu (dengan bahu saudaranya yang berada disamping kanan dan kiri), isilah bagian yang masih renggang, berlaku lembutlah terhadap tangan saudaramu (yang hendak mengisi kekosongan atau kelonggaran shaf), dan janganlah kamu biarkan kekosongan yang ada di shaf untuk diisi oleh setan. Dan barangsiapa yang menyambung shaf, pastilah Allah akan menyambungnya, sebaliknya barangsiapa yang memutuskan shaf; pastilah Allah akan memutuskannya.
(Shahih. Abu Dawud no:666, dan telah dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah, al Hakim, Nawawi dan al Albani. Lihat : Fat-hul Bari (II:447)
sumber gambar dari sini
Terus Bagaimana?
Kalo saya boleh beropini, apa sebenarnya yang menyebabkan "susah" mengajak jamaah meluruskan shaf dan merapatkan barisan?. Salah satu yang saya lihat adalah penggunaan sajadah yang terlalu lebar, entah itu yang sudah tersedia di Masjid/Mushola ato sajadah yang dibawa sendiri oleh jamaah. Kotak-kotak sajadah yang terlalu besar, cenderung menyebabkan setiap individu berusaha menempati setiap kotak dengan satu orang sehingga jelas menyebabkan adanya jarak antar individu. Padahal bisa jadi satu kotak itu diisi dua orang jamaah. Apalagi sajadah yang dibawah dari rumah yang besar, tentu saja orang yang ada di sampingnya menjadi "tidak nyaman" kalo sebagian dari tubuhnya berada di atas sajadah itu. Tapi ya kita jangan menyalahkan sepenuhnya industri sajadah

Untu itu, marilah memulai dari pribadi kita sendiri yaitu dengan membiasakan diri shalat berjamaah dan menyempurnakan shaf dan barisan, selanjutnya kita sampaikan pada kelluarga kita, teman,, lingkungan dan orang-orang di sekitar kita. Walopun awalnya berat, tapi dengan kesabaran Insya Alloh semua akan bisa dilaksanakan

Peran Imam sholat juga sangat penting sebelum memulai dan melaksanakan shalat berjamaah. Bagaimanapun juga semua ini termasuk bagian dari tanggungjawabnya disamping kesadaran jamaah sendiri. Dengan penyampaian yang santun dan arif dan tak kenal lelah, Insya Alloh kesempurnaan dan kekhusykan shalat bisa diperoleh.

Akhirnya, bagaimana di tempat sampean tentang shaf sholat berjamaah, sudah rapat dan lurus?
-***-
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab,
semoga bermanfaat
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

52 comments:

  1. Assalamu Alaikum..

    terima kasih banyak Pak, sudah di ingatkan akan pentingnya merapatkan shaf dalam shalat berjamaah,

    kalau dari pengalaman saya sendiri, yang paling sulit untuk mengatur shaf ini kalau pelaksanaan shalat jum'at, maklum hanya pada waktu shalat Jum'at ini saja -sepertinya- masjid agak ramai, sementara shalat lainnya relatif tidak begitu ramai sehingga cukup mudah untuk merapatkan dan meluruskan shaf.

    BalasHapus
  2. memang fenomena shaft dan mengatur barisan sudah selayaknya di abadikan dan di mengerti, jgn curiga atau berpikir mau pedekate.....itu adalah perintah Allah Swt...memang juga, bentuk dan posisi sajadah sering jadi masalah..seolah menjadi pribadi mentingin diri sendiri, tak butuh orang lain. Bukankah posisi atur shaft berarti kita butuh orang lain di mata Allah Swt?....dan banyak yg bilang, gampang..Wani piro?...

    BalasHapus
  3. iya kang, malah kadang ada yang ga suka kalo nempel2.. -.-'

    BalasHapus
  4. asswrwb... berarti hrs ada perubahan besar2an dr segi model/ukuran sajadah ya Kang...hehehe. Gak lah cm becanda. Yg saya tahu kl tdk rapat dan lurus sholatnya kurang sempurna, jd sayang sekali lawong sdh pergi ke masjid niatnya untuk sholat berjama'ah ya sebisanya sholatnya sempurna. Semoga kita bisa sholat scr sempurna....Amin.

    BalasHapus
  5. Waalaikumsallam ...
    pengalamanku, dalam aturan shaf sering terjadi kekacauan pada saat sholat taraweh...baru mulai beberapa rakaat shalat,shaf msh kelihatan rapi dan lurus..tp setelah pertengahan shalat sering kali ditemui..org disamping kita,tiba2 keluar dr shaf dan duduk dibelakang sambil menunggu witir...

    BalasHapus
  6. Aku datang....

    Assalamualaikum pakies... duh,, maaf,, aku banyak absen di postingan Djangan Pakies... maklum pak... aku dah mulai lagi kegiatan seperti dulu.. sekarang pindah wilayah dampingan.. ke Kotanya Adit BI, lumayan,, dengan palembang ga begitu jauh.. jadi tetap bisa lihat2 orang tua seminggu sekali...


    hmm.. soal posting,, aku terima kasih sangat diigatkan kembali betapa pentingnya mengatur shaf...

    Tetap Semangaat!! :)

    BalasHapus
  7. @Awaluddin Jamal:
    wa'alaikum salam Kang, sama-sama Kang, ini kan berusaha saling membangun dalam kebenaran. Berarti di tempat sampean sudah saling memahami tentang shaf yang benar dan baik. Semoga akan semakin meningkat kualitasnya Kang

    @Adit Mahameru:
    hhhh mepet pedekate itu jeruk makan blimbing. makanya kalo ada yang bawa sajadah luas, bilang aja nitip badan pak entar gantinya bapak saya pijitin, gitu khan hhh

    @YeN :
    bener yang seperti itu masih banyak, ditempel malah menjauhi

    @Ning tiwi:
    wa'alaikumsalam Ning, bener sajadah yang minimalis kayaknya juga bayak dijual kok Ning. Amiin semoga sholat kita semakin sempurna dengan memahami rukun dan kewajiban shalat

    @Bunda Loving:
    Iya Bu kalo taraweh sering seperti itu, dan yang bagian belakangnya tidak mau mengisi kekosongan yang ada, jadi bentuk shafnya menjadi berlobang-lobang

    @NIng Nyayu amibae:
    Selamat berjuang dan menebar kebaikan di Prabu ulih pompa semangat tertinggi untuk itu. semoga dimudahkan urusannya

    @TUKANG CoLoNG :
    silahkan menyimak dan dimium suguhan tehnya biar nyaman heheh

    BalasHapus
  8. Assalamu'alaikum, apa posisi shaf di atas juga berlaku untuk jamaah perempuan pak?
    setahu saya dan berdasarkan nasehat dari dosen saya, perempuan lebih dianjurkan sholat di rumah (di kamar saja). Nah, kalau masalah shaf itu sendiri, masyarakat kurang terlalu peduli. seperti saat sholat Ied, fenomena di atas sering saya jumpai. memberitahunya itu yang kadang2 susah pak, takutnya ada yang tersinggung sama dikira sok menggurui...tapi akan saya coba nantinya ya pak, kalau ada sholat berjamaah ke masjid lagi :)

    BalasHapus
  9. Alhamdulillah..

    Kalau shalat 5 waktu, yang saya perhatikan kalau shalat di masjid sudah rapi, lagian yang shalat cuman sedikit biasanya gak sampai 1 shaf, jadi gampang ngaturnya.

    BalasHapus
  10. @Ajeng Sari Rahayu:
    Terdapat khilafiyah mengenai hukum boleh tidaknya wanita sholat berjamaah di masjid. Oleh karena dasarnya cukup panjang, monggo gugling pasti banyak tentang shalat jamaah wanita di masjid,
    buletin.muslim.or.id/fiqih/mari-shalat-jamaah.

    kesimpulannya bahwa (1) hukumnya mubah bagi wanita sholat berjamaah di masjid, dengan syarat ada izin dari suami/wali dan tak memakai wangi-wangian. (2) Yang lebih utama bagi wanita adalah sholat di rumah, jika sholatnya sholat jamaah, bukan sholat sendiri. Wallahu a'lam

    @Awaludin Jamal:
    alhamdulillah Kang kalo demikian berarti sangat gampang meningkatkan kualitas kesempurnaan shaf

    BalasHapus
  11. Assalaumalaikum pak Is.....
    Terima kasih dengan sharing nya pak. Saya juga agak risih dengan fenomena sajadah yang super lebar itu, mungkin itu ada unsur kesengajaan dari sang pembuat sajadah (hanya sedikit su'udzon), Tapi melebarkan kaki itu (untuk merapatkan shaf) ada batasana nya ? maksudnya sebatas lebar bahu saja atau asal kaki kita menyentuh kaki sebelah kita.
    Terus teran saja kadanag saya juga merasa risih saat disampingku melabarkan kaki sampai lebar sekali. Meskipun saya tahu memang begitu seharusnya, rapat dan tidak ada celah.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  12. @Kang Sugeng:
    spengetahuan saya lebar kaki itu sejajar dengan bahu Kang, sehingga dengan itu sesungguhnya diharapkan akan terjadi rapatnya barisan karena bisa jadi pundak saling bersinggungan. Nah kalo kita sering menemukan jamaah yang melebarkan kaki, itu mungkin dia berusaha mengurangi ruang jarak yang telah terbentuk akibat kurang rapatnya barisan sebelumnya. Wallahu a`lam bish-shawab

    BalasHapus
  13. wah pak, saya juga ngerasa banget hal ini. apalagi dijamaah wanita susah banget ngatur shafnya supaya rapat2. Mana ada yang asal mukenanya udah kena ya dianggap udah rapat, padahal itu cuma mukenannya aja yg saling bersentuhan padahal jaraknya masih jauh banget.
    lebih susah lagi kalo ngomongnya ke ibu-ibu yang umurnya lebih tua dari kita

    BalasHapus
  14. @Nova Miladyarti:
    topik ini sebenarnya sudah lama pingin pakies publish, selalu ditunda dengan alasan masih banyaknya khilafiyah sehingga kalo saya tidak hati-hati menulis bisa menjadi tidak karuan. Apalagi kalo menyangkut "usia" yang kita ajak ngomong. Namun pengalaman pakies dengan bapak yang saya ceritakan di atas ternyata beliau justru belum memahami tentang hal ini. Jadi tidak ada salahnya kita mencoba menjelaskan ketika di luar sholat. Insya ALloh bisa

    BalasHapus
  15. Merapatkan barisan dalam shaf shalat tentu ada hikmah dan faedah sendiri bagi umat islam yang menjalankan.
    Tentu semuanya ada manfaat pokoknya, mungkin ada yang tak kita ketahui selain yang tersebut di atas.

    Juga rapat barisan bukan saja dalam hal shalat kan.
    Hal dalam ibadah lain yang berjamaah juga termasuk perintah.
    Semakin kecil celah lubang antar shaf maka akan semakin khusyuk.

    Heran juga dengan yang berikut.
    Muslim mengetahui dalil, hadits tentang rapat barisan shaf.
    Tapi kok dalam hal shalat saja mereka mengerjakan.
    Dalam hal lain, selain shalat mereka malah merenggangkan.
    Ya jangan begitu donk donk.

    Kita lihat ada teror.
    Shalat jumat di masjid kok malah di bom segala.
    Hancurlah barisan shaf Islam.
    Sangat tak mengerti rapat barisan.

    Artikelnya bermanfaat semoga berkah dan menjadi penerang semua peblogger se Indonesia.
    Amin.

    BalasHapus
  16. Askum gan.
    Rapatkanlah barisan.
    Rapatkanlah secara ikhlas hati demi sempurnanya ibadah shalat.
    Aku masih teringat akan pesan Romo Kyai yang setiap kali melihat prajuritnya, makmum shalat, toleh kanan kiri dilihatnya apakah semua barisan shaft sudah rapat.

    Tanpa segan Beliau menghampiri shaf yang kurang rapat dan merapatkannya.
    Para murid patuh akan ucapan Romo Kyai dan rapat juga barisan.

    Kalau kita lihat dan melakukan rapat ini, terasa sesak dan panas rasanya.
    Namun tahanlah dengan hati ikhlas biar tak ada orang lain semisal makhluk halus menempati celah itu.

    BalasHapus
  17. @Tukang Colong.
    Gelas kok disruput.
    Aku selalu menyruput isinya gelas saja ketimbang gelasnya.
    Wkwkwk...lucu.
    JKDD.

    BalasHapus
  18. Semua shaf harus lurus dan rapat.
    Kerapatan shaf sangat berpengaruh.

    BalasHapus
  19. Semoga kita bisa menjalankan perintah ini. Amiin

    BalasHapus
  20. Aku setuju untuk melaksanakan lurus shaf ini Pak.
    Trims

    BalasHapus
  21. semoga kita termasuk orang2x yang sering berjamaah

    BalasHapus
  22. wah2 saya jg sering tuh seperti itu, waktu mencoba merapatkan malah geser2 terus,
    Oh ya satu lg yg sering salah adalah masih banyak jamaah yg memulai shaf bukan dari belakang imam tapi malah mendekati dinding, klo disuruh geser ke tengah malah marah2..:D

    BalasHapus
  23. Assalamu'alaikum

    Subhanallah Alhamdulillah syukron jazakallah khoiron katsiron ya akhi, saya setuju karena begitu pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf, dijelaskan di dalam hadits yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim dari shahabat Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak), maka sungguh Allah akan memalingkan antar wajah-wajah kalian (menjadikan wajah-wajah kalian berselisih).” (HR. Al-Bukhariy no.717 dan Muslim 436)

    Dalam satu riwayat milik Al-Imam Muslim disebutkan,

    “Bahwasanya Rasulullah biasa meluruskan shaf-shaf kami seakan-akan beliau sedang meluruskan anak panah sehingga apabila beliau melihat bahwasanya kami telah memahami hal itu, yakni wajibnya meluruskan shaf (maka beliaupun memulai shalatnya, pent). Kemudian pada suatu hari beliau keluar, lalu berdiri sampai hampir-hampir beliau bertakbir untuk shalat, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang menonjol sedikit dadanya, maka beliaupun bersabda, “Wahai hamba-hamba Allah, benar-benar kalian luruskan shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) maka Allah sungguh akan memalingkan antar wajah-wajah kalian.”

    Petunjuk ini harus diteladani oleh para imam shalat agar memeriksa, mengatur dan meluruskan shaf para makmum.

    Kesimpulannya adalah wajib atas kita untuk menerangkan masalah ini kepada imam-imam masjid dan demikian juga kepada para makmum agar mereka memperhatikan perkara yang sangat berbahaya ini sehingga mereka benar-benar meluruskan dan merapatkan shafnya di dalam shalat.

    Semoga Allah subhanahu wa ta’ala selalu membimbing kita kepada apa yang dicintai dan diridhai-Nya. Wallaahu A’lam.

    BalasHapus
  24. sungguh mengajak orang pada kebaikan itu selalu ada halangan ya pak.... semoga tidak memberhentikan usaha kita untuk terus meneruskan hal2 baik yang Dia senangi

    BalasHapus
  25. salam sahabat
    sangat menyentuh dan yang paling ditekankan jika sudah mengentahui dan memahami postingan ini yakni sejauh mana agar kita lebih istiqomah iya kan?,maaf telat

    BalasHapus
  26. assalamu'alaikum
    punten baru berkunjung
    syukurlah, akhirnya si bapak mengerti penjelasan Pak Ies.

    BalasHapus
  27. permasalahan kayak gini hampir disetiap masjid kayaknya
    apalagi jamaah ibu2, itu biasanya bawa sajadah sendiri yang lebar2 dan gx mau bergabung dengan sajadah jamaah yang lainnya, sehingga shafnya benar2 jarang... >.<

    BalasHapus
  28. soal sajadah, sering menemukan juga, tapi beneran, kalau yang 'tahu' pentingnya lurus dan merapatkan barisan meski sajadahnya lebar ya diisi oleh jamaah lain.
    tapi kebanyakan sajadah sekarang memang lebar2 ya?

    BalasHapus
  29. makasih banyak sharing artikel dan pengalamannya Pak Ies :)
    ibu2 kalau bawa anaknya yg masih kecil, jadi sulit melaksanakan hal ini :(

    BalasHapus
  30. nah inilah merapatkan shaf dalam berjama'ah sangat penting sekali namun anehnya di tempat saya juga orang masih enggan melakukannya.

    pernah suatu ketika saat shalat berjama'ah saya merapatkan kaki kiri ke jamaah lainnya eeh orang tsb malah geser lagi kakinya..., lalu saya uber lagi tuh kaki nya Pak Ies lah dia geser lagi...zzzz..mungkin kaki saya bau jempol kalii yahh hehhehe jadi gak mau nempel wkwkwk.

    sebelah kiri bisa rapat sebelah kanan nya gak mau merapat akhirnya saya coba rapat posisi kaki kiri dan kaki kanan jadinya ngegang ( ngangkang) sholatnya :P

    BalasHapus
  31. Pada zama Rasululloh saw pernah saya dengar bahwa Beliau tidak akan memulai shalat sebelum rapatnya shaf shaf sehingga sahabat Umar RA meluruskan shafnya dengan pedang...subhannallah

    BalasHapus
  32. wewwww pak pakies pake readmore sekarang neh... mantabbbzzz dagh..... sory baru sempat mampir pak

    BalasHapus
  33. masalah merapatkan syaff memang sangat penting sekali pak... saya punya pengalaman sedikit pak, waktu itu saya sholat berjamaah tapi ada orang yang tidak mau rapat sama saya... mungkin dia kebauan kali klo saya habis makan jengkol xoxoxo...

    BalasHapus
  34. Assalamu'alaikum pak, makasih banyak tambahannya. jelas sekali sekarang,

    BalasHapus
  35. hmmm...mungkin insting curiganya lagi aktif pak, dikirain mau grepe2 kunci mobilnya....
    untung setelah diajak bicara beliau mengerti....

    BalasHapus
  36. Hihihi Lagi Sholat aja masih berfikiran negative yah
    kunci aja di pikirin
    kan kita sama2 lagi sholat ?
    heheheh maaf lama ngga nimrung ke perbloggingan

    BalasHapus
  37. Ass.wr.wb.
    Kalo di kampung alhamdulillah tak ada masalah artinya kesadaran sdh tumbuh bahkan malu kalo nyleneh terkesan kurang paham agama.

    Namun spt Abah, saya jg sering menjumpai masalah ini saat di Surabaya terutama saat tarawih saya kan suka pindah2 masjid. Ada beberapa masjid yg ada panitia pengurus shaf tp ada yg dibiarkan begitu saja. Masjid besar jd terlihat berantakan makmumnya tersebar mencari tempat nyaman masing2.
    Saya sampai miris dan sedih...

    BalasHapus
  38. kalo di tempat saya kebanyakan imam ga mempedulikan barisan jamaah nya padahal menurut saya ini penting karena Imam adalah pemimpin berarti imam harus memperhatikan mamkmum yg di pimpinnya..

    begitu juga makmum banyak yg kurang ngerti arti merapatkan barisan bahkan saya juga pernah mengalami kejadian seperti Kang pakies saat akan merapatkan Shaf...

    BalasHapus
  39. Shaf yang sempurna itu sangat penting sekali dalam menjalankan shalat berjama'ah ya, Pak..

    Terimakasih banyak atas artikelnya, sangat mengingatkan sekali...

    Sekedar info saja,..
    Ada award untuk, Bapak...
    Dengan penuh rasa hormat, jika berkenan silahkan untuk mengambilnya...

    TErimakasih banyak..

    BalasHapus
  40. memang peran Imamlah yang sangat penting untuk mengingatkan para jamaahnya agar merapatkan barisannya sebelum memulai sholat.

    bermacam cara Imam menyampaikan seruannya untuk merapatkan barisan, terkadang ada juga Imam yang langsung sholat tanpa memperdulikan jamaahnya, hanya dari diri kitalah yang langsung dengan sendirinya merapatkan barisannya.

    “Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat pada adzan & shaf pertama,kemudian mereka tidak mendapatkannya kecuali dengan melakukan undian,niscaya mereka akan melakukan undian”(HR.Bukhari)

    “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bershalawat kepada shaff pertama“ Mereka(para sahabat) berkata”Wahai Rasulullah & juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,”Sesunguhnya Allah & para Malaikat-Nya bershalawat kepada
    shaff pertama”Mereka berkata” Wahai Rasulullah, dan juga kepada shaff kedua?” Beliau menjawab,” Dan kepada shaff kedua.”(HR. Ahmad, di hasankan oleh Syaikh al Albani)

    “Bahwa beliau bershalawat kepada shaff pertama sebanyak tiga kali dan kepada shaff kedua satu kali.” (HR. an Nasa-i, dishahihkan oleh Syaikh al Albani)

    Makna bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bershalawat sebanyak tiga kali sebagaimana
    dikatakan oleh al ‘Allamah as Sindi- bahwa beliau mendo’akan mereka agar mendapatkan rahmat dan memohonkan ampunan untuk mereka sebanyak tiga kali.

    trims sudah mengingatkan kita semua, sukses selalu n TETAP SEMANGAT

    BalasHapus
  41. Assalamu'alaikum pak, makasih banyak tambahannya. jelas sekali sekarang,

    BalasHapus
  42. Merapatkan barisan dalam shaf shalat tentu ada hikmah dan faedah sendiri bagi umat islam yang menjalankan.
    Tentu semuanya ada manfaat pokoknya, mungkin ada yang tak kita ketahui selain yang tersebut di atas.

    Juga rapat barisan bukan saja dalam hal shalat kan.
    Hal dalam ibadah lain yang berjamaah juga termasuk perintah.
    Semakin kecil celah lubang antar shaf maka akan semakin khusyuk.

    Heran juga dengan yang berikut.
    Muslim mengetahui dalil, hadits tentang rapat barisan shaf.
    Tapi kok dalam hal shalat saja mereka mengerjakan.
    Dalam hal lain, selain shalat mereka malah merenggangkan.
    Ya jangan begitu donk donk.

    Kita lihat ada teror.
    Shalat jumat di masjid kok malah di bom segala.
    Hancurlah barisan shaf Islam.
    Sangat tak mengerti rapat barisan.

    Artikelnya bermanfaat semoga berkah dan menjadi penerang semua peblogger se Indonesia.
    Amin.

    BalasHapus
  43. Waalaikumsallam ...
    pengalamanku, dalam aturan shaf sering terjadi kekacauan pada saat sholat taraweh...baru mulai beberapa rakaat shalat,shaf msh kelihatan rapi dan lurus..tp setelah pertengahan shalat sering kali ditemui..org disamping kita,tiba2 keluar dr shaf dan duduk dibelakang sambil menunggu witir...

    BalasHapus
  44. Semua shaf harus lurus dan rapat.
    Kerapatan shaf sangat berpengaruh.

    BalasHapus
  45. assalamu'alaikum..

    Gan, kebetulan sy lagi cari artikel/gambar mengenai kajian rapat nya shaf dlm sholat ini. Karna kebetulan di kampung halaman yg sy cintai ini belum terjamah masukan2 dr seorang ustad/ulama.
    sy ingin porting artikel agan sebelum nya mohon dberi izin.
    semoga niat n keinginan ini dpt ridho Allah Azza Wa Jalla. Jazaakallah khairan jaza
    Aamiin

    wassalamu'alaikum mengenai kajian rapat nya shaf dlm sholat ini. Karna kebetulan di kampung halaman yg sy cintai ini belum terjamah masukan2 dr seorang ustad/ulama.
    sy ingin porting artikel agan sebelum nya mohon dberi izin.
    semoga niat n keinginan ini dpt ridho Allah Azza Wa Jalla. Jazaakallah khairan jaza
    Aamiin

    wassalamu'alaikum

    BalasHapus
  46. Bismillaah,

    Sebab awal enggannya orang merapatkan shaf adalah salah berdirinya saat shalat. Mereka berdiri dengan jari-jari kaki kanan menyerong ke kanan dan kaki kiri menyerong ke kiri. Cara berdiri seperti ini menimbulkan masalah saat merapatkan shaf:
    1. jari kelingkingnya terinjak dan akan terasa sakit sekali bila jarinya sakit cantengan
    2. kuku jari kelingkingnya menusuk jari orang di sebelahnya
    3. mata kakinya tidak bisa merapat dengan mata kaki kawana sebelahnya.

    Cara berdiri ini menyalahi cara berdiri Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari sahabat Abi Humaid yang berkata: "Yastaqbilu bi aathrofi rijlaihi al qiblah (Beliau - Rasululullaah - menghadapkan jari-jari kakinya lurus ke kiblat)."

    Dengan cara berdiri yang benar sesuai dengan contoh dari Rasulullaah, maka kita dapat dengan mudah merapatkan mata kaki kita dengan mata kaki kawan sebelah kita dan bahu kita dengan bahu kawan kita.

    Wallaahu a'lam.

    Oleh Abu Fikri

    BalasHapus
  47. terima kasih Pak Ies... jadi memang harus dari diri sendiri dulu memulai baru kita komunikasikan dengan saudara teman dan sahabat ya Pak.. :-)

    btw, memang kenapa Pak komen yg ada link-nya itu harus dihapus,,?

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan