Kamis, 16 Juni 2011

#Indonesiajujur | Salah Kaprah Mengukur Prestasi Anak

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarrokatuh Sodaraku semua,
Permasalahan yang dihadapi keluarga Ny. Siami menjadi topik yang sangat menghebohkan banyak pihak, mulai dari bincang di warung kopi sampai jadi topik hangat di media cetak dan elektronik. Saya pertama kali melihat masalah ini dari  tayangan berita TV ketika evakuasi keluarga Siami yang dilakukan aparat Kepolisian karena di 'demo' dan diteriaki "usir ..usir".
Miris dan sedih melihat bagaimana mereka yang masih saling kenal dan hidup dalam lingkungan yang berdekatan di Jl. Gadel Sari Barat II/31, memperlakukan keluarga ini seperti itu. Sebuah cerminan kehidupan bertetangga yang jauh dari "tepo sliro" tenggang rasa dan kekeluargaan. Bukankah ada jalan yang lebih bijak dalam menjalin komunikasi dalam menyelesaikan permasalahan.

Apa yang diperjuangakan Ny. Siami adalah mengajarkan kejujuran pada anaknya yang justru ironisnya berbuntut pada kondisi yang tidak menyenangkan bagi keluarganya. 

Membangun kejujuran hampir membutuhkan sebuah proses dan waktu. Harapan utama dari itu adalah menjadikan anak bisa memahami arti jujur dengan penuh tanggungjawab. Kejujuran itu ada pertanggujawaban di hadapan Alloh SWT. Inilah nilai yang sangat mahal harganya, ketika anak mampu jujur bukan karena orang lain tapi semata jujur karena rasa cintanya pada Sang Pencipta.

Siapa yang tidak bahagia melihat anak-anak berprestasi. Sayangnya tuntutan orang tua seringkali terlalu berlebihan dalam mengartikan prestasi anak. Bahwa anak berprestasi jika menyandang ranking,  memenangkan banyak perlombaan dan olimpiade dan mendapatkan nilai ujian nasional yang tinggi dan mudah masuk ke jenjang sekolah berikutnya.
Tidak bijak jika kita memaksakan dan mengukur keberhasilan dan prestasi anak dari angka-angka hasil ujian nasional. Dan inilah yang seringkali mendorong anak-anak melakukan tindakan yang tidak seharusnya dilakukan. Proses membangun kejujuran dalam waktu lama harus dilibas hanya dengan hitungan hari ketika melakukan kecurangan saat berlangsungnya ujian nasional.
***
Mengukur prestasi anak lihatlah bagaimana kemampuannya menerapkan ilmu dan kebiasaan  baik di sekolah dalam kehidupan sehari-harinya, dimanapun berada. Memulai dari hal-hal yang kecil, bertanggung jawab terhadap dirinya. Itu adalah sebuah prestasi yang harus diapresiasi oleh orang tua.  Ketika mendengar azan, langsung datang menjalankan shalat, ketika makan mampu mencuci piring, ketika bangun tidur mampu membersihkan kamarnya. Intinya, membiasakan diri bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Jika itu sudah terpenuhi dengan baik, maka Insya Alloh prestasi "nilai" angka dari Ujian Nasional akan mengikuti dengan baik.

Sehingga dengan kejujuran yang ditanamkan sejak dini, Insya Allloh hasil apapun yang didapatkan nanti, akan menggoreskan nilai yang penuh barokah.

Tulisan ini saya sertakan dalam suarakan dukungan akan kejujuran. Sampean yang ingin berpartisipasi silahkan ke sini.  Sudah banyak yang berpartisipasi, tuh No. 135:
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat" 
Wallohu a'lam bish-showab, 
Semoga bermanfaat, 
Waasalamu'alaikum warrohmatullohi waarrokatuh.

38 komentar:

  1. Waalaikumsalam.yupz saya juga sudah mengikuti polemik yang terjadi .. sungguh keadaan yang memprihatinkan ...

    BalasHapus
  2. memang sungguh sayang sekali..

    BalasHapus
  3. waalaikumsalam wr wb..
    miris pak ies, melihat orang yang berusaha menyaurakan kejujuran di redamkan dan di hantam oleh kebobrokan yang sistematis...

    sistem pendidikan yang sekarang ini bertanggung jawab terhadap kondisi yang memprihatinkan ini..

    BalasHapus
  4. payah nih orang ina!
    masa tunas bangsanya aja diajarin gak bener gemana udah gede makin gak bnr dah..

    emank sih dlu waktu sklh jg ada nyontek2nya tapi gak sampe segitunya juga >_<.. Guru aku gk prnh nyuruh nyontek..pernah ada guru honorer yang nyuruh kita sekelas nyogok pengawas ujian , tapi meski sekelas pada bengal tetep aja gak berani dan milih buat jujur..

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum pakies.. Pa kbr? Maaf baru sempat ke sini.. Ini aja masih intip2 pake hape... :)

    Kejujuran saat ini memang telah dinomor dua kan, malah bahkan bisa jadi sudah jadi nomor 8,9 dst,, karena terlalu cinta dgn yg namanya duniawi, padahal jujur itu adalah kunci untuk hidup, :)

    BalasHapus
  6. wah, pak, padahal udah ada rencana mau ngepost tentang masalah ini, tapi udah keduluan.. hehe..
    iya pak, memang generasi sekarang ini hanya melihat hasil akhirnya saja, tidak melihat prosesnya..
    akhirnya malah menghalalkan segala cara, yang penting nilainya bagus..

    BalasHapus
  7. W3...

    Jujur Ajur...

    Masih adakah orang yg berani jujur lagi atau mendingan berbohong saja?

    Semakin menyedihkan cerita di Negriku ini.

    BalasHapus
  8. Assalamualaikum abah....
    baru sempat mampir, huaaaaaaaa :(( trihatin dengan potret nehri ku..... gimana mo ngebudayain bersikap jujur, kalo menilainya seperti itu.....

    BalasHapus
  9. Assalamu'alaikum..

    sudah demikian parahkah penyakit yang diderita bangsa ini. dunia politik , hukum, ekomomi dan dunia pendidikan sudah terkena virus kebohongan publik, kalau sudah begini siapa yang bisa menyembuhkan?, sementara yang diharap bisa menyembuhkan juga sedang sakit?

    BalasHapus
  10. saya klik link yang bapak tulis, ternyata udah banyak juga yang mendukung gerakan #indonesiajujur. Sebenernya miris juga sih, ketika yang benar malah dianggap salah.. mungkin kiamat memang sudah benar-benar dekat yah..
    semoga kita semua terhindar dari perbuatan yang menutup-nutupi kebenaran.
    #amieen
    #usapmuka

    BalasHapus
  11. wa'alaikumsalam...semua sudah pada tau itu Ustad,,cuman indakan dari pemerintah hanya separo²..sangat murahnya kejujuran dinegara ini sehingga tidak dihargai

    BalasHapus
  12. daripada ambil resiko mending ikut aliran sesat

    BalasHapus
  13. assalamu'alaikum
    ini yg akhirnya sekolahannya disorot, kepala sekolah dicopot jabatannya itu?

    semoga menang kontesnya
    (kontes bukan sih?)

    BalasHapus
  14. paragraf terakhir tentu lebih 'bernilai' dari sekedar nilai di ijazah.

    BalasHapus
  15. mengajarkan kejujuran ke anak memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin.

    BalasHapus
  16. Ortu, memang sering membanggakan hasil akhir dlm ujian. Pdhl nilai tinggi bukan jaminan pandai tidaknya seseorang. Wong kadang2 hasil nyontek hehehe

    BalasHapus
  17. @Kang Brigadir Kopi:
    ayo Kang berpartisipasi, saya tahu tulisan sampean tajem dan manteb

    @Mbak YeN:
    Sayang dan sangat prihatin dengan kondisi seperti itu

    @Kang Todi:
    kepribadian dan moral bangsa ini sudah terjajah namun kita tidak menyadirinya Kang

    BalasHapus
  18. @Mbak Nyla Baker:
    tiap hari kita disuguhi tontonan yang menjurus ke anarkis, bahkan anak-anak ikut serta di dalamnya. Tata moral sudah bercampur baur dengan banyak kepentingan. Kita berharap moga generasi masa depan negara ini adalah generasi yang santun, cerdas dan beriman

    @Mbak Nyayu amibae:
    wa'alaikum salam.
    Alhamdulillah kabar baik. jangan sering ngintip. ayo update saya kangen tulisan sampean.
    bener, jika kita mengesampingkan itu semua, maka hati kita tidak akan diliputi ketenangan

    BalasHapus
  19. saya juga buat entri sejenis ini kug ... saya skejul jam 8.30 pagi terbitnya :P

    BalasHapus
  20. pak pakies, monggo saya ada tantangan dikit nih buat bpk,hehhee..

    mampir bentar
    Nyla BAker Tag

    BalasHapus
  21. Waduch...
    Payah..Payah..
    ͼ⎝⋗⍜⋖⎠ͽ

    BalasHapus
  22. saya sebagai guru merasakan sedih sekali dan terpukul seklai dgn peristiwa ini... merasa tercoreng dunia pendidikan ini. Saya tidak tahu mengapa bisa terjadi seperti itu. Mengapa orang yg seharusnya menanam nilai2 KEJUJURAN itu yang justru menodainya... sediiiihhhhhh banget, mas

    BalasHapus
  23. berita tentang Ny. Siami wah aku belum pernah dengar ketinggalan berita sepertinya aku :D
    tp kebanyakan orang tua terlalu kwatir dengan anaknya takut anaknya gak bs mendapat hasil baik di ujian, sehingga kadang mereka jadi menekan
    tp Alhamdulillah orang tuaku dulu gak pernah menekanku, yang ada malah dicuekin aja hihihi :P

    BalasHapus
  24. bener mas..saking salah kaprah, akibatnya jadi kaya gitu..menghalalkan segala cara demi angka semata :((

    BalasHapus
  25. asswrwb.... absen Kang, insyaAllah ikut ^_^...

    BalasHapus
  26. kaya kisah para nabi/sahabat yg diusir krn mengutarakan kebenaran

    BalasHapus
  27. Kenapa ya pak Sis, kehidupan sekarang semakin miris saja...

    BalasHapus
  28. saya udah baca berita tersebut. benar-benar bobrok banget ya kejujuran orang-orang kita...

    BalasHapus
  29. saya bisa merasakan, tidak separah diusir dari kampung, tapi suatu komunitas. kejujuran memang bukan hal mudah dilakukan

    BalasHapus
  30. Masalah yang akhir2 ini mengundang keprihatinan banyak orang ya Pak. Tapi jika mau jujur aku yakin banyak sekolah2 yang sebenarnya telah berlaku curang spt yang dijalani oleh SDN Gadel II itu kok, pak.

    BalasHapus
  31. Wah ada acara menyuarakan dukungan akan kejujuran ya Pak? Wah banyak juga pesertanya. RUpanya aku ketinggalan berita gara2 beberapa hari internetnya gak bisa dipake karena lemoooottt bangeettt.. :(

    BalasHapus
  32. Terimakasih atas informasinya Mas, saya juga sudah ikut serta dalam aksi dukungannya. Semoga anak bangsa ini dapat mengambil pembelajaran kisah nyata dari ebuahnilai kejujuran dari ini semua.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  33. Salam

    Wah, pak malah saya nih yang baru berkunjung lagi.

    Layak menyandang status 'Ibu kejujuran' loh Ibu Siami itu Pak..

    Salam kawan

    BalasHapus
  34. lagi lagi saya harus mengatakan sedih dngn masalah ini karena sya juga memuat artikel masalah mahalnya bertindak jujur...

    Yg bikin saya sedih lagi ketika pihak sekolah SD gatelan sudah kena sangsi justru mendiknas menyatakan bahwa pencontekan masal itu tidak ada. Jadi saya sebagai masarakat tentu bingung mana yg bener mana yg tdk jujur. Masa saya lbh mempercayai alif (siswa SD) dari pada bapak mentri pendidikan kita rasanya terlalu naif. Jujur terlalu mudah buat di ucapkan tapi jujur itu sendiri sangat susah buat di implementasikan bahkan seorang mentri sekalipun..
    Moga saja bangsa ini tdk terpuruk akibat dari hilangnya jenak jenak jujur....

    BalasHapus
  35. Miris sekali memang mendengar kabar yang dialami Ny. Siami beserta keluarga. Perjuangannya untuk mengedepankan kejujuran malah berbuah sengsara...

    BalasHapus
  36. asswrwb.... absen Kang, insyaAllah ikut ^_^...

    BalasHapus
  37. saya juga buat entri sejenis ini kug ... saya skejul jam 8.30 pagi terbitnya :P

    BalasHapus
  38. payah nih orang ina!
    masa tunas bangsanya aja diajarin gak bener gemana udah gede makin gak bnr dah..

    emank sih dlu waktu sklh jg ada nyontek2nya tapi gak sampe segitunya juga >_<.. Guru aku gk prnh nyuruh nyontek..pernah ada guru honorer yang nyuruh kita sekelas nyogok pengawas ujian , tapi meski sekelas pada bengal tetep aja gak berani dan milih buat jujur..

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan