Sabtu, 20 Agustus 2011

Iktikaf | Kultum Tarawih

Bismillahirrahmanirrahiim,
Assalamu'alaikum warrohmatullohi wabarokatuh Sodaraku semua,
***
Kultum setelah shalat tarawih yang disampaikan ustadz Aziz tadi sangat pas bagi saya, karena mengangkat topik tentang iktikaf. Apalagi besok malam Inysa Alloh malam ke 21, merupakan saat dimulainya iktikaf.

Sebagai pembukaan, beliau membaca surat Al Qadr (97) ayat 1 - 5.
Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa iktikaf yang merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang dengan menetap di Masjid dengan tujuan utama adalah mendekatkan diri pada Alloh SWT. Memperbanyak amalan ibadah dengan shalat, dzikir, tilawah, bermuhasabah, mengkaji buku, dll.

Jika dibaratkan sejak awal ramadhan sebagai sebuah proses latihan, maka sepuluh malam terakhir dalam bulan suci ramadhan adalah puncak pematangan dari segala kegiatan. Maka tidak diragukan lagi tilawahnya semakin bertambah, dzikirnya bertambah kenceng, shalatnya bertambah khusyu' dan tuma'ninah. Dan segala itu dicurahkan dalam sepuluh terakhir ramadhan, sehingga Insya Alloh dengan mudah bisa merasakan "sakinah" dan ketentraman hidup yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan 1000 bulan, sebagaimana dalam surat Al Qadr di atas.

Sayangnya, kondisi yang sering terjadi justru sebaliknya. Semakin bertambah hari, jamaah tarawih semakin berkurang, tilawah dan tadarus mulai kendor, bahkan  energi kita banyak disibukkan menghadapi lebaran. Sibuk mempersiapkan ini dan itu yang justru kurang berhubungan dengan Lailatul Qadar.

Selanjutnya beliau menyampaikan sebuah hadist, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamsenantiasa beri’tikaf selama sepuluh hari pada setiap bulan Ramadhan dan pada tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.” (HR. Al-Bukhari)

Rasululloh saw adalah teladan kita, maka seharusnya kita bisa melakukan iktikaf di masjid selama sepuluh hari penuh. Tentu ini membutuhkan persiapan dan manajemen yang baik sejauh jauh-jauh hari. Mengkondisikan segala macam urusan duniawi, tanggung jawab dan kewajiban sedemikian rupa sehingga ketika kita tinggal 10 hari untuk iktikaf maka segala urusan duniawi tidak memberikan dampak terhadap keluarga maupun tanggung jawab kita. Bahkan ada beberapa orang yang memaksimalkan bekerja untuk urusan duniawi selama 11 bulan  dan selanjutnya ketika satu bulan ramadhan, yang bersangkutan memaksimalkan ibadahya. Yang seperti ini termasuk orang yang memiliki perencanaan dengan baik.

Masalahnya, tidak semua muslim berkesempatan dan memiliki waktu khusus untuk melakukan iktikaf non stop selama 10 hari terakhir. Para pegawai yang terikat akan tugas dan jabatan dan yang sejenisnya, termasuk saya sebagai seorang pedagang pasar (ngaku).
Bagaimana solusinya menurut beliau ?

Kita masih bisa memaksimalkan  10 hari terakhir ramadhan, malam hari kita masih ada kesempatan melakukan iktikaf di masjid. Selepas shalat tarawih, terus kita upayakan berniat iktikaf dan tinggal di masjid sampai waktu sahur tiba selanjutnya, selepas shalat subuh kita masih bisa berada di masjid sampai menjelang kita berangkat kerja. Bagaimanapun kita harus berupaya mengatur waktu dengan baik, antara kerja, istirahat dan iktikaf.
Semoga niat baik kita dalam melakukan iktikaf untuk menjaring pahala berlimpah diberikan kemudahan menajalaninya sehingga kita tergolong orang-orang yang mendapatkan qolbu yang sakina karena Lailatul Qadar. amin

Walo ceramahnya bukan lagi kultum (7 menit), tapi kulset (setengah jam) saya pulang terawih Insya Alloh dengan membawa semangat yang lebih baik.
  ***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab,
semoga bermanfaat
wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

40 comments:

  1. selamat menjalani 10 malam terakhir yg istimewa ya Kang..:)

    BalasHapus
  2. Assallamualaikum kang...
    terimakasih udah mengingatkan dan inysa Allah saya akan lebih mendekati ke arah situ walopun belum bsa di katakan itikaf tapi setidaknya saya udah ada niat dan mau menerjemahkan apa yg sudah di bahas oleh pak kies di atas tentunya dengan kegiatan2 yg sifatnya utk lbh dekat dgn Allah SWT. Inilah kesempatan selagi sya msh punya umur, waktu dan kesehatan serta niat dan semangat itu sendiri.... Nawaittu :))

    BalasHapus
  3. Waalaikumsalam warohmtullahi wabarokatuh
    membaca pada paragraf sayangnya semakin hari semakin berkurang jamaah ..adouh kok jadi pengisian ramadhan ini hanya sekedar tradisi dan mumpung mumpung aja ya Pak

    BalasHapus
  4. Moga Malam yang penuh berkah, malam Khoirum min alfi syahr menghampiri kita ketika kita sedang asyik masyuk dalam ibadah,....

    BalasHapus
  5. Amin... kebetulan saya lagi bolong pak, yah memang sudah kodrat. tapi memang benar kata pak Sis, semakin maju harinya malah semakin kendur semangatnya (beribadah). bisa dirasakan pak...

    beruntung sekali yang tahu dan mendapat pencerahan seperti di atas, agar lebih seimbang juga. Nggak cuma nyiapin apa2 buat lebaran tapi juga ibadahnya harus ditata.

    BalasHapus
  6. Wa'alaikumsalam Ust..

    Semoga kita bisa memaksimalkan 10 Hari terakhir di bulan Ramadhan ini AMIN...

    BalasHapus
  7. Malam lailatul Qadar hny bisa mendekam dlm kamar tp tetap berusaha perbanyak ibadah dan mengurangi kegiatan dunia maya :)

    BalasHapus
  8. mereka yang hidup di alam normal memang suka jadi lupa paklek
    kalo mereka sudah mengalami kerja 24 jam di tengah hutan begini
    kayaknya baru nyadar kalo waktu luang itu teramat berharga
    dan sayang kalo tak dijadikan sarana menambah ibadah

    BalasHapus
  9. dari dulu2 pengen itikaf
    tapi gx enak karena cewek
    yang itikaf di masjid2 skitar rumah cowok semua

    jadi paling banyakin ibadah dirumah aja,

    BalasHapus
  10. semoga kita bisa memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan. Gak sadar, sudah tinggal sepertiga bulan

    BalasHapus
  11. 10 hari terakhir sudah pada mikirin mudik dan belanja pak :(

    pada lebih senang itikaf di mall :(

    BalasHapus
  12. Mari kita sama-sama saling menghidupkan sepuluh malam terakhir di musholah, masjid untuk beritikaf dan berdoa sepanjang malam dalam mengerjakan kebajikan.

    Sukses selalu dan saling mendoakan ya Pak Ies.

    Salam
    Ejawantah's Blog

    BalasHapus
  13. Sayang nya msjid di daerah ku tidak bisa seperti di daerah Jawa. Disini selepas kegiatan langsung di tutup pintunya dan di kunci, jadi kalau mau beritikaf harus menghubungi pengurusnya dulu baru bisa.

    Sampai sekarang saya belum pernah sekalipun merasakan itikaf di masjid padahal ada juga keinginan untuk itu namun masih kalah dengan keinginan yang lain :((

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    BalasHapus
  14. 'Alaikumussalam wr wb.

    10 hari tearkhir memang yang paling ditunggu dan mudah2an kita bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya ya pak.
    Mengenai itikaf, saya msh blum bisa pak, padahal pengen nglaksanain itikaf.

    BalasHapus
  15. Wa'alaikumsalam...
    Hmm sekarang ada kulset njih?
    Untuk yg perempuan gimana sebaiknya cara melakukan itikaf krn biasanya yg tinggal di masjid itu laki-laki?
    Dgn memperbanyak ibadah di rumah apakah sdh disebut itikaf?

    BalasHapus
  16. @nartiIktikaf itu dilakukan di masjid.
    "Dan janganlah kalian mencampuri mereka (para wanita), sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al Baqarah: 187).

    Aisyah radhiallahu ‘anha. Dia mengatakan,
    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa beri’tikaf di bulan Ramadhan. Apabila beliau selesai melaksanakan shalat Subuh, beliau masuk ke dalam tempat I’tikaf. (Salah seorang perawi hadits ini mengatakan), “Maka ‘Aisyah pun meminta izin kepada nabi untuk beri’tikaf. Beliau pun mengizinkannya dan ‘Aisyah pun membuat kemah di dalam masjid.” (HR Bukhori No. 1936)

    BalasHapus
  17. Semoga yang diinginkan tercapai mas. Dan semoga Tuhan menuntun hati kita untuk selalu taat apapun kondisinya....

    BalasHapus
  18. saya lihat banyak yang Ber i'tikaf hanya pada malam ganjilnya saja sedangkan di malam genap terlihat sepi. Kita tidak tahu dan tak dapat memastikan kalau Lailatul Qadar itu turun di malam yang mana. Yang dapat kita lakukan hanyalah berjaga2 di sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan.

    BalasHapus
  19. saya diajarin ortu cari praktis sih untuk persiapan lebaran. baju gak mesti baru. Parsel, bikin jauh-jauh hari. makanan, pesen katering... biar fokus ibadah... diniatkan jauh-jauh hari semuanya. plus bobok siang...

    BalasHapus
  20. semoga amal ibadah kita mendapat ridho Ilahi

    BalasHapus
  21. Semoga dpt melaksanakan iktikafnya ya mas.. :)

    BalasHapus
  22. Biasanya saya juga mengikuti alternatif terakhir..., taraweh lanjut i'tikaf.
    dan sesuai pengalaman, ini dan itu yang pokok sudah disiapkan sebelum ramadhan jadi ndak terlalu sibuk untuk persiapan lebaran. Alhamdulillah...

    semoga segalanya dimudahkan Allah. Amin....

    BalasHapus
  23. di tempat saya sekarang mesjid lumayan jauh jaraknya, rasanya saya juga belum sanggup melakukannya dengan kondisi jam kerja seperti sekarang... kira2 kalau saya melakukannya dari rumah saja itu bagaimana menurut Kang Pakies...

    BalasHapus
  24. @Kang Zansepengetahuan saya jawabannya seperti pertanyaan mbak Narti, bahwa iktikaf itu dilaksanakan di Masjid.

    "Dan janganlah kalian mencampuri mereka (para wanita), sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (Al Baqarah: 187).

    BalasHapus
  25. @Kang Wahyu Eko Prasetyo:
    inggih terima kasih Kang

    @Mbak ketty husnia :
    benar-benar hari istimewa untuk mendulang pahala Mbak, semoga kita termasuk yang beruntung

    @Kang yayack:
    wa'alaikumsalam Kang,
    Assallamualaikum kang... sama Kang, sayapun tidak bisa 100% full di Masjid, yang terpenting kita telah mengupayakan secara maksimal sesuai dengan kemampuan kita. Insya Alloh, Alloh Maha Tahu

    @Mbak Dhana/戴安娜 :
    yaitu Mbak, termasuk saya dulu juga gitu, bukannya mikir kenikmatan beribadah, malah mikir penampilan hari raya. dan ALhamdulillah pemikiran seperti itu sudah lama saya tinggalkan

    @Darussalam OKUS
    subhanalloh Amin Kang, sungguh merinding kalo kita terhampiri dalam keadaan bermunajad

    BalasHapus
  26. saya bingung mau koment apa nih, karena tidak paham. met wiken saja deh, pak.

    BalasHapus
  27. Biasanya saya juga mengikuti alternatif terakhir..., taraweh lanjut i'tikaf.
    dan sesuai pengalaman, ini dan itu yang pokok sudah disiapkan sebelum ramadhan jadi ndak terlalu sibuk untuk persiapan lebaran. Alhamdulillah...

    semoga segalanya dimudahkan Allah. Amin....

    BalasHapus
  28. saya lihat banyak yang Ber i'tikaf hanya pada malam ganjilnya saja sedangkan di malam genap terlihat sepi. Kita tidak tahu dan tak dapat memastikan kalau Lailatul Qadar itu turun di malam yang mana. Yang dapat kita lakukan hanyalah berjaga2 di sepuluh malam yang terakhir di bulan Ramadhan.

    BalasHapus
  29. Malam lailatul Qadar hny bisa mendekam dlm kamar tp tetap berusaha perbanyak ibadah dan mengurangi kegiatan dunia maya :)

    BalasHapus
  30. Amin... kebetulan saya lagi bolong pak, yah memang sudah kodrat. tapi memang benar kata pak Sis, semakin maju harinya malah semakin kendur semangatnya (beribadah). bisa dirasakan pak...

    beruntung sekali yang tahu dan mendapat pencerahan seperti di atas, agar lebih seimbang juga. Nggak cuma nyiapin apa2 buat lebaran tapi juga ibadahnya harus ditata.

    BalasHapus
  31. Waalaikumsalam warohmtullahi wabarokatuh
    membaca pada paragraf sayangnya semakin hari semakin berkurang jamaah ..adouh kok jadi pengisian ramadhan ini hanya sekedar tradisi dan mumpung mumpung aja ya Pak

    BalasHapus
  32. selamat menjalani 10 malam terakhir yg istimewa ya Kang..:)

    BalasHapus
  33. @Mbak Ajeng Sari Rahayu :
    walo bolong, tetap bisa melakukan dzikir kan ? karena itu tidak menghalangi dan bukan merupakan penghalanmg kita dalam bermuanajad. Alloh Maha Adil, Insya Alloh

    @Kang Sofyan :
    amin, semoga demikian kita semua Kang, bisa maksimal dan panen raya

    @Mbak Tarry KittyHolic :
    walo mendekam di kamar karena kondisi yang menhasruskan, fa insya ALloh kita bisa memaksimalkan dengan dzikir, tilawah, muhasabah dan shalat sunah

    @Kang Rawins :
    bener, kondisi yang serba terbatas biasanya mampu membuka nurani untuk lebih peka dan mempermudah mendulang segala kebaikan di bulan suci ramadhan. Bahkan hutan belantara dan isinyapun bertasbih

    @Non ♥chika_rei♥ :
    di rumahpun ndak masalah untuk seorang wanita, kecuali mungkin ada ijin suami ato orang yang mampu menjaga dari fitnah selama perjalanan ke dan dari masjid

    @Mbak ria haya:
    amin, meskipun tidak sadar semoga telah banyak pahala dan kenikmatan yang telah kita dapatkan

    BalasHapus
  34. @Sang Cerpenis berceritaterima kasih Mbak Fanny, saya paham kenapa sampean berkomentar seperti itu kok. Ini adalah moment penting bagi kami kaum muslim dalam memaksimalkan ibadah puasa

    BalasHapus
  35. @Mas Coro :
    amiin Kang, sebuah harapan dan roja' yang indah dalam menjalankan ibadah

    @Kang HALAMAN PUTIH :
    bener Kang, akan lebih nikmat jika kita melakukan tidak hanya berpatokan pada hitungan hari dan waktu tertentu. Jika setia hari bisa kita lakukan, maka kalopun belum berkesempatan mendapatkan lailatul qadar, kita sudah menjalankan upaya maksimal memanen raya pahala. Insya Alloh

    @Mbak Ami :
    persiapan lebaran yang matang nih Mbak, seperti tempo hari yang bikin parcel di postingan itu kan ?

    @Kang citromduro :
    amin ridho Alloh adalah hal yang terindah dambaan setiap muslim

    @Mbak niee :
    amin, semoga kita diberikan kemudahan dan kenikmatan menjalani iktikafnya Mbak

    BalasHapus
  36. alhamdulillah, Pakies telah mengingatkan kami semua dgn menuliskan postingan ini , yg tentunya sangat berharga dan bermanfaat.
    salam

    BalasHapus
  37. Iya pak, berhalangan bukan berarti hanya diam :)

    BalasHapus
  38. Assalamualaikum Pak Ies..

    nggak terasa bulan Ramadhan udah kurang dari sepertiganya... *hiks*

    sy jamannya kuliah pernah i'tikaf bersama teman, masa2 yg indah, yg sptnya nggak bisa dilakukan lg oleh seorang ibu rumah tangga ... kecuali klo anaknya udah besar ya...

    BalasHapus
  39. Selama ini yg aku tahu bahwa iktikaf itu dilakukan non stop selama 10 hari terakhir, ternyata ada 'solusi' lain sehingga bagi yang bekerja bisa tetap melakukannya ya?

    BalasHapus

Fastabiqu khairat mari berlomba-lomba dalam kebajikan