السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Karena saya sering keluar rumah nyari dagangan, maka tidak jarang melakukan sholat jamaah dimana suara adzan terdengar saat itu.Dan pada beberapa tempat, saya menjumpai kondisi yang memprihatinkan, karena yang berjamaah di situ bisa dihitung dengan jari, dan itupun rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun. Ini bisa jadi, karena saat ini yang namanya Masjid dan Mushola bertebaran dan sangat gampang sekali kita menemukan. Hanya saja, bertambah kuantitasnya, kurang diikuti yang memakmurkan di dalamnya. Saya mengistilahkan ramai dalam sepi, Masjidnya ramai, tapi isinya makin sepi. Mirisnya, saya pernah menemukan satu mushola yang berdekatan dengan komplek pertokoan dan warnet, tetap saja panggilan sholat itu tidak berpengaruh terhadap aktivitas mereka.
Lain halnya ketika saya berada di kompleks Pasar Besar Malang. Setiap kali menjelang adzan berkumandang, khususnya waktu dhuhur dan asar, beberapa orang sudah mempersiapkan diri menuju Masjid Raudhatus Shalihin, yang terletak di sebuah gang sempit. Tepatnya di jalan Kopral Usman Gang Masjid, sebelah timur kompleks pasar besar Malang.
Meskipun berada di gang sempit, Masjid ini cukup besar dan bersih. Ada tiga lantai, jamaah laki-laki berada di lantai dua dan lantai tiga, sementara jamaah wanita berada di lantai 1. Posisi jamaah wanita yang terpisah ini, sebagai bentuk manajemen yang baik dari takmir Masjid. Tidak jarang, saya temukan posisi wanita yang diletakkan sejajar dengan jamaah laki-laki, dan mereka hanya dipisahkan tirai ataupun dinding tipis. Riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda:
"Sebaik-baik shaf (barisan) laki-laki adalah yang paling depan dan yang terburuk ialah barisan paling akhir. Namun seburuk-buruk barisan wanita adalah yang paling depan dan yang terbaik ialah yang paling belakang. (HR. Muslim)
Gang ini akan menjadi ramai, pas adzan berkumandang. Saya sangat terkesan dengan kondisi ini. Karena,
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nuur: 37).
Ibnu Katsir berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi (Tafsir Ibnu Katsir, 3/390).
Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kening 'menghitam' sebagai gambaran mereka Insya Alloh sudah terbiasa sujud. Sudah gitu, nampak kelelahan selama bekerja sebagai pedagang, tergantikan dengan kecerahan wajah. Sebuah gambaran pesona pribadi yang terpancar dari rona wajah merupakan efek luar biasa yang dianugerahkan Alloh SWT terhadap orang orang yang dekat dengan-Nya.
Tentu dari ratusan Pedagang Pasar Besar Malang shalat berjamaah di Masjid itu, tapi dari yang saya lihat mereka menggambarkan bahwa sebagaian besar dari mereka Insya Alloh tergolong orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan.
Bagaimana dengan sampean ?
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Saya masih sering sholat tak tepat waktu Om, :(
BalasHapus@Mbak Khusnul Khotimah:
BalasHapussemoga Alloh membukakan kemudahan bagi kita semua untuk itu, karena amalan untama dan pertama yang dipertanyakan kelak Insya Alloh adalah shalat
aku sebisa mungkin 5/10menit sblm adzan udh menghentikan aktifitas yg bs bkin sy lupa bwt sholat ky baca, nntn ato dgrn musik dll..
BalasHapusya kdg sih suka kebablasan blg 2mnt lagi ehh jd 10 menit -___- ,hehe..
Ow..
BalasHapusBaru tau, Om, klo wanita itu yang paling baik yg bagian belakang.
Tapi, Om, biasanya klo yang usah Ibu2 yang udah sepuh kok malah milih barisan depan, ya??
jika boss manggil, buru2 takut telat, kalo Allah Swt manggil dgn Adzannya masih lambat jalannya dan banyak alasan, kalo sama pacar ngobrol 2 jam kurang lama, jika ngobrol sama Allah Swt dlm Sholat, 5 menit terasa lama...hmmm..marilah jgn telat waktu sholat, jika sehari dlm sholat 5 waktu tiap sholat telat satu jam, berapa kali dalam usia kita mulai dari baliq?..maka jgn marah kalo Allah Swt juga menunda rizky kita menurut telatnya sholat kita...
BalasHapusmasjidnya itu di sebelah mana ya??? sepertinya aku gak pernah tau Pak Ies.
BalasHapussholat tepat waktu, Mama paling sering mengingatkan ke aku tentang ity. katanya emang berat, tapi lama kelamaan akan terasa nyaman. dan ternyata memang benar apa yang dikatakan beliau.
persamaan gender dan kedudukan dalam ero modern seharusnya berpegang teguh pada aturan yang ada
BalasHapusImam adalah Imam, tidak bisa dijadikan makmum
Pelajaran berharga yang saya kutip tentang tuntutan persamaan gender yang banyak diteriakkan saat ini sehingga melupakan kodrat yang seharusnya
Subhanallah, Terima kasih pak Ies pencerahannya
kakek sy kan punya masjid gitu sebelah rumah, sepiii juga, yang datang lebih banyak lansia, klo anak muda jarang soalnya biasanya yang jadi imam bacaannya suka panjang2 gitu, asik sih khusyuk gg ribut tapi pegel juga #eh jadi curhat :D
BalasHapusktanya jadi wanita baik itu caranya awalnya gampang tinggal shalat lima waktu tepat pada waktunya, aduduh tapi banyak banget gitu godaannya :(
Di beberapa tempat, orang lebih bersemangat ketika membangun masjid ataupun mushola, tapi tidak terlalu bersemangat untuk memakmurkan masjid dan mushola yang mereka bangun.
BalasHapusSemoga kita senantiasa menjaga sholat tepat waktu, berjamaah di masjid/mushola. amin, insya Allah.
Oh ya, Pak ( dan juga sahabat pengguna blogspot lainnya ), jika ingin form komentar blogspot dibuat berjenjang seperti yang saya pakai, tutorialnya bisa disimak di http://artistutorial.blogspot.com/2011/09/threaded-comments-for-blogger-comment.html
Selamat mencoba, semoga berhasil.
BELUM BEGITU PAHAM TUTORIALNYA MAS...
Hapus@Djangan Pakiestest komentar berjenjang
BalasHapus@Mbak Enny Lawmenarik sekali Mbak kalo kita sudah mampu secara istiqomah membiasakan diri melakukan yang seperti itu, karena saya sendiri seringkali 'nunggu' adzan berkumandang dibanfng harus mendahului waktunya. Semoga Alloh memberikan kemaudahan pada saya dan kita semua adar seperti mbak Enny
BalasHapus@Mbak Happy Fibi AnandaSemoga yang muda-muda bisa memberikan masukan secara arif pada generasi sepuh, karena kebanyakan dari kita belum mengetahui akan hal ini.
BalasHapus@Kang Adit Mahameruwah ini namanya sentilan sentilun yang mengena Kang, karena begitulah kondisi yang sering terjadi, banyak diantara kita mungkin termasuk saya lebih mementingkan urusan duniawi, sebuah hal yang kebalikan. Semoga sentilan ini menjadikan kita lebih baik
BalasHapus@Mbak armaeMasjidnya di sisi timur kompleks pasar besar, tepatnya dipertengahan jalan Kopral Usman sebelah kiri jalan ada gang.
BalasHapusAlhamdulillah kalo njenengan sudah merasakan sendiri nikmatnya sholat tepat waktu, karena Insya Alloh ada banyak kebaikan dan kemanfaatan di sana
@Kang Citrosblogbenar sekali Kang, bahwa Islam sebenarnya telah memberikan kedudukan yang istimewa pada kaum perempuan kalo kita benar-benar mempelajari Al Qur'an dan sunah. Memang tidak bisa langsung terlihat seperti yang diharapkan pemikiran persamaan gender era modern
BalasHapus@Mbak Tiara Fiction's Worldmenjai Imam Masjid selain bacaannya baik dan benar, juga banyak hal yang harus diperhatikan, salah satunya adalah bagaimana membuat shalat jamaah menjadi khusyu' tapi tidak memberatkan mereka. Ibaratnya perlu sebuah manajemen yang baik dalam menjalankannya.
BalasHapus@Kang Abi Sabilabenar sekali Kang, Masjid makin ramai tapi makin sepi yang memakmurkannya.
BalasHapusSaya sudah mencobakan saran pembuatan komentar berjenjang, terima kasih atas linknya ya Kang
@Mbak armaeohya Mbak, model komentar berjenjangnya di blog Njenengan dan Kang Abi Sabila telah menarik hati saya, dan ini sudah saya cobakan.
BalasHapusSemoga makin banyak masjid yang seperti di pasar besar kota Malang ya Pak, Aamiin...
BalasHapusMemang nama kotanya pantas diganti dari malang jadi Barokah ;)
Waktu ke Kuta puter-puter gak nemu masjid, nemunya di basement Matahari.
BalasHapusComent berjenjangnya keren juga pak, memudahkan menjawab komentar ya. Kok saya kadang malas bales komentar, langsung BW aja, lebih sering nulis dan baca-baca referensi, blognya lebih dari satu sih
kening yang "menghitam", kalau wajar dan sujud dengan menempelkan dahi ke sajadah atau alas....tidak akan membuat hitam, kecuali kalau digosok-gosok..
BalasHapus@Mbak Yunda HamasahInsya Alloh cukup banyak yang seperti itu, hanya saja kita belum tahu secara pasti.
BalasHapusJustru dengan nama kota Malang, menjadi gampang diingat. Ada bakso Khas malang, ada AREMA, ada bahasa seharian yang dibalik dan keunikan lainnya
@Mbak AmiNamanya juga minoritas, tentu agak susah mencarinya. Tapi saya yakin pasti adalah, paling tidak berupa mushola
BalasHapusDicoba aja Mbak, tuh ada link cara bikinnya dari Abi Sabila
@Kang aryadevi sudut kelasbenar sekali Kang, bahwa yang terpenting adalah bekas sujud itu menjadi pengontrol dalam penerapan kehidupan sehari-harinya. Tidak hanya berupa simbol bekas hitam saja
BalasHapusinsyaAllah Pakies, bunda karena perempuan jadi jarang juga melakukan shalat di masjid, krn utk perempuan kan lebih baik menunaikan shalat di rumah ya...
BalasHapusdan insyaAllah , Semoga Allah swt selalu membantuku utk istiqomah sholat di awal waktu ....
salam
@bunda LilyNah itulah Bunda, walopun Terdapat khilafiyah mengenai hukum boleh tidaknya wanita sholat berjamaah di masjid, sejauh yang saya ketahui:
BalasHapus1.Hukumnya mubah bagi wanita sholat berjamaah di masjid, dengan syarat ada izin dari suami/wali dan tak memakai wangi-wangian.
2.Yang lebih utama bagi wanita adalah sholat di rumah, jika sholatnya sholat jamaah, bukan sholat sendiri.
Saya pernah ke Pasar Besar Malang Ust. disana ada Ponpes PPHQ Nurul Furqon,,disana adik saya nyantri,,Masjid Raudhatus Shalihin memang besar tapi saya belum oernah merasakan sholat disana
BalasHapusPenasaran sama Masjid itu Mas, hebat ya mereka tak terlalaikan dalam urusan dagangnya.
BalasHapus@Kang Sofyanlha kalo ndak salah di Masjid Raudhatus Shalihin juga ada pesantrennya Kang, cuman saya ndak tahu namanya sebab letaknya lebih masuk sedikit dari Masjid
BalasHapus@Kang Obrolan Blogger.comBenar sekali Pak, sangat menyenangkan ketika tiba waktu shalat duhur dan asar di sana
BalasHapusSubhanallah...
BalasHapussalam kenal pak.
@Djangan Pakiesnah itu dia nama Ponpesnya Ust. Ponpes Tahfidhul Qur'an..jdi pngin ksana.,sdh 4 bln g' sowan sma Abah Yai disana
BalasHapusaminn.. terima kasih kunjungan balasannya pak..
BalasHapussalam silaturahim..
iya, bagus sekali kalau pedagag seperti itu semua ya. tapi saya sendiri masih sering telat :((
BalasHapusterimakaih sudah mengingatkan saya. saya akan coba melakukan shalat tepat waktu.makasih ya postingannya
BalasHapusHmm..terharu saya dengan orang-orang yang bisa menjaga awal waktunya..Apalagi ditengah kesibukan seperti itu, Insya Allah aktivitasnya selalu berkah :)
BalasHapus@Kang SofyanWah syukurlah kalo adiknya mondok di situ, semoga kelak menjadi hafidz/zha yang banyak memberikan kemanfaatan.
BalasHapus@Outbound Malangmatur sanget silaturrahimnya Kang, kapan-kapan kita bergelayutan ndak Coban ROndo
BalasHapus@Mbak litatentu akan semakin indah dan pasar akan menjadi menyejukkan jika terhuni oleh orang yang shalih/shaliha
BalasHapus@bisnis onlinesaya juga berusaha ke arah sana Sob, dan semoga kita diberikan kemudahan untuk itu
BalasHapussaya gagal pake kotak komen seperti ini -____-
BalasHapusbapak sering ke malang ternyata ya pak... :)
BalasHapusAlhamdulillah di kantor saya, teman2 banyak yang sholatnya tepat waktu dan berjamaah pula.
BalasHapusSemoga kebiasaan ini bisa dijalankan dg konsisten, amiin
@Mbak Ninda RahadiIya Mbak, selain nyari dagangan, kan saya punya rumah di kawasan jl sukarno hatta
BalasHapus@Mbak Irlyitulah yang diajarkan Baginda Rasululloh SAW, disamping berdagang, juga tidak melalaikan keajiban utama beribadah, bahkan akan lebih indah lagi jika selama menjalankan aktivitasnya, hati kita selalu terpaut pada Alloh Ta'ala
BalasHapus@Mbak Honeylizious Rohani Syawaliahmungkin sebelum dicobakan, terlebih dahulu di Revert widget templates to default, konsekuensinya beberapa widget akan hilang
BalasHapuskalau aku justru merasa kasihan dengan posisi jamaah wanita yang "terhalang"
BalasHapusmasalahnya adalah suara imam kadang kecil/tak terdengar akibat misalnya suara lalu lintas kendaraan lalu-lalang
jadi bila jamaah lelaki kesulitan mendengar suara imam, apalagi jemaah wanita
hmm...
BalasHapuspedagang sejati tentu ngga mau rugi, lalai berarti kita rugi waktu... semoga kita semua bukan orang2 yg merugi...
BalasHapus@Mbak ria hayaAlhamdulillah jika di kantor sudah seperti itu.
BalasHapusAssalamu'alaikum Pak Ies...
BalasHapusWaahh, kalo sy kerjanya ngikut orang...
Jadi ya kadang ninggalin sholat berjama'ah,,, hiks...
Oiya Pak Ies, maaf ya saya baru tahu kalo koment panjenengan pernah masuk spam. Saya baru tahu malah, soalnya sy jarang ngecek spam sie, sekali lagi maaf. Terimakasih, semoga jalinan silaturrahiim ini senantiasa mendapat ridho Alloh Subhanahu Wa Ta'ala. Amiin.
subhanallah...
BalasHapusbagus, orang-orang itu paham benar, siapa diri ini...shingga tak melalaikan kewajiban :D
Jd ikut 'tersentil' juga oleh commentnya pak adit Mahameru. Ngobrol sejam di telpon terasa sebentar tp baca Al Qur'an 30 menit sambil mbatin kok udaha lama banget ya? Sholat selesai salam, tangan langsung check Hp, krn dgr bunyi notifikasi? #malu asli
BalasHapusBtw, mau ikutan nyobain model commentnya ah...lanjut ke TeKaPe
di divisi saya, biasanya ada orang2 yg tepat sekali habis adzan langsung turun ke masjid pak ies. Alhamdulillah
BalasHapus