Sabtu, 31 Desember 2011

Janji di Ujung Telinga

          "Kang, nanti sore sampean  repot, ndak ?,
          "Insya Alloh ndak, emang ada apa to Sit ...?  
          "ehmm ... saya minta tolong diantar ke sekolah. Ada kegiatan OSIS untuk penyambutan tahun baru.
          "Penyambutan tahun baru ?, berarti kamu nginep di sekolah ?
          "Ya to Kang, namanya juga malam tahun baru"
          "Kamu sudah pamit Bapak dan Ibu ?

          "Sudah, dan beliau memperbolehkan. Karena kegiatan ini agenda sekolah dan saya kan diserahi tugas sebagai sekretaris. Apalagi tujuan kegiatanb ini untuk melakukan perbaikan diri dan muhasabah.

          "Muhasabah ? memangnya kamu ngerti apa itu muhasabah

          "kalo dilihat dari penjelasan sekilas tempo hari sih, kita melakukan introspeksi diri bersama-sama, untuk kebaikan bersama dan meningkatkan perbaikan jati diri serta sekolah Kang ..."

          "Kalo tujuannya untuk itu, kenapa harus menunggu akhir tahun?  Trimo mengharapkan jawaban yang memuaskan dari alasan yang dibuat adiknya.

          "Kan disamping itu, ini kesempatan kita ngumpul-ngumpul, sambil menghabiskan malam untuk menyambut tahuun yang baru"

          "Itu namanya bukan muhasabah to nduk, lebih tepatnya bersenang-senang. Trus, kenapa ketika dan tahun baru Hijriyah kemarin, justru  kalian ndak melakukan kegiatan apa-apa"

          "Ini memang agenda baru Kang, lagian acaranya kan dipandu Pembimbing rohani. Juga ada bikin api unggun segala, sebagai ganti penggunaan kembang api"

          "Halah tambah ruwet. Jangan-jangan, tujuan muhasabah hanya pengalihan saja untuk bersenang-senang, berpesta malam"

          "wah sampean jangan berprasangka buruk to Kang"


          "Ndak, kan yang sering kita dengar, banyak orang yang menetapkan diri melakukan muhasabah di akhir tahun. Di tahun baru hijriyah ato tahun baru masehi. Bahkan dengan berbagai cara melewatkan malam untuk menyongsongnya. Kamu harus ingat wejangan Mbah Kyai Abdullah, bahwa seorang muslim, idealnya  melakukan muhasabah tiap hari. Bisa menjelang tidur, ato setiap selesai sholat lima waktu, bahkan lebih bermakna lagi ketika di seperti malam. Karena waktu-waktu yang mustajabah. Apakah kita hari ini sudah melakukan banyak kebajikan, kemanfaatan atau sebaliknya. Bahkan kalo, di dalam sholat kita bisa melakukannya, apakah apa yang kita baca sudah sesuai dengan yang kita lakukan hari itu ato sebaliknya. Menghisab diri, menilai diri secara obyektif dengan menjadikan Al Qur'an dan Sunnah sebagai landasan, bukan berdasarkan keinginan hawa nafsu"


         "Tapi moment ini kan ndak setiap hari ada to Kang, kalo yang sampean jelaskan itu kan bisa kita lakukan setiap hari" Siti mencoba membuat argumentasi untuk meyakinkan Trimo.

          "Tuh kan, alasannya menjadi makin nggak jelas"
          "Jadi, boleh ndak Siti ikut acara itu ?" Siti nampak menunjukkan ekspresi agak kesal.

          "ehmmm ... gini aja, Insya Alloh nanti sore saya antar, dan saya pingin tahu secara jelas bagaimana acara itu dilangsungkan"

          "Lha sampean ikutan nginap?"
          "Nggak, cuman ingin memastikan adiku tercinta ini, mengikuti kegiatan yang benar"
          "Wah Kang Trimo bawaannya curiga mulu"

          "Ya iyalah, kamu kan adik satu-satunya, kalo acaranya ndak bener kan yang susah juga kita sekeluarga, dan untuk itu kamu harus berjanji"

           "Janji apa Kang ?"

          "Setelah tahun baru nanti, jangan pernah marah dan malas kalo Kang Trimo membangunkan kamu tiap malam untuk qiamul lail sekaligus bermuhasabah, bagaimana ?
          "Setuju, Insya Alloh saya lakukan. Tapi Kang Trimo juga harus janji pada Siti"
          "Wah kamu pinter muter permasalahan, harus janji apa hayo ..." dan Siti pun mendekati telinga kakaknya, membisikan sesuatu yang tidak begitu jelas terdengar, dan akhirnya keduanyapun tertawa sumringah. Telah terjadi sebuah kesepakatan, antara keduanya
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
        

Kamis, 29 Desember 2011

Tidak dilalaikan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Karena saya sering keluar rumah nyari dagangan, maka tidak jarang melakukan sholat jamaah dimana suara adzan terdengar saat itu.
Dan pada beberapa tempat, saya menjumpai kondisi yang memprihatinkan, karena yang berjamaah di situ bisa dihitung dengan jari, dan itupun rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun. Ini bisa jadi, karena saat ini yang namanya Masjid dan Mushola bertebaran dan sangat gampang sekali kita menemukan. Hanya saja, bertambah kuantitasnya, kurang diikuti yang memakmurkan di dalamnya. Saya mengistilahkan ramai dalam sepi, Masjidnya ramai, tapi isinya makin sepi. Mirisnya, saya pernah menemukan satu mushola yang berdekatan dengan komplek pertokoan dan warnet, tetap saja panggilan sholat itu tidak berpengaruh terhadap aktivitas mereka.

Lain halnya ketika saya berada di kompleks Pasar Besar Malang. Setiap kali menjelang adzan berkumandang, khususnya waktu dhuhur dan asar, beberapa orang sudah mempersiapkan diri menuju Masjid Raudhatus Shalihin, yang terletak di sebuah gang sempit. Tepatnya di jalan Kopral Usman Gang Masjid, sebelah timur kompleks pasar besar Malang.

Meskipun berada di gang sempit, Masjid ini cukup besar dan bersih. Ada tiga lantai, jamaah laki-laki berada di lantai dua dan lantai tiga, sementara jamaah wanita berada di lantai 1. Posisi jamaah wanita yang terpisah ini, sebagai bentuk manajemen yang baik dari takmir Masjid.  Tidak jarang, saya temukan posisi wanita yang diletakkan sejajar dengan jamaah laki-laki, dan mereka hanya dipisahkan tirai ataupun dinding tipis. Riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasululloh SAW bersabda:
"Sebaik-baik shaf (barisan) laki-laki adalah yang paling depan dan yang terburuk ialah barisan paling akhir. Namun seburuk-buruk barisan wanita adalah yang paling depan dan yang terbaik ialah yang paling belakang. (HR. Muslim)

Gang ini akan menjadi ramai, pas adzan berkumandang. Saya sangat terkesan dengan kondisi ini. Karena,
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS. An-Nuur: 37).

Ibnu Katsir berkata, “Mereka adalah orang-orang yang tidak disibukkan/dilalaikan oleh harta benda dan perhiasan dunia, serta kesenangan berjual-beli dan meraih keuntungan (besar) dari mengingat (beribadah) kepada Rabb mereka (Allah Subhanahu wa Ta’ala) Yang Maha Menciptakan dan Melimpahkan rezeki kepada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang mengetahui (meyakini) bahwa (balasan kebaikan) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih baik dan lebih utama daripada harta benda yang ada di tangan mereka, karena apa yang ada di tangan mereka akan habis/musnah sedangkan balasan di sisi Allah adalah kekal abadi (Tafsir Ibnu Katsir, 3/390).


Tidak sedikit dari mereka yang memiliki kening 'menghitam' sebagai gambaran mereka Insya Alloh sudah terbiasa sujud.  Sudah gitu, nampak kelelahan selama bekerja sebagai pedagang, tergantikan dengan kecerahan wajah. Sebuah gambaran pesona pribadi yang terpancar dari rona wajah merupakan efek luar biasa yang dianugerahkan Alloh SWT terhadap orang orang yang dekat dengan-Nya.


Tentu dari ratusan Pedagang Pasar Besar Malang shalat berjamaah di Masjid itu, tapi dari yang saya lihat mereka menggambarkan bahwa sebagaian besar dari mereka Insya Alloh tergolong orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan. 
Bagaimana dengan sampean ?
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jumat, 23 Desember 2011

Pembalap Jalanan

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Suara dari 2 alat musik menghentak, dan anak-anakpun berlarian menuju ke arah sumber suara, di sepanjang jalan pasar dekat rumah. Nggak ketinggalan si kecil Akmal pun sambil terheran-heran dengan tontonan yang baru pertama kali dilihatnya, Topeng Monyet berlagak seperti pembalap jalanan.

Saya ndak nyia-nyiakan kesempatan untuk merekam atraksi ini. Karena ndak ada persiapan, ngambil gambarnya pun asal-asalan. Ternyata, bukan hanya pintar naik motor GP dan sepeda ala teletubies saja yang dilakukan si Monyet, atraksi lain yang sudah umum dilihat juga ada seperti berlagak tentara, serta melakukan gerakan-gerakan unik kayak manusia. Hanya saja yang cukup menghibur penonton adalah balapannya.

Sepertinya si monyet sudah sangat terlatih dan sangat patuh pada pemiliknya. Kepatuhan yang keliahatannya karena rasa takut. Ini terpancar dari ekspresi si monyet ketika menerima perintah tertentu dari pemiliknya. Saya hanya berpikir, tentu untuk mengajari semua ini membutuhkan proses yang tidak sederhana. Karena begitu banyak ketrampilan yang dimiliki, sampai-sampai minta saweran uangpun bisa dilakukan.



Selesai semuanya, anak saya bertanya, "Nyapo kok monyete ditarik-tarik pake tali, mesakne yo ?" alias Kenapa monyetnya kok ditarik pake tali, kasihan ya ?. Anak saya yang masih balita merasa tercengang dan terheran atas sajian atraktif dari "kepintaran" monyet, dan menyisakan sebuah jawaban atas pertanyaan polosnya.

Ini sebuah upaya kreatifitas anak negeri dalam mencari rejeki, ato sebuah eksploitasi berlebihan ? Sampeanlah yang bisa menjawab atas nasib Pembalap Jalanan ini.

***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Minggu, 18 Desember 2011

Mak Jleb

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
Jleb ... begitulah kira-kira yang saya rasakan ketika membaca sirah perjalanan hidup An-Nawawi, yang nama lengkapnya Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Mari Al-Khazami Al-Haurani Asy-Syafi'i dengan gelaran Al Imam Al-Hafizh Al-Auhad Al-Qudwah, Syaikhul Islam, Ilmul-Auliya'.

Suatu ketika selama berhari-hari Beliau merasakan kegelapan hati, kebuntuan pemikiran, dan tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Ini tidak lain disebabkan menambah kebiasaan baru dalam kesehariaannya, yaitu 'mencoba' menyibukkan diri dengan belajar ilmu kedokteran dengan membaca kitab Al-Qanun. Padahal sebelumnya, sebagai Ulama, hari-harinya disibukkan dengan mengarang, menyebarkan ilmu, beribadah, wirid, puasa, dzikir, tabah dalam menghadapi kehidupan yang keras baik sandang maupun pangan. Pada akhirnya, Beliau memutuskan menjual kitab itu, yang pada akhirnya merasakan kembali hatinya bersinar (Syarah Hadits Arba'in, hal 18-19)

Begitulah perjalanan kehidupan seorang yang mengabdikan diri di jalan Alloh, bertransaksi yang indah dengan Alloh sehingga beliau merupakan satu ulama yang sangat hebat dengan karya-karya sangat banyak serta melahirkan Ulama terkenal.

Saya menjadi berpikir, hanya karena mengubah seperti itu saja, sudah sangat besar pengaruhnya. Padahal yang dilakukannya adalah perbuatan yang baik, karena mempelajari ilmu, bukan perbuatan yang mengarah pada kemaksiatan. Bagaimana dengan saya yang tidak memiliki pijakan yang istiqomah dalam menjalankan perintah Alloh. Bahkan saya sendiri terkadang tidak mampu mengontrol makanan apa saja yang masuk ke dalam tubuh saya. Apakah makanan itu halal dan toyyib ato justru makanan yang mendatangkan kerasnya dan gelapnya hati. Ini menjadi bahan renungan untuk saya sebagai manusia biasa, bahwa mengabaikan dan mengalihkan kebiasaan baik ato mengurangi kualitasnya, bisa jadi kebiasaan itu gampang terlepas. Dan akan menjadi berat untuk melakukan kembali.
 
Saya salut pada kaum wanita, yang setiap bulannya mendapatkan 'halangan' menstruasi yang tidak memiliki kewajiban mengerjakan shalat, tilawah, puasa dan begitu telah 'suci' dengan mudah menjalankan kembali kebiasaan shalihahnya. Ini yang seringkali membuat saya iri pada mereka, karena dengan berhenti minimal 7 hari bahkan ada yang sampai 15 hari namun dengan mudah mengembalikan kebiasaan shalihahnya. Ini yang mungkin saja tidak bisa saya lakukan dengan baik.

Maka bisa jadi setiap membaca sirah ulama, apalagi bagaimana kehidupan para Sahabat dan Sahabiyah Rasululloh SAW dalam memaknai hidup semata untuk beribadah pada Alloh Ta'ala, bisa jadi jantung ini copot karena berkali-kali mak jlab ... mak jleb
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sabtu, 17 Desember 2011

Binjai Blitar

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ketika melintas di beberapa ruas jalan di kota Malang tempo hari, saya tersenyum sendiri ketika membaca tulisan Binjai Blitar, di beberapa lapak penjual buah, yang rata-rata berupa mobil pick up terbuka. Bahkan ada yang nulis gedhe, Binjai asli Blitar. Sayangnya, saya ndak bawa kamera, jadi ndak bisa nampilkan tulisan itu di sini. Bawa hape tapi jadul, cuman bisa SMS dan manggil thok.

 Binjai Blitar, maksudnya ditujukan pada salah satu jenis rambutan (Nephelium sp.) yang dihasilkan dari wilayah Blitar. Sebenarnya ada beberapa jenis rambutan yang tumbuh dengan baik di wilayah Blitar, seperti varietas Lebak Bulus, Rapiah, Tangkue. Namun yang banyak dikembangkan di wilayah Sanan Kulon, Wlingi, Talun, Garum, Srengat, Wonodadi dan sekitarnya adalah jenis Binjai. Rambutan ini, merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia dan tumbuh sangat baik di wilayah Blitar. Buah tampak menarik, dengan kulit berwarna merah menyolok, rasanya manis dengan daging buah kenyal gampang terkelupas kalo digigit mudah ngelonthok.

Kalo sampean bertandang ke Blitar, terutama di perkampungan, hampir tiap rumah memiliki tanaman rambutan jenis ini. Apalagi saat ini musimnya, panenan berlimpah menyebabkan harga jual di tempat saya sangat murah. Lha gimana ndak murah lha wong hampir tiap rumah punya, paling ndak sebatang. Kalopun ndak punya, bisa saja sodara ato tetangga yang ngasih.

Nah, jelas kan maksud dari Binjai Blitar dalam tulisan ini. Ketenaran rambutan asal Binjai Sumatera utara ini, ternyata bisa tertempel pada nama Blitar, yang tentu saja bisa mengangkat nama Blitar dari satu sisi ini.
Selain rambutan binjainya, Blitar juga sentra penghasil telur, Nanas dan Belimbing, dan tentu saja nama besar Boeng Karno.

Nama terangkat dari ketenaran yang sudah ada, ini seringkali kita temukan dalam kehidupan sehari hari dalam banyak sektor. Hanya saja, ketenaran rambutan Asli Binjai yang tertempel pada rambutan Blitar adalah hasil kerja keras. Karena ketekunan warga dalam menanam, mengolah dan memaksimalkan lahan, jadilah Blitar menjadi salah satu sentra produksi rambutan. Rambutan Binjai Asli Blitar.
Pictnya pinjem agropolitan.com, Terima kasih .
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab,
 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Minggu, 11 Desember 2011

Andai Saya Menjadi Anggota DPD RI 2014

Belum pernah sekalipun terbayang dalam pemikiran saya untuk menjadi wakil rakyat di tingkat manapun, karena ini adalah berkaitan dengan amanah. Sebuah kata yang bermakna sangat luar biasa di dalamnya. Tidak hanya berkaitan dengan tugas dan kewajiban, tetapi sebuah tanggungjawab yang sangat luar biasa.

Pun demikian, sebuah pengandaian terkadang bisa saja kita lakukan, dan  Apa yang akan saya lakukan Andai saya menjadi Aggota DPD RI 2014 ?

Langkah awal, saya mempelajari seluk-beluk DPD RI, visi misi, latar belakang, tugas dan kewajiban DPD sebagai lembaga yang dapat mewakili kepentingan Daerah, menjaga keseimbangan antar daerah dengan Pusat, secara adil dan serasi. Mengakomodasi aspirasi daerah  dalam penetapan RUU dan dalam proses pengambilan keputusan politik untuk  hal-hal terutama yang berkaitan langsung dengan kepentingan daerah.


Sebagai anggota DPD RI 2014, khususnya untuk wilayah Jawa Timur yang mencakup wilayah yang cukup luas, maka awalnya adalah menyerap aspirasi dan isu-isu sangat penting dari DPD setiap Kabupaten dan Kota Madya, karena tidak mungkin saya langsung mengetahui secara total permasalahan masyarakat seluruh Jawa Timur.

Dalam pemikiran saya yang awam politik ini, langkah yang saya tempuh berikutnya adalah dengan menerapkan kepemimpinan amanah yang telah dijalankan para sahabat Rasululloh SAW dalam menjalankan pemerintahan dan mengemban amanah rakyat. Mereka dikenal memiliki kepribadian kepemimpinan yang dapat merepresentasikan nilai-nilai amanah yang telah diajarkan Rasulullah SAW.

Penerapannya adalah, setelah memahami kondisi, situasi, potensi serta isu permasalahan untuk seluruh Jawa Timur, maka dibuatlah usulan Rancangan Undang-undang untuk dibahas bersama sebagai pertimbangan DPR dalam menetapkan Undang-Undang. Optimalisasi Rencana Undang-undang tersebut yang terus lebih baik dari hari ke hari, dengan memperhatikan dan memantau terus-menerus permasalahan dan isu di daerah Jawa Timur, dengan langkah-langkah:
  1. Memaksimalkan potensi diri sesuai dengan kemampuan dan kapasitas saya, apalagi sebagai wakil daerah tentu tidak terbebani dan tidak mewakili kepentingan tertentu dan golongan. Ini sangat menguntungkan karena tidak akan terpengaruh terhadap kompromi politik yang seringkali tidak berpihak pada kepentingan rakyat.
  2. Mengoptimalkan kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah melalui pelayanan publik, terutama yang menyentuh masyarakat miskin. Perbaikan mutu dan pelayanan pendidikan, kesehatan, serta prasarana
  3. Menyertakan partisipasi masyarakat dalam setiap program yang dijalankan Pemerintah Daerah setempat dengan membuka kesempatan bagi putra daerah yang potensial untuk berperan serta sesuai dengan jalur dan kemampuannya. Termasuk transparansi manajemen pemerintahan yang berkaitan dengan kepentingan publik, seperti kesempatan mendapatkan lowongan pekerjaan, program pembangunan struktural yang transparan
  4. Melakukan kontrak kerja bagi pejabat struktural sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya agar mereka mampu menjalankan amanah penuh dengan tanggung jawab
  5. Mengedepankan kepentingan rakyat dari kepentingan diri sendiri, sebagaimana Umar bin Khatab ra tidak memakai lampu yang berarasal dari milik negara ketika membicarakan masalah keluarga di malam hari.
  6. Hidup sederhana, yang terpenting barokah bukan mencari kesempatan ketika berkuasa. Abu Bakar As-Siqid, Umar Bin Khatab Ra dan Umar Bin Abdul Azis Ra dan sahabat lainnya, justru memberikan hartanya untuk kepentingan negara. Bukan sebaliknya mencari kembalian modal ketika mencalonkan diri menjadi wakil rakyat.
  7. Selalu mengingat perkataan Abdullah bin Umar ra, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Al-Bukhari no. 844 dan Muslim no. 1829) 
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 Tulisan ini saya sertakan dalam Lomba yang diselenggarakan DPD RI  "Seandainya saya menjadi Anggota DPD RI".

    Selasa, 06 Desember 2011

    Menyehatkan Lelah Mata

    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ  
    Beberapa teman menanyakan kondisi mata saya yang lelah tempo hari, baik di blog ini, fb maupun di twitter @pakiess. Maka jawaban saya adalah, kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Trus apa yang sudah saya lakukan untuk itu ?.  Hampir 2 minggu, mengistirahatkan secara total dari depan monitor PC. Selanjutnya, saya membatasi penggunaan mata ini di depan monitor, dan hasilnya Alhamdulillah jauh lebih enak. Konsekuensinya, saya tidak bisa berlama-lama melakukan blogwalking.

    Saya menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya pada sahabat-sahabat semua yang telah memberikan masukan, bagaimana mengatasi mata yang lelah lewat komentar di postingan sebelumnya. Kalo saya simpulkan,

    1. Saran terbanyak dari sahabat-sahabat adalah mengistirahatkan mata dari depan monitor, dan ini sudah saya lakukan hampir 2 minggu
    2. Beberapa diantaranya menyarankan untuk mengatur jarak mata dan posisi duduk terhadap monitor. Mengatur kekontrasan monitor dan cahayanya. Trus sering berkedip, tiap beberapa menit mengalihkan pandangan ke tempat lain
    3. Kalo masalah ceck mata, saya sudah pake kaca mata min dan plus, dan terkadang lupa make. ini juga bisa berpengaruh pada kondisi mata saya
    4. Mbak Dhana menyarankan dengan cara tradisional yaitu dengan merendam kedua mata didalam rendaman  3 lembar daun sirih beberapa menit.
    5. Mengehentikan kebiasaan membaca buku sebelum tidur
    6. Kang Gaelby menyarankan menggunakan air daun pinang 3 lembar yang terlebih dahulu di bersihkan kemudian diembunkan, kemudian diambil ekstraknya. Hanya saja penggunaannya belum dijelaskan secara mendetail
    7. Mbak Yunda Hamasah, menyarankan menggunakan OTM herbal. Juga ada terapi dengan memberikn 2 tetes madu sebelum tidur, tapi beliau belum mencoba.
    8. Mbak Indi menyarankan menggunakan gel mata ato kompres untuk memperlancar peredaran darah bagian bawah mata. Ini untuk menghindari longgarnya otot mata yang berdampak pada kelelahan
    9. Banyak yang menyarankan seringkali mengkonsumsi jus wortel, juga banyak mengkonsumsi buah segar dan sayur-sayuran. dan ini sudah saya lakukan
    10. Mbak Elsa menyarankan dengan mengompres pake mentimun, biar adem
    Saya sangat tertarik dengan kebiasaan Mas Budi  Info Blog Keluarga dengan komentarnya,
    "Saya juga sering mengalami hal yang sama, jika sudah demikian biasanya saya hentikan kebiasaan membaca hingga tertidurnya. Biasanya habis wudhu menjelang tidur gak baca buku lagi dan langsung memejamkan mata ditempat tidur sambil mengucapkan hafalan qur'an yang saya hafal. Alhamdulillah biasanya juga akan tertidur...
    Kebiasaan yang sangat menarik sebelum tidur yang beberapa waktu mulai lepas dari saya. Dan saya mencoba menerapkan saran beliau, dan ternyata Alhamdulillah dalam beberapa hari saya dengan sangat gampang tidur pulas tanpa harus melelahkan mata melalui membaca buku. Dengan cara yang sama, yaitu mengawali dengan wudhu, kemudian berbaring sambil menghafalkan bacaan-bacaan Al Qur'an surat-surat pendek. Terkadang sambil menghafalkan artinya agar lebih bermakna, yang pada akhirnya terjadilah proses muhasabah yang indah mengantarkan diri menuju istirahat malam. Ini tidak saja mengistirahatkan mata, tetapi berusaha menajamkan diri untuk selalu berusaha maksimal berinteraksi dengan Al Qur'an. Semoga ini menjadi kebiasaan yang baik dan istiqoma untuk kita lakukan.

    Saya jadi teringat Almarhum Nenek Mertua saya, yang sampai usia 90 tahun masih bisa membaca Al Qur'an tanpa menggunakan kaca mata. Ini karena kebiasaan beliau yang terbiasa berinteraksi dengan bacaan Al Qur'an setiap harinya. Jadi, saya menjadi lebih berfikir, ternyata membaca Al Qur'an selain mendatangkan pahala dan banyak kebaikan, juga menyehatkan mata.
    Mari kita membiasakan diri berinteraksi dengan Al Qur'an tiap harinya, walo satu ayat, bisa ?
    ***
    "Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
    Wallahu a`lam bish-shawab
    semoga bermanfaat
    وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Minggu, 04 Desember 2011

    Tasu'a dan Asyura di Bulan Muharram 1433 H

    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
    Akhir-akhir ini, saya salut terhadap langkah yang sangat indah, dilakukan beberapa sahabat dalam menulis 11 hal ato tepatnya 33 hal yang berkaitan dengan kehidupannya. Ini tidak terlepas dari ide cemerlang dari Mbak Thia dan Mbak Yunda Hamasah yang menggelar kontes gurindam muharram. Walo tidak secara langsung ikut meramaikannya, saya terinspirasi menulis juga tentang bulan muharram.

    Tekad mereka adalah meninggalkan hal-hal yang kurang bermanfaat dan mencanangkan hal-hal kebaikan untuk langkah ke depan. Semangat menyambut tahun baru 1433 H yang dilakukan sahabat-sahabat merupakan hakikat semangat hijrah. Mereka mampu mengambil ibrah dari peristiwa penetapan bulan muharram sebagai bulan pertama Islam sejak 1433 tahun lalu yang dilakukan Sahabat Umar bin Khatab ra. Hijrah maknawi yang dilakukan patut dijalankan oleh kita setiap pribadi muslim. Karena dengan tekad mengubah kebiasaan dan pola hidup dari yang kurang dan tidak bermanfaat menuju kebaikan, adalah wujud dari hijrah itu sendiri dalam kehidupan kita.

    Bulan muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Alloh SWT (QS At Taubah:36). Di bulan ini kita juga disunahkan melakukan puasa sunnah, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasululloh SAW bersabda' "Puasa yang paling utama setelah (puasa) ramadhan adalah (puasa) di bulan Alloh (bulan) Muharram, dan sholat yang paling utama setelah shalat wajib (lima waktu) adalah shalat malam" (HR Muslim No 1163).

    Puasa sunnah yang utama di bulan Muharram adalah Puasa 'Asyura yang dijalankan pada tanggal 10 muharram, karena Rasululloh SAW ditanya mengenai puasa Asyura, Beliau menjawab, "ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu" (HR Muslim No 1162).

    Puasa ini akan lebih baik lagi jika digandengkan dengan puasa  tanggal 9 muharram yang dikenal dengan puasa Tasu'a. Rasulullah SAW berazam untuk menjalankannya, meskipun Beliau tidak sempat menunaikannya karena wafat sebelum bulan muharram tiba. Dan pada sahabat menjalankan puasa tasu'a seperti keinginan Rasulullah SAW: "Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu'a (kesembilan) (HR As-Suyuthi dari Ibnu Abbas, dishahihkan Al Bani dalam Shahihul Jami')

    Hari ini minggu 4 desember 2011 ato 8 muharram 1433 H. Nah saya menyemangati diri saya sendiri, dan keluarga serta mengajak sobat-sobat blogger untuk melaksanakan puasa sunnah Tasu'a dan puasa sunnah Asyura yang dimulai Insya Alloh besok senin 5 desember dan 6 desember 2011. Semoga kita diberikan kemudahan menjalankannya dan mendapatkan ampunan atas segala dosa setahun lalu, dan kita melangkah di tahun baru ini 1433 H dengan langkah yang penuh keberkahan dan ridha Alloh. Insya Alloh amin.
    Gimana sodaraku, mau ?


    ***
    "Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
    Wallahu a`lam bish-shawab
    semoga bermanfaat
    وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Jumat, 02 Desember 2011

    Mencari Kenikmatan dalam Sholat (bagian 1)

    بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
    Seperti biasa, sambil menunggu waktu shalat isya', sebagian jamaah duduk di beranda surau. Di tempat inilah hampir tiap hari terjadi obrolan gayeng. Obrolan yang lebih banyak membawa kemanfaatan. Kalopun membicarakan orang lain, hanyalah untuk mengambil sisi positipnya. Sebelumnya, waktu yang tidak terlalu banyak ini digunakan untuk kajian-kajian yang disampaikan Mbah Kyai Abdullah, yang pada akhirnya digeser ba'da subuh karena berbagai alasan.

              "Kemarin saya melihat seorang laki-laki sepuh, berkali-kali melakukan tabilatul ihram ketika menjalankan shalat sunat. Bahkan pada akhirnya Beliau mengurungkan shalatnya, memilih duduk di pojok masjid, sambil sesekali terdengar sesenggukan lirih. Saya tidak memberanikan diri untuk menanyakan kenapa beliau melakukan hal itu" Saya mencoba menceritakan kejadian kemarin ketika saya ada kesempatan ke sholat di Masjid Besar Kecamatan.

              "Mungkin tergoda syetan kali, ato pikirannya kemana-mana" sela Warso. Biasanya, orang yang seperti itu selalu was-was dan ragu dalam menetapkan niatnya" imbuhnya

               "Bisa juga seperti  itu So, tapi yang membingungkan kenapa Beliau tidak meneruskan shalatnya"

               "Barangkali dengan itu upayanya membuang rasa was-was" Daslam mencoba membuat sebuah analisis

              "Insya Alloh jawaban kalian bener semua, karena bagaimanapun juga yang namanya syetan selalu punya banyak cara dan tipu muslihat mempengaruhi hati manusia, apalagi ketika kita hendak dan sedang melaksakan shalat. Dan bisa jadi, kondisi yang dilihat Trimo pada orang tersebut, karena ada faktor lainnya"

              "faktor yang bagaimana maksudnya, Abah ?" saya sangat penasaran

              "Bisa jadi, Beliau sangat menyatu dengan sholatnya "

              "Kalo nyatu dengan sholat, kenapa justru menghentikan sholatnya dan memilih duduk, Abah ? tanya Warso sambil mengeryitkan dahinya

              "Ini hanya perkiraan Abah saja, karena kita tidak pernah tahu isi hati orang lain. Suara hati adalah perkara ghaib. Nah, bisa jadi, ketika niat sholat telah ditetapkan, dan mengucapkan Allohu Akbar sudah tidak mampu, itu karena rasa cinta dan keagungannya pada Alloh Ta'ala.

              "Menurut saya justru seperti keliatan berlebihan Bah. Seperti mempersulit diri sendiri. Bukankah Alloh tidak pernah membebani dan memperberat umatNya dalam menjalankan ibadah" Saya mencoba berargumen, karena masih belum bisa memahami jalan pemikiran Abah Kyai.

              "Makanya, kita kan ndak pernah tahu apa yang terjadi kan ?, Abah hanya mencoba memaknai apa yang kamu lihat pada orang tersebut. Bagini saja, Abah nanya, pernahkah kalian menangis ketika sholat?"

              "Pernah ..." hampir berbarengan kami bertiga menjawabnya

             "Apalagi ketika saya sedang mendapatkan masalah dan kesempitan" saya mencoba memperjelas.

             "Sama Bah, saya juga akan sangat berlama-lama sujud sambil menangis dan menumpahkan segala beban diri" Warso menambahkan

            "Bahkan saya mengkhususkan sholat tahajud untuk hal-hal yang memberatkan pikiran saya" Daslam tidak mau kalah.

              "Bagus itu kalo kalian bisa meneteskan air mata ketika sholat. Tapi apa ya ketika susah saja kalian bisa nangis dalam sholat ?

             "nggih Abah ..."

             "Sekarang kita balik, pernahkah kamu ketika merasa bahagia, nangis dalam sholat?". Tidak satupun dari kami yang bisa membuka suara. Saya bergeming diam karena memang belum pernah mengalaminya. Dan sepertinya kedua sahabat saya mengalami hal yang sama seperti yang saya rasakan.

             "Belum pernah terbersit dalam pikiran saya, Bah ?"
             "Saya juga belum memahami " sela Warso

             "Nah, ketika kalian mampu meneteskan air mata dalam kondisi apapun, baik senang maupun susah, itu artinya sholat kalian benar-benar menyatu dalam komunikasi indah dengan penciptaNya. Sebuah keadaan kekhusyukan yang sangat bermakna. Karena suasana hati dan kondisi diri sudah tidak terpengaruh lagi, semua sudah terkalahkan karena kalian berada pada wilayah kenikmatan sholat"

              "Saya belum memikirkan sejauh itu Bah" kata Daslam sambil membetulkan poisisi duduknya lebih mendekat pada Abah Kyai, karena merasa sangat tertarik dengan apa yang disampaikan.

              "memangnya bagaimana melakukan seperti itu" Warso tidak sabar mendengarkan kelanjutannya


             "Abah nanya lagi pada kalian, apa pengertian khusyu' dalam sholat menurut kalian?       
             "berkonsentrasi dalam sholat"
           
             "tidak memikirkan lainnya selain sholat"

             "membaca dengan benar". Jawaban kami macam-macam sesuai dengan apa yang kami pahami dan apa yang kami alami.

             "semua sudah kalian lakukan ?"

             "saya berusaha melakukannya, tapi seringkali pada saat-saat tertentu, konsentrasi saya berubah-ubah. bahkan bisa jadi saya ndak nyadari apa yang saya lakukan"
           
            "Itu wajar, Mo semua orang sering mengalami hal semacam itu.  Sebenarnya sholat yang khusyu' itu bisa kita latih setiap kita sholat, sampai kita benar-benar merasakan makna sholat, bahkan kita nanti akan bisa menyimpulkan bahwa memang sholat adalah ibadah yang sangat luar biasa. Ketika itu, kita akan merasakan benar bahwa sholat memang bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Sholat dan sabar adalah sebagai penolong kita ketika dalam masalah. Sholat adalah tiang agama, Sholat adalah amalan pertama yang ditanyakan di hari akhir kelak, Sholat membersihkan jasmani dan ruhani kita, dan masih banyak makna yang terkandung dalam sholat untuk kehidupan kita, baik secara pribadi maupun sosial"

            "Subhanalloh, semoga kita bisa menemukan kondisi penyimpulan yang seperti itu ya. Terus, langkah apa yang harus kita lakukan Bah ?

             "Ada tiga hal yang harus kalian lakukan untuk hal itu. Pertama, Sholatlah tepat waktu bahkan kalian sebagai laki-laki berkewajiban sholat jamaah di Masjid ato surau terdekat. Kedua, Gerakan sholat kalian harus benar dan sesuai yang dicontohkan baginda Rasululloh SAW, dan ketiga kalian harus benar-benar tahu apa yang kalian baca, juga mengerti akan artinya. Dengan ketika itu, kita bisa menyatukan dalam sebuah kekhusyukan yang bermakna.

            "Mohon dijelaskan satu persatu Abah ..."

              "Pertama sholatlah tepat waktu, ini akan membiasakan kita untuk istiqomah menjalankan sholat, karena dengan itu ada sangat banyak kebaikan yang akan kita dapatkan. Salah satunya adalah kita Insya Alloh akan diringankan untuk 'mencintai shalat'. Dan dengan itu, kita akan menjadi ringan melakukan sholat apapun, baik yang wajib maupun yang sunat"

              "Tapi kalo sholat berjamaah, apa kita bisa khusyu' dan menangis. Karena terkadang Imam sholat kita justru memimpin sholat bagaikan kilat. Kita belum sempat tuma'ninah, Imam sudah melakukan gerakan sholat berikutnya"

             "Iya Bah, dulu waktu saya merantau juga begitu, saya memutuskan sholat sendirian di rumah, karena Imam Masjid di tempat tinggal saya kurang bisa memimpin sholat dengan baik"

             "Maksudmu apa to Das, kok ada Imam sholat yang seperti itu" tanya Warso

             "Lha gimana kita mo mengikuti di belakangnya dengan baik, lha wong yang diucapkan seperti sudah hafal diluar kepala. Bahkan saya pernah berpikir, jangan-jangan dia ngucapkan dalam hati, Yaa... Alloh bacaannya seperti yang tadi .... lha kan parah ...." Daslam berkelakar

             "wuih kamu bersu'udzon ..." tukas Warso

             "Ndak, cuman menggambarkan saja, karena begitu cepatnya sholat yang dilakukan. Apalagi kalo lagi musim shalat tarawih. lebih parah tuh. Masak setelah surat setelah Al Fatihah, cuman baca Yaa ... siiin ..., terus rukuk.

            "wah kalian semua ngelantur, biarkan Abah meneruskan penjelasannya" Saya mencoba meluruskan pembicaraan

             "Kalo kalian terbiasa khusyu', Insya Alloh bisa saja. Tentu, untuk melatih kekhusyukan sholat lebih nyaman ketika kita sholat sendiri, apalagi jika kalian terbiasa menegakkan qiyamul lail. Terbiasa melakukan tahajud di sepertiga malam. Dalam kondisi yang sangat hening, tenang, kalian bisa melatih kekhusyukan. Jadi semua kalian awali terlebih dahulu dengan sholat tepat waktu, lalu kerjakan sholat rawatib dan jika itu sudah terbiasa, fa Insya Alloh kalian akan kalian akan mendapatkan nur hidayah yang tercurah ke dalam qolbu kalian. Yang dengan itu akan menumbuhkan kecintaan pada shalat. Ketika itu, akan menjadi modal yang sangat penting dalam mencapai kenikmatan dalam sholat. Kalian akan merasakan 'surga' di dalam sholat

            "surga dalam sholat ?
    ..... ................ bersambung (kata Kang Sukadi : sebisanya, sesempatnya. maklum, masih 'lelah mata')


    ***
    "Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
    Wallahu a`lam bish-shawab
    semoga bermanfaat
    وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

    Bayi Sapi


    Berjam-jam Trimo dan Warso merasa was-was menunggu hadirnya calon makluk baru di dunia ini, anak sapi. Detik-demi detik proses tak terlewatkan dari pengamatan kedua remaja ini. Kilatan cahaya rembulan dan lampu obor memantulkan adanya titik air mata di sudut matanya. Walau hanya seekor sapi, ternyata induk yang baru pertama kali melahirkan ini nampak kesulitan dalam proses melahirkan.


    Ketika lewat tengah malam, perjuangan Sapi betina milik Trimo terbayar dengan lahirnya seekor sapi jantan. Sebuah lenguhan mengakhiri perjuangan panjangnya. Bayi sapi yang beberapa menit lahir, menggerakkan tubuhnya untuk belajar berdiri. Sebuah proses kemandirian sedang berlangsung. Sementara induknya dengan setia menjilati lendir di sekujur tubuh bayinya dengan penuh kasih sayang.


    Keempat kakinya gemetar menahan beban tubuh dan sesekali terjatuh, sementara sang Induk memberikan semangat dengan menahan badan bayinya dengan ujung moncongnya. Hingga setengah jam lebih berlalu, kedua mata bayi sapi terbuka dan sejurus kakinya seperti ada yang menggerakkan menuju tetek induknya.


    Kedua remaja ini masih duduk berjongkok di samping kandang sambil sesekali menyantap singkong goreng yang ditemani wedang jahe.


    "Kenapa kok Induknya menjilati lendir bayinya ya Pak Dhe" tanya Warso pada Pak Dhe Sugeng ayah Trimo,
    "ya biar ndak kedinginan dan tidak dikerubuti semut dan lalat"
    "Memangnya rasanya manis ya Pak Dhe?
    "ya kalo penasaran, coba kamu incipi sedikit So" sahut Trimo sambil tertawa
    "Nggak, jijik kalo lihat lendir"


    "Induknya sangat sayang ya Pak?" tanya Trimo pada Bapaknya
    "Ya jelas, itu adalah naluri induk yang diberikan Allah pada Makhluknya"


    "Sapi ternyata lebih hebat dari manusia" gumam Warso
    "Edan, maksudmu opo to So" Trimo nampak tidak senang mendengar kalimat Warso
    "Endak, saya ndak bermaksud membandingkan dengan manusia, karena manusia sudah jelas adalah mankluk yang sempurna.
    "Trus maksudmu apa?"


    "lha iya, hewan saja sangat sayang pada Anaknya, kenapa banyak kita dengar orang tua yang membuang bayinya" lanjut Warso bersungut
    "Itulah, yang dimau hanya enaknya saja, tapi giliran mendapatkan amanah justru lari"
    "Akibat pergaulan bebas kali ya So"


    "Kayaknya bukan hanya pasangan diluar nikah yang melakukannya" kata Trimo sambil mencomot singkong yang sudah dingin


    "Itulah manusia, pada hal bayi itu sangat istimewa" Sela Pak Dhe Sugeng yang dari tadi hanya mendengarkan percakapan dua remaja ini sambil memijat-mijat Induk sapi "Maksudnya Pak Dhe..." Warso penasaran


    "Coba saya tanya, kamu senang ndak sama adik bayimu"
    "Kalo itu jangan ditanya, setengah jam ndak lihat dan nyium dia, rasanya belum sarapan pagi"


    "Saya tanya lagi, apa yang kamu senangi dari adikmu"
    "Ya semuanya, senyumnya, tatapan matanya, geraknya, pokoknya semuanya lah"


    "Nha ... itu dia, semua yang ada pada bayi sungguh menarik untuk dilihat dan di sentuh. Bahkan kita tidak akan merasa jijik melihat kotoran maupun pipisnya". Bau mulutnya wangi, bau tubuhnya juga segar sekalipun seharian belum mandi" Jelas Pak Dhe Sugeng.


    "Kok bisa begitu ya Pak Dhe..." Warso penasaran
    "Yha ndak tahu, mungkin itulah karunia yang diberikan Allah pada bayi yang masih suci. yang belum tersentuh oleh kekotoran jiwa. Belum bersinggungan dengan kemaksiatan panca indra"


    "masuk akal juga ya ..." kata Trimo lirih


    "Bukan hanya masuk akal, tapi itulah Allah swt kalo berkehendak. Coba ingat bagimana Mbah Kyai Abdullah pernah menjelaskan bagaimana Kepribadian Junjungan kita Baginda Rasulullah saw. Manusia yang sangat diistimewakan Allah bahkan sampai namanya menyatu dalam kalimat Syahadat. Siapapun yang memandang beliau akan terkesima, bahkan bau tubuh beliau selalu wangi. Itu semua karena kesucian jiwanya yang telah dilindungi Allah dari segala bentuk dosa, yang diawali dengan penyucian jiwa dan batin oleh dua Malaikat"


    "berarti saya masih jauh dari bersihnya jiwa" kata Warso memelas
    "kok begitu ..." tanya Trimo


    "Nih bau tubuhku masih menyengat ndak enak" jelas Warso nyengir sambil mengedekatkan ketiaknya pada kedua lubang hidungnya


    "kamu mau tahu caranya membersihkannya? kata Trimo
    "gimana...?"


    "Sana ... tidur tengkurap di sebelah bayi sapi, biar dijilati induknya... hhhh"


    "Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"

    Wallahu a`lam bish-shawab,
    semoga bermanfaat
    wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Cita-cita Trimo Thulul ‘Amal Warso

    Trimo dan Warso memandangi Sapi dan anaknya setelah dimandikan dan dibiarkan merumput sebebasnya di pinggir lahan kosong sebelah sungai. Kedua remaja berbaring di bawah pohon beringin tua sambil menikmati semilir angin pegunungan

              "Angin seperti ini membuatku sangat ngantuk Mo" Warso memulai obrolan sambil membetulkan letak kepalanya di salah satu akar pohon.

              "Ya sudah tidur sana, nanti aku bangunkan kalo mo pulang"          "Wah kalo gini aku ndak bisa langsung tidur"
    "emange kenapa?"
    "Aku biasa tidur dengan diawali proses panjang dan melayang"
    "maksudmu?

    "Setiap menjelang tidur, aku seringkali membayangkan cerita-cerita yang sering saya dengar tentang masa depanku sampai aku tertidur"kata Warso sambil memejamkan matanya
    "Memangnya apa yang kamu pikirkan tiap malam?"

    "ini cerita lawas yang sering kita dengar. Aku membayangkan ayam-ayam yang ada di rumah bertelur setiap hari. Telur-telur menetas sehingga ayamnya bertambah banyak. Lalu dijual dibelikan kambing. Kambing beranak pinak dijual dibelikan sapi dan begituuuu seterusnya sampai aku menjadi juragan desa bahkan kalo perlu jadi Kepala desa"

    "hwa ..ha ... ha..., persis cerita dagelan Ludruk kemarin."Lalu apa yang telah kamu perbuat?"
    "Memelihara 2 ekor ayam jantan dan betina"
    "trus?"

    "ya sudah itu saja, biarkan saja ayam itu tumbuh dengan sendirinya"
    "arti kamu pasrah terhadap kerja keras ayam itu kan?. Kapan tercapaiya sampainya keinginan kamu. Itu namanya panjang angan.

    "lha terus saya harus bagaimana?"

    "Ingat ndak penjelasan Pak Guru kita dulu, tentang cita-cita"
    "yang mana ? kayaknya aku lupa"
    "dasar... tukang tidur"

    "Kata Pak Guru, setiap orang itu kalo mau sukses harus punya cita-cita"
    "Benar, trus ..."
    "Berapapun cita-cita yang dimiliki itu menjadi bagus"
    "lha malah kamu lebih panjang angan" Warso menyindir

    "Nhah kita jangan hanya mengumpulkan cita-cita saja, tapi buat perencanaan yang matang"
    "wuih omonganmu kayak Pak Guru Saja, bahkan pantas jadi Kepala Sekolah hhhhh"
    "Dengar dulu"
    "oke saya dengarkan"

    "Buatlah semacam perencanaan terperinci dari cita-cita dan keinginan yang hendak kamu raih. Trus tulis faktor-faktor apa saja yang mendukung dalam pencapaiannya. termasuk jika harus melibatkan orang lain tulis siapa saja mereka. Nah selanjutnya koreksi setiap minggu berkala, langkah apa saja yang telah kamu capai untuk itu. Kendala apa saja yang telah menghambat. Sehingga dengan itu kita bisa menentukan langkah yang lebih baik untuk berikutnya. Dan terpenting lagi semua ini butuh proses, pelan dan istiqomah dijalankan"

    "Trus kamu apa ya melakukan semua ini?"
    "Ya lah"
    "tapi aku kok ndak tahu?" tanya Warso sedikit kesal

    "Maaf to Mo, aku hanya tidak ingin salah dalam menjalani hidup yang belum aku jalani. Jadi, aku sengaja tidak pernah menceritakan semua cita-citaku pada orang lain sebelum langkah itu sukses aku lakukan. Jadi kalopun kelak cita-citaku tidak berhasil, hanya aku dan Alloh swt yang tahu, yang penting aku sudah bercita-cita, berusaha, berikhtiar dan berdo'a secara istiqomah dan akhirnya bertawakal. Pasrah terhadap kehendak Alloh"

    Kang Warso ... Kang Warso ...! lama-lamat terdengar teriakan Zubaidah adik Warso yang suaranya makin jelas mendekat. Warso dan Trimo berbegas bangkit dalam kebingunan,
    "Ada apa Idah ..." Tanya Warso ketika adiknya semakin mendekat
    "Anu Kang ... Ayam sampean mati semua ..."
    "Apa ... ? ... Kenapa ...?

    "Ndak tahu sepertinya semua mati kaku, sampean lupa tidak mengurung mereka. Khan kemarin Pak Darman sudah berpesan kalo sawahnya di pasang racun tikus. Saya yakin ayam sampean makan umpan tikus"
    tiba-tiba di atas kepala Trimo seperti ada kilauan bintang dan kunang-kunang berterbangan ...
    brugggg ...
    Warso pingsan tertimpa sejuta angan
    ================================================
    "Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akherat"
    Wallahu a`lam bish-shawab,
    semoga bermanfaat
    wassalamu `alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    catatan:
    • Thulul ‘Amal = panjang angan
    • Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari, cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik (wikipedia)