بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Seperti biasa, sambil menunggu waktu shalat isya', sebagian jamaah duduk di beranda surau. Di tempat inilah hampir tiap hari terjadi obrolan gayeng. Obrolan yang lebih banyak membawa kemanfaatan. Kalopun membicarakan orang lain, hanyalah untuk mengambil sisi positipnya. Sebelumnya, waktu yang tidak terlalu banyak ini digunakan untuk kajian-kajian yang disampaikan Mbah Kyai Abdullah, yang pada akhirnya digeser ba'da subuh karena berbagai alasan.
"Kemarin saya melihat seorang laki-laki sepuh, berkali-kali melakukan tabilatul ihram ketika menjalankan shalat sunat. Bahkan pada akhirnya Beliau mengurungkan shalatnya, memilih duduk di pojok masjid, sambil sesekali terdengar sesenggukan lirih. Saya tidak memberanikan diri untuk menanyakan kenapa beliau melakukan hal itu" Saya mencoba menceritakan kejadian kemarin ketika saya ada kesempatan ke sholat di Masjid Besar Kecamatan.
"Mungkin tergoda syetan kali, ato pikirannya kemana-mana" sela Warso. Biasanya, orang yang seperti itu selalu was-was dan ragu dalam menetapkan niatnya" imbuhnya
"Bisa juga seperti itu So, tapi yang membingungkan kenapa Beliau tidak meneruskan shalatnya"
"Barangkali dengan itu upayanya membuang rasa was-was" Daslam mencoba membuat sebuah analisis
"Insya Alloh jawaban kalian bener semua, karena bagaimanapun juga yang namanya syetan selalu punya banyak cara dan tipu muslihat mempengaruhi hati manusia, apalagi ketika kita hendak dan sedang melaksakan shalat. Dan bisa jadi, kondisi yang dilihat Trimo pada orang tersebut, karena ada faktor lainnya"
"faktor yang bagaimana maksudnya, Abah ?" saya sangat penasaran
"Bisa jadi, Beliau sangat menyatu dengan sholatnya "
"Kalo nyatu dengan sholat, kenapa justru menghentikan sholatnya dan memilih duduk, Abah ? tanya Warso sambil mengeryitkan dahinya
"Ini hanya perkiraan Abah saja, karena kita tidak pernah tahu isi hati orang lain. Suara hati adalah perkara ghaib. Nah, bisa jadi, ketika niat sholat telah ditetapkan, dan mengucapkan Allohu Akbar sudah tidak mampu, itu karena rasa cinta dan keagungannya pada Alloh Ta'ala.
"Menurut saya justru seperti keliatan berlebihan Bah. Seperti mempersulit diri sendiri. Bukankah Alloh tidak pernah membebani dan memperberat umatNya dalam menjalankan ibadah" Saya mencoba berargumen, karena masih belum bisa memahami jalan pemikiran Abah Kyai.
"Makanya, kita kan ndak pernah tahu apa yang terjadi kan ?, Abah hanya mencoba memaknai apa yang kamu lihat pada orang tersebut. Bagini saja, Abah nanya, pernahkah kalian menangis ketika sholat?"
"Pernah ..." hampir berbarengan kami bertiga menjawabnya
"Apalagi ketika saya sedang mendapatkan masalah dan kesempitan" saya mencoba memperjelas.
"Sama Bah, saya juga akan sangat berlama-lama sujud sambil menangis dan menumpahkan segala beban diri" Warso menambahkan
"Bahkan saya mengkhususkan sholat tahajud untuk hal-hal yang memberatkan pikiran saya" Daslam tidak mau kalah.
"Bagus itu kalo kalian bisa meneteskan air mata ketika sholat. Tapi apa ya ketika susah saja kalian bisa nangis dalam sholat ?
"nggih Abah ..."
"Sekarang kita balik, pernahkah kamu ketika merasa bahagia, nangis dalam sholat?". Tidak satupun dari kami yang bisa membuka suara. Saya bergeming diam karena memang belum pernah mengalaminya. Dan sepertinya kedua sahabat saya mengalami hal yang sama seperti yang saya rasakan.
"Belum pernah terbersit dalam pikiran saya, Bah ?"
"Saya juga belum memahami " sela Warso
"Nah, ketika kalian mampu meneteskan air mata dalam kondisi apapun, baik senang maupun susah, itu artinya sholat kalian benar-benar menyatu dalam komunikasi indah dengan penciptaNya. Sebuah keadaan kekhusyukan yang sangat bermakna. Karena suasana hati dan kondisi diri sudah tidak terpengaruh lagi, semua sudah terkalahkan karena kalian berada pada wilayah kenikmatan sholat"
"Saya belum memikirkan sejauh itu Bah" kata Daslam sambil membetulkan poisisi duduknya lebih mendekat pada Abah Kyai, karena merasa sangat tertarik dengan apa yang disampaikan.
"memangnya bagaimana melakukan seperti itu" Warso tidak sabar mendengarkan kelanjutannya
"Abah nanya lagi pada kalian, apa pengertian khusyu' dalam sholat menurut kalian?
"berkonsentrasi dalam sholat"
"tidak memikirkan lainnya selain sholat"
"membaca dengan benar". Jawaban kami macam-macam sesuai dengan apa yang kami pahami dan apa yang kami alami.
"semua sudah kalian lakukan ?"
"saya berusaha melakukannya, tapi seringkali pada saat-saat tertentu, konsentrasi saya berubah-ubah. bahkan bisa jadi saya ndak nyadari apa yang saya lakukan"
"Itu wajar, Mo semua orang sering mengalami hal semacam itu. Sebenarnya sholat yang khusyu' itu bisa kita latih setiap kita sholat, sampai kita benar-benar merasakan makna sholat, bahkan kita nanti akan bisa menyimpulkan bahwa memang sholat adalah ibadah yang sangat luar biasa. Ketika itu, kita akan merasakan benar bahwa sholat memang bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar. Sholat dan sabar adalah sebagai penolong kita ketika dalam masalah. Sholat adalah tiang agama, Sholat adalah amalan pertama yang ditanyakan di hari akhir kelak, Sholat membersihkan jasmani dan ruhani kita, dan masih banyak makna yang terkandung dalam sholat untuk kehidupan kita, baik secara pribadi maupun sosial"
"Subhanalloh, semoga kita bisa menemukan kondisi penyimpulan yang seperti itu ya. Terus, langkah apa yang harus kita lakukan Bah ?
"Ada tiga hal yang harus kalian lakukan untuk hal itu.
Pertama,
Sholatlah tepat waktu bahkan kalian sebagai laki-laki berkewajiban sholat jamaah di Masjid ato surau terdekat.
Kedua,
Gerakan sholat kalian harus benar dan sesuai yang dicontohkan baginda Rasululloh SAW, dan
ketiga kalian harus
benar-benar tahu apa yang kalian baca, juga mengerti akan artinya. Dengan ketika itu, kita bisa menyatukan dalam sebuah kekhusyukan yang bermakna.
"Mohon dijelaskan satu persatu Abah ..."
"Pertama sholatlah tepat waktu, ini akan membiasakan kita untuk istiqomah menjalankan sholat, karena dengan itu ada sangat banyak kebaikan yang akan kita dapatkan. Salah satunya adalah kita Insya Alloh akan diringankan untuk
'mencintai shalat'. Dan dengan itu, kita akan menjadi ringan melakukan sholat apapun, baik yang wajib maupun yang sunat"
"Tapi kalo sholat berjamaah, apa kita bisa khusyu' dan menangis. Karena terkadang Imam sholat kita justru memimpin sholat bagaikan kilat. Kita belum sempat tuma'ninah, Imam sudah melakukan gerakan sholat berikutnya"
"Iya Bah, dulu waktu saya merantau juga begitu, saya memutuskan sholat sendirian di rumah, karena Imam Masjid di tempat tinggal saya kurang bisa memimpin sholat dengan baik"
"Maksudmu apa to Das, kok ada Imam sholat yang seperti itu" tanya Warso
"Lha gimana kita mo mengikuti di belakangnya dengan baik, lha wong yang diucapkan seperti sudah hafal diluar kepala. Bahkan saya pernah berpikir, jangan-jangan dia ngucapkan dalam hati,
Yaa... Alloh bacaannya seperti yang tadi .... lha kan parah ...." Daslam berkelakar
"wuih kamu bersu'udzon ..." tukas Warso
"Ndak, cuman menggambarkan saja, karena begitu cepatnya sholat yang dilakukan. Apalagi kalo lagi musim shalat tarawih. lebih parah tuh. Masak setelah surat setelah Al Fatihah, cuman baca
Yaa ... siiin ..., terus rukuk.
"wah kalian semua ngelantur, biarkan Abah meneruskan penjelasannya" Saya mencoba meluruskan pembicaraan
"Kalo kalian terbiasa khusyu', Insya Alloh bisa saja. Tentu, untuk melatih kekhusyukan sholat lebih nyaman ketika kita sholat sendiri, apalagi jika kalian terbiasa menegakkan qiyamul lail. Terbiasa melakukan tahajud di sepertiga malam. Dalam kondisi yang sangat hening, tenang, kalian bisa melatih kekhusyukan. Jadi semua kalian awali terlebih dahulu dengan sholat tepat waktu, lalu kerjakan sholat rawatib dan jika itu sudah terbiasa, fa Insya Alloh kalian akan kalian akan mendapatkan nur hidayah yang tercurah ke dalam qolbu kalian. Yang dengan itu akan menumbuhkan kecintaan pada shalat. Ketika itu, akan menjadi modal yang sangat penting dalam mencapai kenikmatan dalam sholat. Kalian akan merasakan 'surga' di dalam sholat
"surga dalam sholat ?
..... ................ bersambung (kata Kang Sukadi : sebisanya, sesempatnya. maklum, masih 'lelah mata')
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ