Senin, 27 Februari 2012

Gombyor dan Lontong

Gombyor, udah tahu nggak istilah ini. Pemakaian kata ini seringkali dikaitkan dengan sesuatu yang longgar, melegakan. Bisa dikaitkan dengan pakaian, tapi ada juga yang menggambarkan kondisi kulit seseorang yang banyak lemak dan tidak pernah berolah raga, entahlah apa istilahnya ini. Saya akan menulis yang berhubungan dengan pakaian saja.

Mbak Dwina Bintang Air memberikan komentar dengan menggunakan kata gombyor pada postingan saya sebelumnya. Beliau begitu nyaman jika menggunakan pakaian yang gombyor, walopun  cuaca sangat panas.
Dulu saya pernah 'ditegur' seorang sahabat ketika sholat jamaah di masjid karena saya pake celana 'biasa'. "Pak, sebaiknya kalo sholat, kita pakai pakaian yang menutup bentuk [maaf] pantat kita. Pakai baju yang atas yang gombyor, ato paling tidak minimal pakai sarung. Itulah pakaian yang pantas untuk menghadap Sang Khalik". Itulah kurang lebih yang disampaikan ke saya tahun 90-an akhir. Saat itu, saya berpikir, halah soal pakaian saja kok sampe njlimet seperti itu, lha wong yang saya kenakan saja sudah pantas, bersih dan menutup aurat. Kok mikirnya sampai sejauh itu.

Dengan bertambahnya waktu dan terbukanya pemikiran, saya mulai mengiyakan apa yang disampaikannya. Ternyata, sholat dengan minimal menggunakan sarung, bahkan lebih bagus lagi jika dipadu dengan pakaian atas berupa gamis, semua memberikan kenyamanan selama menjalankan shalat. Duduk, sujud dan berdiri begitu gampang dan leluasa.

Memakai pakaian gamis ditempat saya sudah bukan hal yang eksklusif lagi, berapa jamaah sudah terbiasa menggunakannya. Berpakaian seperti ini, saya memandangnya dari segi kenyamanan dan lebih pantas. Apalagi jika kita gunakan sesuai dengan waktu dan kemanfaatannya. Ini untuk menepis anggapan, berpakaian seperti itu ingin diliat lebih alim ato istilah sejenisnya. Bahwa pakaian yang dikenakan  seseorang tidak menggambarkan keimanan seseorang. Bahkan bisa jadi, dengan berpakaian seperti itu tujuannya bukan untuk kepantasan dan kenyamanan saja, tapi untuk riya', ini yang dikhawatirkan jika kita tidak siap menggunakan pakaian seperti itu. Kita tahu bahwa riya' termasuk kesombongan dan perbuatan syiri'. Naudzubillah.

Istri saya juga terbiasa menggunakan pakaian yang gombyor, termasuk jilbabnya. Memakainya juga nggak ribet, dan kalo keluar rumah juga nyaman walopun cuaca panas. Kekurang nyamanan para pengguna jilbab, kalo saya perhatikan karena mereka menggunakan jilbab yang ketat, jilbab yang sesuai dengan bentuk kepala atao yang sejenisnya. Memang dari segi modis sih sangat bagus, tapi dari segi kenyamanan apa yang bisa memberikan kelegaan rasa. Apalagi jika jilbab funky dan dipadu dengan pakaian dan celana yang ketat, apa yang memberikan rasa nyaman dalam beraktivitas. Lagian kalo berjilbab, tapi masih memamerkan bentuk tubuhnya, apa ya ini sudah benar menurut syar'i?.
Saya jadi ingat lontong. Makanan ini dibungkus dengan daun pisang dan padet. Kalo bungkusnya kita buka, maka bentuk dalamnya akan sama persis dengan yang kita lihat dari luar. Apakah akan seperti itu jika kita berpakaian ketat. Selain tidak nyaman, pakaian seperti lontong akan tetap membentuk tubuh yang bisa 'dilihat orang lain. Apakah sampean merasa nyaman jika orang lain memperhatikan tubuh kita ?. Jawabannya tentu akan kembali ke pribadi masing-masing. Apa tujuan utama dalam berpakaian. Ingin menutup aurat dengan baik dan benar, ato ingin mengikuti perkembangan mode, ato ingin berpenampilan untuk orang lain. entahlah setiap pribadi punya jawabannya sendiri-sendiri.



Kalo saya, pada waktu dan tempat tertentu juga menyukai pakaian gobyor, terutama pemakaian sarung. Ini mungkin karena kebiasaan saya sejak kecil yang terlahir dikampung yang orang-orangnya tidak bisa lepas dari penggunaan sarung. Dan tidak heran, saya punya 3 sarung yang digunakan untuk kepentingan berbeda. Satu khusus untuk sholat, walo kadang dipadu dengan baju gamis. Satu untuk santai, terutama sehabis mandi sore, jika tidak keluar rumah kebiasaan saya adalah menggunakan sarung.
dan sarung satunya, khusus untuk tidur.
Tahu kenapa ?
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jumat, 24 Februari 2012

Lamaran

Ada sedikit perubahan dari tampilan blog sederhana ini, sejak jum'at kemarin sore sudah muncul umbul-umbul. Beberapa bulan lalu juga pernah ada, sebagai hadiah dari sahabat baik saya Kang Ferdinand, Juragannya DJ Site. Tapi nggak sampai sebulan sudah kena pangkas secara massal.

Sebulan lalu, Kang Ferdinand SMS, supaya saya ikut ngajukan lamaran sendiri ke google, karena sudah support untuk konten berbahasa Indonesia. Dan dengan semangat, sayapun mencoba mendaftar ke sini.
Karena akun sebelumnya sudah dibanned, maka sayapun ndaftar dengan membuat akun gmail yang baru. Trur ngisi 'formulir' yang sesuai dengan nomer KTP, termasuk nope, tentunya semua harus asli.
Dan setelah dua hari ngajukan lamaran, tepatnya 3 pebruari 2011 lalu, dapat kiriman emaildari si Mbah:
Kami telah menyelesaikan sebagian tinjauan permohonan Anda dan Anda dapat
mulai menempatkan kode AdSense di situs Anda. Untuk membantu Anda mulai
menggunakan Google AdSense secepatnya, kami akan melakukan peninjauan
lebih lanjut setelah Anda menempatkan kode AdSense pada situs Anda. Kami
akan memberitahukan persetujuan penuh atau penolakan dalam waktu empat (4)
hari kerja.


Perhatikan bahwa pada awalnya Anda tidak akan melihat iklan sesungguhnya,
yang tampak hanya iklan kosong, kotak unit iklan yang berpadu dengan warna
latar belakang laman web Anda. Hal ini terjadi karena akun Anda masih
dalam peninjauan. Kami tidak dapat menyelesaikan proses peninjauan
permohonan Anda sebelum Anda menempatkan kode AdSense pada situs Anda, dan
mengirimkan permintaan iklan kepada kami.
Karena saya masih belum begitu ngeuh dengan urusan beginian, maka dengan susah payah, saya ikuti petunjuk yang diberikan, yaitu masuk akun google adsense melalui gmail yang saya daftarkan. Trus mengambil kode untuk ditempel di blog yang saya ajukan.

Setelah nempelkan kode iklan dengan cara masuk dasboard --> Rancangan --> Elemen Laman --> Tambah Gadged --> HTML/Java Script, pastekan kode yang kita copy dari dasbor akun adsense, simpan.
Trus nggak seberapa lama blog kita akan muncul iklan, tapi ini hanya sementara. Selanjutnya tempat iklan tersebut akan kosong tanpa tulisan maupun untuk beberapa hari. Ini karena lamaran kita sedang ditinjau ulang. Dan setelah saya nunggu hampir 3 minggu, barulah dapat email persetujuan, lamaran saya diterima dan secara otomatis iklan ditayangkan.

Karena saya masih taraf pemula dalam urusan beginian, hanya sampai disini saja pengetahuan saya. Saya dengar, untuk mendapatkan PIN dan cring-cring masih perlu bersabar. Bagi saya, diterimanya lamaran ini pada tahap awal, sudah sangat positip bagi saya karena menambah semangat dalam ngeblog. Perkara nanti umbul-umbul ini tetap berkibar ato suatu saat kena banned, itu urusan kesekian.

Dulur-dulur yang belum ngelamar, monggo kita mencoba menghias blog kita dengan umbul-umbul, gampang kok, kalo masih bingung dari apa yang saya tulis, klik saja disini ada sekolahnya. Kalo dulur yang sudah ahli dalam urusan beginian, ya monggo nambah-nambah tips di kotak komentar sehingga memberikan wawasan pada saya untuk lebih baik.
Tapi jangan seperti teman saya yang SMS tempo hari yang isinya pingin ngelamar dengan tujuan lain, pingin punya anak sulung lagi, looooo siap-siap dibanned sama bininya.
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Senin, 20 Februari 2012

Ketika Antri di Kantor Pajak

Begitu masuk ruangan, pencet tombol dan dapat nomer urut 147, sementara display terpanggil nomer 135. Masih 12 antrian lagi,  dan sayapun mencari tempat duduk yang kosong. Ngurus SPT dan SSP di kantor pajak mendekati tanggal 10 paling rame. Dan sayapun mbuka hape mbaca-mbaca update teman, sambil mulai mengantuk karena abis sarapan pagi, berada di ruang ber AC.

Kira-kira mata sudah sangat ngatuk, tiba-tiba ada suara merdu, "permisi Pak .." dan sayapun membuka mata, karena saya merasa itu disampaikan ke saya. "oh silahkan ... silahkan ..". Dan seorang perempuan paruh baya itupun duduk dekat dengan saya, karena di situlah satu-satunya kursi yang tersisa. Sementara sayapun kembali memainkan hape, karena rasa kantunya berkurang. Ini bukan karena kehadiran cewek itu lo, tapi tadi agak kaget ketika disampa. Mak pyar ... darah mengalir ke kepala.

Sepuluh menit berikutnya, keliatannya dia mulai ndak tenang duduknya. Sebentar-bentar ganti posisi, sebentar-sebentar membetulkan pakaiannya. Sepertinya dia merasa nggak nyaman dengan cara duduknya. Yang tentu saja dengan kondisi seperti itu, pakaian yang dikenakan tidak mendukungnya. Maksud saya begini, beuuhh kok susah amat nyusun kalimat kalo berhubungan dengan yang seperti ini. Gampang gini, dia duduknya nggak nyaman karena bagian-bagian tubuhnya akan kelihatan orang lain. Nah ... udah saya tulis, gitu aja kok repot.

Tapi ingat, saya ndak memanfaatkan situasi seperti itu loh. Justru dengan sikapnya saya merasa lebih ndak nyaman lagi. Pingin pindah tempat, sepertinya ndak sopan, dan akhirnya sayapun tiduran mejamkan mata sambil nunggu kesempatan pindah.

Begitulah yang sering kita temukan di luar. Kalo ada seseorang merasa ndak nyaman atas pakaian yang dikenakan dan sibuk nutup-nutupi bagian yang terbuka karena 'takut' orang lain ngeliat. Pertanyaannya adalah, ngapain  pakai pakaian seperti itu kalo yang bersangkutan nggak Percaya Diri. Maka jangan nyalahkan orang lain, kalo orang lain merasa mendapatkan tontonan atas apa yang dilihatnya. Tentu kalo seseorang dengan sengaja berpakaian seperti itu dengan tujuan mempertontonkan pada orang lain, maka yang bersangkutan nggak akan kebingungan dengan posisi duduk atopun berjalan, bahkan bisa jadi akan merasa nyaman kalo orang lain memperhatikan, entahlah.

Alhamdulillah, Islam telah memberikan petunjuk yang sangat mulia bagaimana kita berpakaian yang baik, “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Q.S.Al- A’raaf:26).

Tuh kan, nggak hanya pakaian secara fisik sebagai penutup aurat, tapi yang lebih utama lagi adalah pakaian taqwa. Hidup kita akan lebih indah jika kita mampu menutupi aurat dengan baik dan benar, juga kita selalu berusaha memberikan ruhani kita dengan pakaian ketaatan dan ketertundukan pada Alloh Ta'ala. Jika ruhani kita sudah terhiasi dengan baik, maka insya Alloh akan mudah bagi kita berpakaian yang baik dan benar sebagaimana disebutkan di ayat tersebut.
***
Lama-lama sayapun merasa nggak nyaman dengan kondisi seperti ini, dan tiba-tiba tuiiinng ada bohlam bersinar di atas kepala, ide muncul. dan sayapun permisi ke toilet. Ini cara yang enak untuk pindah tempat tanpa menyinggung orang lain. Dan sayapun menuju ke lokasi pembuangan walopun cuman muter ke dalam karena memang ndak pingin berhajat. Untungnya toiletnya bersih dan harum, karena pewangi ruangan. Kalo bau aslinya sih kita semua pasti tahu.

Setelah rasa saya waktunya pantas orang orang yang ada keperluan ke toilet, sayapun kembali ke ruangan. Begitu akan duduk terdengar pengeras,
"nomer antrian 150 di meja 4..."
weks .... ngantriii lagiiiii
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Jumat, 17 Februari 2012

Solitaire dan Sendiri | di Bumi Katulistiwa

Pertama kali main game Solitaire kalo ndak salah di PC pertama yang saya beli sekitar tahun 1996. Walo cuman klak klik kartu remi,  hampir tiap malam saya memainkannya. Apalagi jika sudah malam minggu, bersama dengan salah satu sahabat, kami bergantian memainkannya  sampai pagi hari. Maklum, inilah PC dengan windows 95 pertama, yang saya miliki dan berwarna. Walo berprosesor AMD yang waktu itu setara dengan Pentium 75, benar-benar membuat kami kemaruk. Lha gimana ndak, lha wong sebelumnya terbiasa PC yang ndak ada Hardisknya, semua data disimpan di disket, hitam putih lagi.

Leluasa bermain game Solitaire, karena waktu itu kondisinya sangat mendukung. Saya  masih tinggal sendiri. Satu-satunya hiburan yang menemani keseharian di kota yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. kota tujuan yang ndak pernah saya rencanakan sebelumnya, Pontianak Kalimantan Barat.

Tahun 1993, setelah lulus saya bertekad 'keluar' dari rumah mencoba hidup mandiri tanpa menggantungkan pada orang tua. Dan alhamdulillah, nggak sampai sebulan setelah nebar lamaran, akhirnya datang tawaran kerja."Saat ini ada lowongan, tapi di Pontianak" begitu Boss menyampaikan ketika saya dipanggil wawancara. Tentu rasa senang sangat luar biasa, karena itulah pertama kali saya diterima kerja.
"Alhamdulillah, tapi bolehkan saya membicarakan dengan keluarga saya, Bapak ?" dan untungnya Boss memberikan kesempatan atas penawaran yang saya sampaikan.

Soalnya yang namanya Kalimantan, waktu itu benar-benar ndak pernah saya pikirkan. Informasi yang masuk dari tetangga saya, bahwa Kalimantan itu sama dengan hutan belantara, sepi dan barang-barang mahal. Selain itu, informasi saya dapatkan dari TVRI, seputar acara dari desa ke desa ato tayangan Pak Harto yang tiada henti-hentinya tiap hari. Jaman itu Pak Harto sampai-sampai dijuluki Bapak Pembangunan, karena kiprahnya yang kita lihat di tipi seperti itu. TV swasta masih ada 3 RCTI, SCTV dan TPI, belum sampai terjamah meluas.

Akhirnya, setelah istiharah, dan dengan berbagai pertimbangan dan tekad mencari pengalaman, maka berangkatlah saya ke Pontianak sendirian, dengan bekal selembar kertas alamat. Semua biaya perjalanan sampai ke Pontianak, ditanggung beres, termasuk akomodasi dan perumahan. Enak kan ?. Karena penerbangan Surabaya - Pontianak belum ada, sayapun berangkat menuju Jakarta dengan bis, sendirian. eh endak ding, kalo ndak salah bareng-bareng sekitar 30 orang lebih, tapi nggak saling kenal. Kita cuman senyam-senyum kalo pas saling tatap wajah. Hanya teman sebangku yang kebetulan seorang nenek yang juga sendirian menuju Jakarta.

Maka, sampailah saya ke Bandara Sukarno Hata. Inilah penerbangan pertama yang saya lakukan, makanya begitu masuk kawasan bandara ada beberapa istilah penerbangan yang belum saya pahami. Malu bertanya, maka jangan bertanya. Maka saya pun ndak malu-malu nanya, gimana supaya badan kerempeng ini bisa nyampe di kota tujuan. Dan pilihan saya waktu itu adalah pesawat bercat hijau, Bouroq Airlines. Tiket langsung saya beli, lalu menunju ke ruang tunggu. Karena masih capek perjalanan dengan bis,  saya malah tertidur di ruang tunggu sampe-sampe dibangunkan petugas karena orang-orang di sekitar saya sudah masuk pesawat. Glek ... setengah tergesa saya masuk kedalam pesawat, maklum sendirian.

Sekitar satu jam lebih dikit, sampailah di Bandara Supadio. Sengaja saya keluar terakhir, sambil memperhatikan gimana dan apa yang akan dilakukan orang-orang kalo turun pesawat. Dengan cara inilah saya belajar. Ndeso. Biar nggak bingung, sayapun naik taksi menuju ke kota Pontianak, seingat saya waktu itu saya mbayar Rp 15.000. Dan ternyata Kota Pontianak tidak seperti yang saya bayangkan, karena cukup ramai juga. Ini point plus sendiri bagi saya untuk lebih membuat saya lebih kerasan.

Di kota ini ndak ada satupun yang saya kenal. Awalnya sendiri dan merasa asing di kota Katulistiwa. Dan Alhamdulillah, pada akhirnya setelah lima tahun, justru di tempat inilah saya menemukan banyak hal. Pengalaman hidup dan persodaraan.

Bahkan sampai saat ini hampir 14 tahun meninggalkan kota itu, ada banyak kenangan yang terbentuk. Dan dikota itulah saya pertama kalinya dan terakhir kalinya  memainkan game  Solitair. Karena sejak saat itu sampai sekarang saya belum pernah memainkan lagi, karena permainan itu mengingatkan sahabat baik saya yang telah berpulang ke rahmatulloh tahun 2008, karena Leukemia. Selamat jalan sahabat, semoga Alloh memberikan kemudahan dalam segala urusan di alam kubur dan akhirat.
***
Tulisan ini saya partisipasikan pada Giveaway : Pribadi Mandiri. Yang diselenggarakan sahabat baik saya, Mbak nicamperenique dan Mbak ImeldaBukan kemenangan yang saya cari, tapi kebersamaan dan silaturrahim yang saya dambakan.

Rabu, 15 Februari 2012

Sambil ngobrol dan saling senggol

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 Shalat isya' di masjid kemarin, saya berada diposisi tengah. Sebelah kiri dua anak usia SD, sebelah kanan 2 anak yang juga sebaya. Sejujurnya, kosentrasi saya sedikit terkaburkan karena 'aktivitas' mereka berempat selama menjalankan shalat. Dua pasang sebalah kiri, dari rakaat pertama sampai salam, tidak henti-hentinya cekikikan sambil sesekali saling senggol-sengolan badan yang beberapa kali berefek karambol pada tubuh saya. Tapi saya nggak ikutan cekikikan, entar apa jadinya suasana masjid kalo saya ikutan seperti kedua anak ini.

Sementara sepasang bocah di sebelah kanan, dari rokaat pertama sampai akhir asyik ngobrol gayeng. Mereka tetap mengikuti gerakan-gerakan shalat dengan benar, hanya saja mereka sibuk berdiskusi serius. Yang dibicarakan seputar game online, yang saya sendiri nggak paham apa yang mereka bicarakan. Lha kalo saya paham, berarti kosentrasi saya terseret ke dunia maya.

Ada dua sisi yang serba repot dari masalah ini. Pertama, kehadiran anak-anak adalah aset masjid sebagai pemakmur masjid di saat ini, maupun ketika mereka dewasa. Karena memakmurkan masjid merupakan keutamaan, sebagaimana dalam Al Qur'an Surat At-Taubah 18.

Disisi lain, kehadiran anak-anak kecil, tidak jarang bertinggal yang macem-macem, seperti dunianya, bermain-main. Yang tanpa mereka sadari, aktivitas mereka bisa mengganggu jamaah lainnya dalam menciptakan kekhusyukan. Dalam riwayat dari Al-Bayadhi ra, bahwa Rasulullah SAW pernah keluar menemui orang-orang yang sedang mengerjakan shalat, sementara suara mereka terdengar keras membaca al-Qur’an, maka beliau bersabda:“Sesungguhnya orang yang shalat itu bermunajat kepada Rabb-nya, karenanya hendaklah dia memperhatikan dengan apa dia bermunajat. Dan janganlah sebagian kalian mengeraskan suara atas sebagian yang lain dalam membaca al-Quran.” (HR Imam Malik dan Ahmad)

Lalu, saya akhirnya berpikir bahwa selama ini mengajak si Balita Muhammad Akmal Ibrahim untuk berjamaah di Masjid harus saya 'kaji' ulang. Saya sangat merasa anak umur 3 tahun belum saatnya paham bagaimana adap kesopanan yang baik dan benar jika berada di dalam masjid. Kalo Mas Rio dan Mas Eza, justru saya 'wajibkan' jamaah di masjid, karena mereka sudah mengerti bagaimana tata krama adab kesopanan sholat berjamaah, baik yang dia dapatkan di sekolahnya yang berlabel IT maupun ketika kita ngobrol di rumah.


Disatu sisi, saya ingin membiasakan si kecil Akmal untuk terbiasa dan mencintai masjid, sebagaimana dua kakaknya. Dilain pihak, ternyata saya sendiri belum bisa mengarahkan yang benar untuk anak seusianya. Walopun dia selalu di samping saya, tapi terkadang tergoda untuk berlarian di depan jamaah lainnya. Padahal, melintas di depan orang sholat sangat tidak diperbolehkan. Dari Abu Juhaim Ibnul Harits Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Seandainya orang yang lewat di depan orang yang sholat mengetahui dosa yang akan dipikulnya, maka ia lebih baik berdiri empat puluh hari daripada harus lewat di depannya." Muttafaq Alaihi dalam lafadznya menurut Bukhari. Menurut riwayat Al-Bazzar dari jalan lain: "(lebih baik berdiri) Empat puluh tahun." 

Biarlah untuk sementara si kecil shalat dengan Bundanya di rumah. Insya Alloh kelak kita ajak lagi jika dia sudah benar-benar bisa mengerti, dan bisa kita arahkan bagaimana beradap yang baik di masjid. Maka tidak heran jika Rasululloh SAW memerintahkan shalat diusia 7 tahun, Dari Amru bin Syu'aib dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perintahkan anak-anakmu untuk shalat pada usia 7 tahun. Dan pukullah pada usia 10 tahun." (HR Abu Daud).

Insya Alloh diusia tujuh tahun,  si anak sudah mulai bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak. Sehingga ketika kita mengatakan bahwa berbicara dan guyon ketika shalat berjamaah tidak dibenarkan, maka Insya Alloh anak-anak kita akan mengerti. Apalagi jika sejak usia dini sudah biasa melihat orang tuanya sebagai teladan dalam menjalankan kebaikan.

Maka dengan itu, kita sangat berharap semoga dihati anak-anak kita tertanam kecintaannya pada Masjid. Bahwa masjid itu adalah rumah setiap orang yang bertaqwa. Diriwayatkan dari Abu Darda ra, bahwa Allah memberi jaminan kepada orang yang menganggap masjid sebagai rumahnya, bahwa ia akan diberi ketenangan dan rahmat serta kemampuan untuk melintas shirathal mustaqim menuju keridhaan Allah, yakni syurga (HR. Thabrani dan Bazzar.)

Dan dengan pembelajaran dan teladan yang  yang baik, Insya Alloh kita bisa mendidik anak laki-laki kita untuk mencinati masjid dan  sholat dengan baik. Setiap terdengar adzan berkumandang, kita dan anak-anak mampu menjawab dengan baik. Jawaban yang tidak hanya berupa lisan, tapi tindakan dengan mendatangi secara langsung masjid untuk shalat berjamaah. Terpenting lagi, anak-anak bisa kita ajarkan untuk tidak  sholat sambil ngobrol dan sambil senggol. Semoga, amin


***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
.

Senin, 13 Februari 2012

Tiga Tempat Bersujud

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
 
Sama halnya dengan Kang Nurudin Abi Sabila, kalo saya ditanya kemana tempat yang paling ingin saya datangi adalah Makkah, Madinah dan satu lagi Masjidil Aqsho. Walo dua tempat itu alhamdulillah sudah pernah saya datangi, masih saja setiap hari, hati ini merindukannya. Bahkan kerinduan itu bertambah-tambah, ketika musim haji tiba ato mendengar tetangga berangkat umroh. Ini bukan masalah iri, bahkan saya merasa sangat senang jika ada sodara ato tetangga yang berlomba-lomba dengan tulus ikhlas mencari ridho Alloh dengan menunaikan ibadah haji ato menjalankan umroh.

Lalu, kenapa saya ingin bersujud di tiga tempat suci ini ?. Tidak lain karena, sebuah hadits dari Abu Hurairah Radiallahu Anhu dari Nabi Muhammad Sallallhu 'alaihi Wasallam  sabdanya : "Tidak dianjurkan mendatangi suatu tempat dengan maksud mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah, kecuali ketiga masjid. Masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha (HR. AL Bukhori dan Muslim)

Ummul Quro Makkah Al Mukarromah
Adalah tempat yang sangat beruntung di muka bumi ini. Karena tempat ini mendapatkan banyak keutamaan. Dr. Thalal bin Muhammad Abu An Nur telah menyusun sekitar 40 hadits tentang keutamaan kota Suci Mekkah.Yang kalo saya ambil garis besarnya, adalah:
  1. Terdapat Baitulloh, sebagai kiblat dan tempat peribadatan kaum muslim. Ibnu Abbas ra menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya Allah menurunkan 120 rahmat untuk para penziarah rumah-Nya (Ka’bah) yang suci, 60 rahmat diberikan kepada orang-orang yang thawaf, 40 rahmat kepada orang-orang yang melakukan shalat, dan 20 rahmat diberikan kepada orang-orang yang memandang rumah-Nya" (Hadist Hasan riwayat Baihaqi).
  2. Terdapat Hajar Aswad, Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersada, “Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak.” (HR Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).
  3. Terdapat Masjidil Haram, yang merupakan masjid pertama yang dibangun di permukaan bumi. Sekali shalat di sini, memiliki 100.000 kali keutamaan jika dibandingkan dengan masjid lain. Saya mencoba menghitung, jika kita shalat 1 kali di masjdil Haram itu Insya Alloh sama dengan kita sholat berjamaah di masjid tanah air selama dua tahun berturut-turut tanpa pernah putus. Subhanalloh. 
  4. Terdapat sumber mata air terbaik yang ada di bumi, yaitu air Zam Zam.  “Air zam-zam bermanfaat untuk apa saja yang diniatkan ketika meminumnya. Jika engkau minum dengan maksud agar sembuh dari penyakitmu maka Allah menyembuhkannya. Jika engkau minum dengan maksud supaya merasa kenyang maka Allah mengenyangkanmu. Jika engkau meminumnya agar hilang rasa hausmu maka Allah akan menghilangkan dahagamu itu. Ia adalah air tekanan tumit Jibril, minuman dari Allah untuk Ismail.” (HR Daruqutni, Ahmad, Ibnu Majah, dari Ibnu Abbas). 
  5. Merupakan  Tanah Haram (disucikan) sampai hari kiamat
  6. Tidak pernah bisa dimasuki Dajjal, dari Anas bin Malik ra, Nabi SAW bersabda, "Tidak ada suatu negeripun yang tidak akan dijejaki oleh Dajjal kecuali Makkah dan Madinah ...(HR At Tirmidzy dan Imam Ahmad, dan dishahihkan oleh Albany).
  7. Di Tanah Suci ini pula tempat lahirnya risalah dan turunnya wahyu, yaitu Al Qur'an.
Maka tidak heran, ketika kita memasuki tanah suci Mekah, suasananya amat menyejukkan hati. Apalagi ketika memasuki lingkungan Masjidil Haram, ingin rasanya hidup ini terus berada di situ, karena tidak ada sedetikpun waktu terlewat selain untuk mendulang pahala kebaikan. Shalat, thawaf, tilawah, berdzikir, bersedekah, dan apapun kebiasaan-kebiasaan shalih lainnya.

Demikian pula ketika kita berada di Madinah Al Munawaroh. Kota yang sangat identik dengan Baginda Rasululloh SAW ini juga merupakan kota yang sangat istimewa. Ketika kita berada disekitar Masjid Nabawi, ketenangan dan kenyamanan bisa kita rasakan. Bahkan keharuan akan menyentuh nurani kita, ketika kita berziarah ke Makam Rosululloh SAW dan dua orang sahabatnya Abu Bakar  ra dan Umar bin Khatab Ra yang berada di dekat Roudho.

Selain sebagai Tanah Haram, keistimewaan shalat di Masjid Nabawi ini adalah memiliki keutamaan 1000 kali jika dibandingkan dengan shalat di tanah air. Roudho adalah merupakan bagian dari Masjid Nabawi yang tidak pernah sepi dari orang-orang yang bermunajad, karena merupakan salah satu tempat yang mustajabah. Maka tidak heran, di sinilah tetesan air mata dan sesenggukan seringkali terdengar karena nikmatnya bermunajad, dan nikmatnya sujud.

Setiap kali mengingat Masjid Al Aqsho, kesedihan akan menjalar dihati muslimin sedunia. Betapa tidak, masjid yang pernah menjadi kiblat sholat sebelum diperintahkan untuk pindah ke Ka'bah di Masjidil Haram ini, telah menjadi bulan-bulanan Zionis Israel sejak tahun 1967.

Masjid Al Aqsho dibangun oleh salah satu Khalifah pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Abdul Malik bin Marwan. Tujuannya untuk menjaga batu (Shakhrah) yang merupakan tempat Rasulullah berangkat melakukan mi’raj ke langit bersama Malaikat Jibril as.

Tentang Masjid ini tidak banyak yang saya ketahui, hanya rasa penasaran yang sangat tinggi sering kali hadir. Penasaran ingin bersujud di dalamnya. Bahkan, yang sering saya bayangkan adalah mendatangi ketiga tempat itu lengkap dengan istri dan ketiga anak saya. Betapa indahnya surga dunia, jika kami berlima sama-sama bermunajat di tiga tempat bersujud yang sangat istimewa dan penuh barokah ini, semoga amin.
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

tulisan ini saya partisipasikan pada sahabat Una:
Photobucket

Minggu, 12 Februari 2012

Emang Gua Pikirin

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pas enak-enaknya makan siang, hape menyala, trus saya lihat ternyata nomer baru. Agak ragu saya ngangkatnya, soale tangan masih berlepotan dengan nasi. Biasalah, saya kalo makan lebih suka pake tangan secara langsung. Nikmatnya berlebih jika dibandingkan dengan pake sendok. Apalagi kalo di depannya ada lemper sambel terasi yang ditemani ikan asin dan lalapan bikinan istri, fiuhhh nikmatnya dunia.
          "Halo ... selamat siang bapak ", terdengar suara berat, tentu laki-laki, diujung sana. dan sayapun menjawab sesuai dengan salam yang disampaikan. Kalo selamat ya saya jawab dengan selamat, kalo pake Assalamu'alaikum ya saya jawab lebih, 'alaikumsalam warrohmatullohi wabarrokatuh.
          "Iya saya sendiri ..." gitu saya njawabnya setelah suara itu menyebut nama saya.
          "Maaf Bapak, saya dari *** finance, mohon konfirmasi apakah tagihan bulan ini sudah bapak bayarkan ?"
          "Sudah, kebetulan tadi sekitar jam sepuluhan. Memangnya kenapa Pak ?" saya balik bertanya
          "Soalnya di data kami, tagihan bapak belum terlunasi. dan ini untuk kedua kalinya pembayaran bapak lewat jatuh tempo. Ohya Bapak membayar di mana ?".
          "di Kantor Post ..."
          "Minta tolong Pak, nanti bukti pembayarannya disimpan dulu dan disampaikan di kantor"
          "Pak, ini kan cicilan ketujuh, kalo seandainya saya lunasi bisa ndak ya. Soalnya saya paling ribet kalo pas waktunya pembayaran. Karena saya seringkali lupa kalo punya hutang"
          "wah ndak bisa Bapak"
          "Lho kenapa demikian, katanya dulu waktu perjanjian awal setelah cicilan keenam sudah bisa dilunasi"
          "Kalo gitu Bapak datang saja ke kantor Cabang untuk menanyakannya"
          "Lho, ini dari mana ?"
          "Saya dari kantor pusat di Jakarta, Bapak"

itulah penggalan percakapan saya lewat hape. Ya, setelah saya mosting tentang leasing, pada akhirnya saya harus membeli kendaraan roda dua untuk keperluan transportasi ke sekolah, anak yang nomer satu. Mumpung punya tabungan. Sayangnya, saya karus ngredit satu tahun, karena untuk beli cash harus nunggu alias indent. Padahal, kita sangat membutuhkan untuk mobilitas. Uang mukanya pun ndak bisa dilebihkan, maksimal waktu itu 6 juta. Jadi, selama setahun saya harus ngangsur tujuh ratus ribu sekian per bulannya. Masalah lagi muncul, sudah dua bulan terakhir saya terlambat sampai 5 hari dari jatuh tempo, akibatnya setiap pembayaran selalu kena denda.

Insya Alloh saya segera mendatangi kantor cabang si finance. Kalo bisa dilunasi saja, mumpung ada sisa uang tabungan. Biar ndak mumet mikirkan denda, karena lupa membayar. Belum lagi mikir 'bunga' yang seharusnya saya hindari hal-hal yang berbau riba. lah dalah ... makin bertambah usia, makin kebanyakan mikir.
Emang gua pikirin, kata orang jakarta.
***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Rabu, 08 Februari 2012

Ngantuk Sepanjang Jalan

Tidak biasanya, perjalanan Blitar - Malang harus saya tempuh hampir tiga jam dari normalnya dua jam. Sebentar-sebentar saya harus menepi karena nggak kuat nahan kantuk yang amat berat. Permasalahannya agak sepele tapi akibatnya yang bikin ketar-ketir, salah minum obat. Kok bisa ?. Sudah tahu efeknya ngantuk berat kok masih melakukan perjalanan, kan bahaya. Mungkin akan ada banyak pertanyaan yang terjadi.

Semua berawal dari lupa. Senin pagi setelah sarapan nasi pecel bungkusan yang dibelikan di pasar, dengan reflek saya langsung minum 3 obat yang sudah tersedia di dekat meja makan. Obat ini diresepkan dokter untuk mengurangi keluhan otot leher saya yang 'tertarik' (entahlah apa istilahnya) karena tegang selama perjalanan jauh. Akibatnya, kepala sangat pusing, bagian pundak, leher ke atas terasa sangat kaku.

Dokter pernah mewanti-wanti, setelah minum obat, nggak boleh menjalankan kendaraan, karena ada yang sifatnya sedativ (?), tentu saja bisa bikin kantuk berat. Sebenarnya pagi itu saya ndak minumpun ndak masalah, karena keluhannya sudah tidak terasa sejak bangun tadi. Tapi yang namanya lupa. Padahal hari itu juga saya ada rencana ke Malang, selain mencari barang dagangan juga janjian ketemu dengan seorang Pengembang.

Sebenarnya kalo ndak ada janji penting, saya bisa menunda perjalanan kalo kondisi tubuh kurang mendukung. Pertemuan ini nggak bisa ditunda karena untuk bisa ketemu dengan yang bersangkutan, mesti menyesuaikan dengan jadwal yang bersangkutan. Maka dengan mata yang ngantuk dan badan yang lemes, sayapun tetap berangkat ke Malang ditemani Istri dan si kecil Akmal. Sayangnya, istri saya ndak pernah punya keberanian untuk menjalankan kendaraan. Ketika ngantuk sudah sangat, sayapun minggir, menggerak-gerakkan badan, cuci muka, minum kopi, dan entah apalagi yang saya lakukan untuk mengurangi kantuk. Dan Alhamdulillah, dengan cara yang unik ini, kita sampai di tempat tujuan dengan selamat.

Sesampai di Malang dan menyelesaikan semua urusan, sayapun istirahat sampai tertidur pulas. Dan barulah setelah shalat magrib, kita pulang ke Blitar. Kali ini dengan kondisi badan yang lebih seger, maka perjalanan pulang hanya butuh waktu dua jam.

Minggu, 05 Februari 2012

Tidak Melebihi

Entahlah, saya ndak pandai bikin puisi. Ini saya buat hanya dalam waktu tidak lebih dari lima menit, tapi itulah ungkapan cinta saya pada istri tercinta yang telah 17 tahun lebih menemani saya.



dalam jihadmu,


kau berikan tiga amanah


pertaruhan jiwa dan raga


aroma senyumu memenuhi ruang hatiku

 
terlalu luas untuk kuartikan



maka,



tiap hamparan sajadah panjang


teriring do'a menjulang menembus tujuh langit


tebaran keihklasan bersimpuh dalam harap


semoga cinta yang terpatrikan dalam nurani ini


seperti itu selamanya


yang tidak melebihi cinta kita pada Illahi dan Rasul-Nnya
 



Ungkapan Anti Biasa, Ungkapan Dengan HTML
Maaf Pak Mars, ini sekedar penggembira

Jumat, 03 Februari 2012

Terselubung

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Kadang membutuhkan jawaban yang baik ketika ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dilontarkan anak kita. Apalagi jika pertanyaan itu keluar dari anak yang masih berusia 3 tahun kurang dikit. Ya, anak saya Muhammad Akmal Ibrahim yang tanggal 9 pebruari nanti genap 3 tahun pernah berceloteh ketika terdengar adzan isya'
           "Sholat eneh ... sholat eneh, kok sholat terus ?". Sebuah pertanyaan polos yang keluar dari anak saya ketika saya ajak shalat isya' di masjid dekat rumah. Saya menjawab, "karena kita mencintai Alloh, supaya nanti masuk surga". Dan, diapun tersenyum ketika tubuhnya saya rengkuh di gendongan pundak. Ada banyak pertanyaan-pertanyaan lain untuk anak seusianya, seperti kenapa harus shalat di masjid,


Walopun di Masjid, hanya jungkir balik dan terkadang jalan kesana-kemari, saya berusaha membiasakan anak-anak untuk 'mencintai' masjid dengan mendatangi ikut berjamaah. Terkadang saya melihat orang tua bersusah payah menyuruh anaknya untuk shalat berjamaah di masjid, namun yang bersangkutan justru kurang memberikan teladan. Lha gimana anak mo nurut, kalo orang tua tidak melakukan.

Menjaga sholat berjamaah di masjid membutuhkan kebiasaan yang baik, dan tentu saja, ditambahkan adanya hidayah dari Alloh Ta'ala. Namun jika kita tidak menjaganya dengan baik, bukan tidak mungkin kebiasaan shalih itu terlepas dari kita. Karena yang namanya iman,  seperti putaran roda, kadang dipuncak bahkan terkadang berada pada wilayah kehambaran. Itulah ujian yang harus kita jalani.  Nah, saya merasakan di wilayah keimanan yang hambar ketika saya membiarkan diri disibukkan dengan urusan duniawi. Ketika ada terbersit dalam nurani, kenapa begitu cepat adzan datang lagi. Ketika qiyamul lail hanya sebatas pemenuhan rutinitas. Ketika semua nilai ibadah hanya sebatas pemenuhan kewajiban, bukan sebagai kebutuhan diri, ketika tilawah hanya sekedar membaca.

Disinilah saya harus mewaspadai, jerat-jerat tipu daya syetan dan godaan hawa nafsu mulai memudarkan semuanya. Jika tidak waspada,  bisa jadi saya akan terlindas pada bagian bawah perputaran roda itu. Bahkan ketika seseorang berada pada wilayah ini, Harun Yahya dalam bukunya beberapa Rahasia Al Qur'an, mengkategorikan "kemusyrikan terselubung", yaitu jika seseorang lebih mementingkan urusan dunianya, urusan anak-anaknya, urusan dunianya dari pada kepentingan untuk Alloh. Na'udzubillah.

Nah, mari kita berdiskusi dengan diri kita sendiri. Apapun aktivitas kita, berdagang, bekerja kantoran, menunggu panggilan kerja, ngeblog, ato apapun, ketika terdengar panggilan adzan, apakah kita merasa senang, ato seperti pertanyaan anak saya, adzan lagi ... adzan lagi ..., sholat lagi ... sholat lagi ?
Dan semoga kita tidak terkategori yang terselubung menurut Harun Yahya

***
"Semoga kita dimudahkan dalam segala urusan di dunia dan akhirat"
Wallahu a`lam bish-shawab
semoga bermanfaat
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ